
Meina memeluk tubuh Michael. "Jangan tinggalkan aku, kau pernah bilang kalau kita akan bertahan hidup sampai anak-anak kita memberikan kita cucu" tangis Meina.
Michael menyentuh pipi Meina. "Jangan menangis.. Aku tidak.. Akan kemana-mana.. Aku.. Aku hanya akan mati... " kata Michael.
Marchel pun tidak bisa membendung air mata nya.
Tama menggendong tubuh Salia dengan bridal. Dia menuruni tangga bersama Yoona.
Tama membiarkan Salia mendekati ayahnya.
"Papa.. Papa.. Jangan pergi.. Papa.. Papa mau lihat cucu-cucu Papa kan" kata Salia sambil membawa tangan ayahnya ke perut buncit Salia.
"Mama mu akan mewakili Papa.. Papa.. Papa.. Tidak akan.. Lama sayang" kata Michael.
"Papa jangan bilang begitu.. Papa ku mohon" tangis Salia.
"Papa.. Punya beberapa.. Pesan.. Buat Salia.. Jaga cucu-cucu Papa ya.. Buat Marc.. Jadi anak yang baik dan jadilah penerus Papa yang baik.. Jaga Mama kamu yaa.. Untuk Tama.. Tolong.. Jaga Salia.. Jangan.. Jangan biarkan dia mengeluh sedikit pun.. Kamu menantu kebanggaan Papa.. Maafkan Papa Tama.."
Tama mengusap air mata nya yang tidak terasa mengalir membasahi pipinya. Dia menganggukkan kepalanya pelan.
".. Dan.. Sayang.. " Michael menyentuh pipi Meina. Meina merasakan telapak tangan Michael yang semakin dingin.
".. Terimakasih.. Telah menerima ku.. Mencintai ku.. Memberikan ku keturunan.. Yang cantik-cantik dan tampan.. Terimakasih.. Aku sangat mencintai mu.. Mencintaimu.. Sepenuhnya.. Aku mencintaimu.. " kata Michael.
Tangisan Meina semakin menjadi-jadi.
Tatapan Michael tertuju pada seorang gadis yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Dia tampak sedih. Dengan air mata mengalir membasahi kedua pipinya.
Michael tersenyum. "Seperti nya.. Kita akan memiliki banyak waktu.. Sayang.. " gumam Michael. Tangannya terangkat seolah menggapai gadis itu yang tak lain adalah Renata.
Salia menoleh kearah Renata. Karena hanya dia yang bisa melihat Renata.
Tangan Michael pun tumbang.
"MIKE!!!!!!!!!! " teriak Meina.
"Papa.. " Marc mengusap airmata nya.
Salia melihat arwah ayahnya melayang menghampiri arwah Renata. Michael dan Renata berpegangan tangan.
Mereka berdua tersenyum pada Salia. Salia terlihat sedih.
Michael memberikan isyarat agar Salia tersenyum. Salia menggeleng.
Renata dan Michael berbalik membelakangi Salia kemudian menghilang di telan cahaya putih.
"MICHAEL!!!!!!! " Meina pun terkulai tak sadarkan diri di pelukan Marc.
Salia merasa kepalanya berat sehingga dia pun pingsan.
♡♥♡♥♡♥♡
Perlahan manik hazel itu menampakkan diri. Salia terbangun. Dia merasa tenggorokan nya sakit.
__ADS_1
Salia mendapati dirinya berada di kamar rawat.
Orang yang pertama dia lihat adalah suaminya, Tama. Salia menyentuh perutnya yang masih buncit. Salia menghela nafas lega.
Namun dia masih menatap ke sekeliling.
"Sayang.. Kamu cari apa? " tanya Tama.
"Mana yang lain?" tanya Salia.
Tama menghela nafas panjang. "Minum dulu " kata Tama sambil memberikan segelas air putih.
"Mana yang lain..?? Papa.. Papa" gumam Salia. Dia ingat insiden itu. Dia menangis histeris.
