
Aryatama*
Sungguh, istriku ini sangatlah cantik. Aku melepaskan boxer ku. Ku lihat dia menutup kedua matanya. Mungkin dia masih shock dengan kejadian itu.
Aku mengambil posisi. "Bersiap sayang " bisik ku.
"Pelan-pelan.. Tama "
Aku memasukkan milikku pelan-pelan.
"Hh.. Tama.. Sakit.. " ringis Salia.
Aku mencium bibirnya agar dia tidak berteriak nantinya. Aku melakukan penetrasi dengan cukup keras.
"Hhhhh!!! Sakitt!! " teriak Salia.
Aku tidak mengerti kenapa dia masih merasakan sakit? Padahal waktu itu aku sudah merenggutnya. Bahkan sekarang dia tengah mengandung anakku.
"Tama.. Kkkauu... Benar-benar jahat.. Ini sakit sekali... Katamu tidak akan sakit lagi.. " ringis Salia dengan air mata mengalir deras membasahi kedua pipi bulatnya.
"Maaf sayang, aku juga tidak tahu.. Tahan yaa" kataku.
Aku mencium lehernya mengalihkan rasa sakit yang mendera daerah intinya.
"Hhh.. Saliaaa... Hhhh" aku mengerakkan pinggulku dengan pelan-pelan.
"Pelan-pelan.. Tama.. Hhh" desah Salia. Seperti nya dia juga mulai menikmati kegiatan ku.
"Hhhh..."
"Tama.. Berhenti dulu.. Aku mau pipis.. Hhh" desah Salia.
"Pipis aja disini "kata ku. "Tama!!! " teriak Salia. Aku merasakan cairan hangat membasahi milikku. Seperti nya Salia mengalami *******.
"Ahhhh terus sebut namaku hhh Saliaaa.. Hhhh" desah ku.
"Tama... Hhh" kuraskan pelukan Salia pada tengkuk ku semakin erat.
"Aahhh sebut namaku dengan keras, Saliaa"
"Aryatama.. Aku.. Hhhh" kurasa Salia mendapatkan puncaknya bertubi-tubi.
"Tama.. Hhhhh aku tidak kuat... " teriak Salia.
Dia terkulai lemas. Mungkin ini kali pertama nya dia bermain ranjang yang sesungguhnya dengan ku.
Aku juga merasakan kalau diriku akan melakukan pelepasan. Aku pun mengeluarkan semua benihku di dalam rahim Salia.
Dan aku pun terkulai di samping Salia. Aku senang Salia tidak merasakan sakit lagi. Aku menatap Salia yang seperti nya sudah tertidur lelap. Aku menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya.
Aku tercengang melihat darah di paha Salia dan darah itu juga ada di paha ku. Kenapa jadi ada darah? Salia bukan gadis lagi.
__ADS_1
Aku segera mengambil tissue dan membersihkan darah yang membasahi paha nya.
Sebenarnya apa yang tejadi? Apa Salia baik-baik saja?
Aku pun membaringkan tubuhku di samping Salia kemudian memeluk Salia dengan erat.
♡♥♡♥♡♥♡
Aku terhenyak dari tidur ku setelah mendengar suara erangan Salia.
Aku bangkit dan melihat Salia terduduk di lantai sambil meringis.
Aku segera menghampiri nya dan membantu dia duduk di tepi ranjang.
"Kamu gapapa? Semalam kamu berdarah " tanyaku.
Salia menatap ku. "Tidak apa-apa.. Ini hanya efek pertama berhubungan seksual dengan mu"
Aku tahu dia dokter, tapi aku tidak yakin dia berkata jujur.
"Pertama? Bukankah kita pernah melakukan hal itu sebelum nya?" tanya ku menyelidik.
"Kau lupa? Aku melakukan operasi selaput dara, karena luka yang kau perbuat itu bukanlah luka biasa" jawab Salia.
Aku merasa bersalah atas peristiwa yang ku lakukan itu. Sekarang Salia yang menderita karena itu.
