
Tama memperhatikan wajah Salia yang terlelap di ranjang rawat nya.
"Om Adi bener juga, ya.. Dia cantik.. Dan polos.. Dia juga sabar.. Tapi sepertinya dia bukan teman main ranjang yang bagus.. Dia malah terlihat tidak tahu soal seks" batin Tama.
Perlahan kedua manik hazel terang itu menunjukkan diri.
Tama mengalihkan pandangannya.
"Refa.. Refaldo.. Ah.. Refa.. Aku telat! " Salia segera membawa ponsel nya. Dia mencari nama Refa di kontak nya.
"Ya Tuhan.. Refa.. "
Tama menaikkan sebelah alisnya. "Dari tadi Refa lagi.. Refa lagi.. Memang nya siapa Refa? "
"Halo.. Refa? Apa kau masih disana? "
"Iya, aku setia menunggu mu"
Kedua pipi Salia merona. "Aku akan segera kesana.. Tapi.. "
Salia melirik Tama. "Aku.. Seperti.. Nya.. Aku.. Tidak bisa.. Refa"
"Tapi, Meisa.. Aku mau menjelaskan semuanya.. Agar kau percaya, Dealova bukan siapa-siapa "
"Apa kau harus menjelaskannya? Aku tidak masalah dengan hubungan mu bersama wanita itu.. Aku bukan siapa-siapa mu.. Kau berhak.. Refa.. " Salia mengakhiri panggilan nya.
Dia terlihat sedih. Tama mengerutkan dahinya. "Apa kau akan berdiam diri disana terus ? "
Salia terhenyak dan dia segera beranjak dari ranjang. "Maaf.. Silakan anda kembali berbaring disana"
"Bukan itu maksudku.. Tapi.. Kekasih mu itu "
Kedua mata Salia terbelalak. "Kekasih? Dia sahabat ku.. Hanya.. Saja.. Ah lupakan "
"Ayo kita pergi.. Sebelum pria itu pergi" kata Tama sambil memperlihatkan kunci mobil nya.
"Hah? Anda mau mengantar saya? "
"Iya, aku merasa bersalah karena memaksamu diam disini untuk ku, jadi ayo sebelum terlambat " kata Tama kemudian beranjak dari duduk nya.
"Tapi kesehatan mu? "
"Aku sudah kembali sehat, berkat kau.. Ayo"
♡♥♡♥♡♥♡
Tama menyetir dengan begitu lambat. Salia sangat kesal. Dan dia tahu pasti Tama belum pulih.
"Emm.. Biar aku saja yang menyetir, aku bisa lebih.. Emm.. Maksudku.. Aku takut kesehatan mu jadi menurun, kondisi mu masih kurang baik. Jadi biar aku saja yang menyetir ya" kata Salia.
"Baiklah, jangan sampai mobil ku lecet" kata Tama.
Salia mengangguk. "Permisi"
Tama bergeser dan Salia juga bergeser di depan Tama. Salia duduk di kursi kemudi.
__ADS_1
"Pakai sabuk pengamanmu, Tn" kata Salia. "Memang nya kenapa? Ini Indonesia.. Bukan Amerika"
"Pakai saja" kata Salia.
Tama enggan memakai nya.
Salia pun melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi. Tama terhenyak dan dia pun segera memasang sabuk pengaman nya.
"Sungguh biadab tenaga dan kelihaian gadis ini " batin Tama.
Rok Salia sedikit menyingkap. Memperlihatkan bagian paha nya yang putih mulus.
Tama tidak melewatkan pemandangan itu. "Oh.. Paha nya menggoda.. Ah! Kenapa aku jadi on! Aku harus segera mencari pelepasan "
Mobil Tama terhenti di depan restoran Surya Jati. Salia segera keluar dari mobil.
Dia melihat Refa bersama Dea memasuki mobil.
"Refa!! "
Refa menoleh. "Meisa!! " dia berlari dan memeluk Salia di depan semua orang.
Tama keluar dari mobil sambil berjalan bongkok menyembunyikan kelelakiannya.
Refa melihat keberadaan Tama. "Meisa, siapa dia? "
"Dia pasien ku.. Refa.. Aku percaya padamu.. Aku percaya " kata Salia. Refa tersenyum.
Salia mengangguk. Namun dia melihat Dealova. "Jadi.. Ke.. Kenapa dia di mansion mu waktu itu? "
"Ceritanya panjang, aku harus membantu nya pergi dari Amerika ke Rusia"
"Apa? Jauh sekali"
"Iya, sekarang tidak ada waktu.. Aku harus segera mengantarnya.. Apa kau mau kembali ke Amerika dengan kami? " jawab Refa di akhiri pertanyaan.
Salia terlihat sedih. "Tidak perlu, aku bertanggungjawab disini sebagai perawat Tn. Pasien itu dan kau bertanggungjawab disana sebagai polisi yang harus menolong masyarakat yang membutuhkan mu" kata Salia.
Refa terlihat kecewa. "Aku pastikan kita akan bertemu lagi "
Salia tersenyum sendu kemudian mengangguk. Refa pun berlalu bersama Dealova.
Tama menghampiri Salia. "Kenapa dia malah pergi dengan gadis itu? Kenapa dia tidak memilih mu? "
"Karena kami sama-sama memiliki tugas.. Tidak apa-apa.. Kami pasti akan bertemu lagi.. Tn" kata Salia.
Tama tersenyum kemudian mengangguk.
♡♥♡♥♡♥♡
Mobil Tama terhenti di pelataran rumah sakit. Salia membantu Tama keluar dari mobil.
Saat keluar dari mobil, Tama terkejut melihat nama besar tertera di gedung rumah sakit.
__ADS_1
Danuarga's Hospital
Deg
Jantung nya berpacu cepat. Tama melepaskan diri dari Salia.
"Aku di rawat di rumah sakit ini?! " geram nya. Salia mengerutkan dahinya.
"Memang nya kenapa? Apa kau tidak tahu? Ayolah kita masuk, kau harus minum obat" kata Salia.
"Tidak! "
Tama memasuki mobil nya kemudian melajukan mobilnya menjauhi rumah sakit.
Salia terlihat bingung. "Pria aneh.. Bahkan aku belum tahu nama nya "
Tanpa ambil pusing , dia memasuki rumah sakit.
♡♥♡♥♡♥♡
Tama menghancurkan semua barang-barang di kamar nya yang mewah.
"Kenapa Om gak bilang kalo selama ini aku di rawat di rumah sakit milik keluarga Danuarga! Aku tidak sudi di rawat disana! Dia sendiri yang menembakku dan aku berobat di rumah sakit nya? Itu sangat menguntungkan dia! " geram Tama.
"Dan ini kejutan kedua" kata Adi sambil melempar sebuah foto ke meja.
Tama melihat foto itu. Ternyata foto Salia sedang memakai seragam SMA.
"Apa kau ingat siapa dia? "
"Dia suster yang merawatku " jawab Tama.
"Ya, di foto itu, dia masih SMA.. Dia adalah putri sulung Michael Danuarga "
Deg
Tama terbelalak. "Apa? "
"Meisalia Michelle Danuarga.. Kebetulan yang Bagus bukan? "
"Keparat! "
"Kita bisa menggunakan putri nya sebagai tameng kita, Tama"
"Aku tidak mau melibatkan gadis itu. Dia tidak tahu apa-apa " kata Tama.
"Tapi Michael membunuh adikmu, adikmu juga tidak tahu apa-apa kan? "
Deg
♡♥♡♥♡♥♡
By
Ucu Irna Marhamah
__ADS_1