Tama memeluk nya.
"Papa.. Tama Papaku.. " tangis Salia.
"Sutsssss.. Biarkan Papa tenang disana yaa" kata Tama kemudian mengecup kening Salia.
Setelah Tama merasakan Salia mulai tenang, dia menatap Salia.
"Apa yang terjadi padaku? " tanya Salia.
"Kamu pingsan selama 3 hari" jawab Tama.
"Apa? " Salia terkejut. Pantas saja dia merasa sakit pada tenggorokan nya. Dia menyentuh lehernya.
Tama memberikan segelas air. Salia pun menerima air tersebut dan menegaknya hingga tandas.
"Jasad Papa belum di kuburkan.. Keluarga kamu nunggu kamu sadar" jawab Tama.
"Lalu bagaimana keadaan Mama? " tanya Salia.
"Mama masih shock.. Tapi ada Tante Meini sama Bastian yang hibur Mama" jawab Tama.
"Bastian? "
Tama mengangguk.
Sunyi.
Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Bagaimana dengan mereka? " tanya Salia sambil menyentuh perut besar nya.
Tama membelai perut buncit Salia. "Mereka kuat.. Seperti mu" kata Tama.
Salia tersenyum.
"Tapi racun itu? " tanya Salia.
"Jangan di pikirkan.. Dokter terbaik yang mengatasi mu.. Dia bilang tidak terjadi apa-apa " kata Tama.
__ADS_1
Salia melelapkan kepalanya di dada bidang Tama.
"Maafkan aku" kata Tama sambil membelai rambut Salia.
"Ku harap setelah ini tidak terjadi apa-apa lagi.. Aku sudah lelah" kata Salia.
"Aku janji.. Kita akan pindah dari Jepang" kata Tama.
"Kenapa kita pindah-pindah terus? " tanya Salia.
"Ini demi kebaikan kita dan anak kita" kata Tama.
"Kita akan kemana? " tanya Salia sambil menatap Tama.
"Nanti kita pikirkan" jawab Tama.
♡♥♡♥♡♥♡
Di pemakaman, suasana duka terasa begitu kental. Semua orang berpakaian hitam.
Hari ini bukan hanya jasad Michael saja yang di semayam kan tapi juga Cecil sebagai anggota keluarga Danuarga.
Bagaimana pun juga, Cecil adalah anggota keluarga besar Danuarga.
Makam Michael terletak di samping kanan makam John. Sementara makam Cecil berada di samping kiri makam John.
Meina di rangkul Marc. Salia juga di rangkul Tama.
Ada Refa, Maharani, Megan, Mykha, Robert, Vanessa, Carren, Darren, Meinila, Brian, Bastian dan keluarga besar lainnya.
Robert melirik Mykha. "Jika Mikey sudah tiada, maka aku bebas mendapatkan Mykha" batin Robert dengan tatapan tertuju pada Mykha.
Vanessa yang menyadari itu menyenggol lengan Robert.
"Jangan pikir aku tidak tahu isi kepalamu sayang " bisik Vanessa dengan nada menggerutu.
"Aku akan mengurus surat perceraian kita" bisik Robert.
"Hhhh.. Sialan.. Kau menceraikan ku demi jalang itu? " geram Vanessa masih berbisik.
"Dia Cinta ku.. Cinta pertamaku.. Kau hanya wanita yang memanfaatkan kelengahan ku dan keluarga ku untuk mendapatkan uang kami" geram Robert.
"Ku harap kalian diam.. Ini pemakaman putraku" kata Maharani yang kesal dengan ocehan sepasang suami istri yang akan bercerai itu.
Robert pun diam.
Robert menatap Mykha. Mykha yang merasa di perhatikan menoleh. Namun kemudian dia mengalihkan pandangannya dan pergi lebih dulu bersama Megan.
"Mau kemana mereka? Mereka pasti akan bersembunyi lagi di luar negeri " batin Robert.
♡♥♡♥♡♥♡
By
__ADS_1
Ucu Irna Marhamah