"Ah tidak perlu, aku akan memesan makanan.. Pagi ini kita akan ke pantai.. Apa kau suka pantai? " tanya ku.
Salia mengangguk kemudian berlalu ke kamar mandi. Aku menghela nafas panjang.
Aku masih memikirkan kejadian kemarin dimana dapur apartemen ku meledak. Apa benar itu karena teror Adinda?
Tapi itu tidak mungkin. Adinda sudah meninggal 3 tahun yang lalu. Aku sudah mengerahkan beberapa bodyguard ku untuk mengawasi apartemen ku.
Aku memesan makanan. Salia keluar dari kamar mandi. Dia memakai dress putih yang sederhana.
"Kamu mau mandi? " tanya Salia. Aku mengangguk kemudian memasuki kamar mandi.
Setelah selesai mandi, aku memakai kemeja putih dengan celana dan jas hitam.
Aku mendengar pintu kamar hotel ku dibuka. Aku segera keluar dari kamar mandi untuk melihat siapa yang datang. Mungkin pelayan yang mengantar makanan pesananku.
Aku terkejut melihat Salia berpelukan dengan seorang pria. Aku mengepalkan tangan ku. Aku bergegas menghampiri nya untuk memberikan kenang-kenangan abadi di wajah pria itu.
Namun niat ku itu aku urungkan setelah aku melihat wajah pria itu. Dia menghampiri ku kemudian menarik kerah kemeja ku dengan kasar.
"Kenapa kau tidak memberitahu ku tentang kejadian itu? " tanya nya menggeram di depan wajah ku.
"Papa, udahlah pa, Meisa gapapa kok" kata Salia berusaha melerai pria brengsek yang tak lain adalah Michael.
__ADS_1
"Kok kamu jadi belain dia? Jangan-jangan kamu mulai sayang lagi sama dia" gerutu Michael.
Aku melirik Salia. Salia menggeleng. "Papa.. Bukankah sekarang Tama itu suami aku, kan Papa juga yang minta aku nikah sama dia.. Selain itu, aku kan gapapa Pa"
"Kenapa dapur apartemen kalian bisa meledak? " tanya Michael.
"Ada seorang wanita yang melemparkan sesuatu ke kompor saat aku memasak " jawab Salia.
"Kamu tahu siapa dia? " tanya Michael. Salia mengangguk. Aku mengerutkan keningku. Kemarin dia bilang tidak tahu.
"Dia Adinda"
Deg
Lagi?
"Adinda? " seketika tatapan Michael teralihkan pada ku.
"Bukankah dia mantan kekasihmu? Dan.. Bukankah dia sudah mati? " tanya Michael.
Aku juga heran dan aku bingung harus bilang apa.
"Dia hantu Pa" kata Salia tiba-tiba.
"Hantu? Tidak ada hantu, ini pasti perbuatan manusia, Salia.. Jangan berpikiran aneh -aneh.. Cukup ibumu yang percaya hantu" kata Michael.
"Lalu kalau bukan hantu, apa dong? " gerutu Salia.
"Ini pasti perbuatan seseorang.. Aku akan menyuruh pengawalku untuk menyelidiki nya" kata Michael.
"Itu tidak perlu, Pa.. Aku sudah menyuruh para bodyguard ku untuk mengawasi nya" kata ku.
Michael melirikku kesal. "Hmm.. Berani sekali seseorang yang berencana membahayakan seorang Putri dari keluarga Danuarga" geram Michael.
"Sudahlah, Pa.. Yang penting Meisa udah aman.. Oh ya Papa kesini sama Mama kan? Dimana Mama? " tanya Salia.
Michael terhenyak. "Astaga, Papa lupa.. Mama mu masih di mobil" kata Michael kemudian bergegas keluar.
Aku dan Salia saling pandang. "Apa kita tidak jadi ke pantai? " tanya Salia.
"Kita akan tetap ke pantai"
"Lalu Mama dan Papa? "
"Ajak aja sekalian "
♡♥♡♥♡♥♡
By
__ADS_1
Ucu Irna Marhamah