
Tama berangkat ke kantor. Salia berdiri di depan mansion melihat mobil suaminya itu melaju meninggalkan mansion.
Saat dia melangkah masuk, dia mendengar mobil yang terhenti di depan mansion.
Salia kembali berbalik dan melihat mobil sport merah itu terhenti di depan nya.
Seorang wanita berpakaian kekurangan bahan keluar dari mobil tersebut.
Salia mengerutkan keningnya. "Melani? "
Wanita yang tak lain adalah Mela itu menghampiri Salia dengan senyuman ceria nya.
Namun beberapa bodyguard menghalangi nya.
"Hei aku hanya ingin menemui Ny. Kalian " kata Mela.
"Kalian minggirlah.. Dia temanku dan Tama" kata Salia.
"Maaf.. Ny. Muda Adiwijaya, tapi Tn. Muda dan Ny. Besar melarang siapapun menemui anda termasuk teman ataupun kerabat" jawab salah satu dari mereka.
Mela terlihat sedih. Dia menyerobot ingin menemui Salia, tapi salah satu dari bodyguard Salia mendorong nya hingga tersungkur jatuh ke tanah.
Mela meringis sambil memegang perutnya.
"Astaga.. Mela.. Kalian kasar sekali" kata Salia sambil membantu Mela bangkit.
Mela terhuyung. "Ayo kita ke rumah sakit " kata Salia. Mela mengangguk.
♡♥♡♥♡♥♡
Selama di perjalanan, Mela meringis kesakitan sambil memegang perutnya.
"Tahan, Mela kita akan segera sampai " kata Salia.
Mobil mereka terhenti di depan rumah sakit Danuarga.
Salia segera membantu Mela. Dia memanggil suster untuk membawa Mela ke UGD nya.
Salia menunggu diruang tunggu. "dr. Salia, Nn. Mela mengamuk.. Dia ingin anda yang menangani nya" kata salah satu perawat.
"Tapi ada dokter yang bertugas kan? Kenapa harus aku? " gerutu Salia.
Megan keluar dari ruang UGD. "Salia, temanmu itu ngotot mau kamu yang periksa dia" kata Megan.
Salia menghela nafas berat. "Menyesal waktu itu aku berjanji mau mengobati dia"
Salia memasuki ruang UGD. Mela meringis pelan.
Salia menghela nafas panjang. "Kenapa kau mau di periksa oleh ku? " tanya Salia.
"Karena kau pernah berjanji untuk memeriksa ku kan.. Aku seperti ini karena aku mendonorkan ginjal ku untuk suamimu " gerutu Mela.
Salia menghela napas berat. Dia pun mengambil stetoskop dan memeriksa denyut jantung Mela.
"Ada apa kau ke rumah kami? " tanya Salia.
"Aku ingin menemuimu dan mengatakan sesuatu yang penting padamu. Karena aku tahu hanya kamu yang mengerti" kata Salia.
"Katakan saja, aku.. " kata-kata Salia tidak di lanjutkan karena dia bisa merasakan 2 denyut jantung dari dalam tubuh Mela.
__ADS_1
"Kamu mendengar nya? Dia anakku.. Dengan Tama"
Deg
Jantung Salia serasa di hantam godam begitu nyeri dan menggebu.
Salia mundur. "Tidak kau pasti bohong " kata Salia sambil melemparka stetoskop nya.
Mela bangkit dan memegang perutnya.
"Itu kenyataan nya.. Aku ke mansion kalian untuk mengatakan ini dan ku mohon.. Aku mau Aryatama untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.. Setelah mendapatkan ginjal ku, dia juga menyentuh ku.. Dan bayi inilah hasilnya.. Kau tidak mengerti.. Selama ini aku menahan rasa sakit di perut ku karena kehilangan ginjalku" kata Mela dengan ekspresi sedih.
"Aku yakin kau bohong! Kenapa kau menyentuh perutmu yang katamu sakit.. Sementara ginjal yang kau donorkan tidak berada disana.. " kata Salia.
Mela terbelalak. Namun kemudian dia tertawa sarkas.
"Kau dokter yang cerdas ya.. Yang kau pikirkan benar.. Aku tidak mendonorkan ginjal ku untuk Tama.. Karena aku tahu dia tidak akan pernah bisa ku miliki" kata Mela.
Salia menautkan alisnya. "Pembohong! Sudah kuduga kau bukan perempuan baik! " bentak Salia.
"Lalu jika bukan kau yang mendonorkan ginjalnya pada Tama, siapa?! " bentak Salia.
"Adinda"
Deg
Salia tercengang.
"Aku menghabisi Adinda dan mengambil ginjalnya " kata Mela.
"Tidak boleh ada wanita lain di samping Tama selain aku!! " teriak Mela.
"Heh.. Dan aku ingin kau mati! " Mela menarik lengan Salia dan menjambak rambut panjang Salia dengan kasar hingga beberapa helai tercabut dan berjatuhan ke lantai.
"Aaarrgghhh" Salia merasakan sakit.
"Dan aku tidak suka mengetahui gadis jalang seperti mu mengandung benih Tama! Seharusnya aku yang mengandung anak nya Tama! Bukan kau! Kau hanya gadis biasa!! Aku benci!! Dia bahkan tidak sudi mengalirkan sperma nya di rahimku! " teriak Mela.
"Lepaskan aku!!! " teriak Salia.
Dengan kasar, Mela mendorong Salia hingga tersungkur ke lantai.
"Toloooongggg!!!! " teriak Salia. Beberapa perawat berhamburan masuk dan akan mengamankan Mela.
Tapi Mela menyandera Salia dengan pistol.
"Jangan ada yang bergerak.. Jangan ada yang menelepon " ancam Mela.
"Lepaskan dia, dasar wanita gila!" bentak Megan.
"Diam kau! " bentak Mela sambil menodongkan pistolnya kearah Megan.
Salia bergerak menghantam wajah Mela dengan kepalanya.
Semua perawat berlarian ketakutan. Apalagi Mela meloloskan tembakan nya.
Megan berlari dan menelpon seseorang.
"Refaldo.. Tolong Meisalia sekarang "
__ADS_1
Salia bersembunyi di balik meja. Mela mengelap darah yang keluar dari hidungnya.
"Berani sekali kau!! " teriak Mela. Dia menembak meja tempat Salia bersembunyi.
Mela menarik rambut Salia dan menampar Salia berkali-kali.
Salia berontak. Namun Mela lebih kuat. Dia mendorong Salia dengan keras hingga kepalanya berbenturan dengan tembok.
Mela menampar Salia tanpa ampun.
Namun tangan Salia bergerak mencengkram pergelangan tangan Mela.
Mela terkejut. Cengkraman tangan Salia semakin kuat.
"Aww" ringis Mela.
"Berani sekali.. Kau.. Jalang" geram Salia dengan suara yang mengerikan.
Mela mengerutkan dahinya. Perlahan kepala Salia yang tertunduk itu terangkat.
Mela terbelalak melihat mata Salia yang memerah dan melotot.
Mela berusaha melepaskan diri. "Kau pikir.. Tawamu itu lebih mengerikan? Dengarkan ini.. Hhhaahaaaaaaaaaaaaaahhhaaa" geram Salia di akhiri tawa melengking tinggi yang menakutkan.
Mela berusaha melepaskan diri. Renata keluar dari tubuh Salia. Dia mendorong Mela hingga tubuhnya berbenturan dengan tembok. Tembok itu juga retak.
Salia terhuyung dan terduduk ke lantai. Dia melihat Renata begitu marah.
Mela bangkit. Namun tiba-tiba, Renata berada di depannya dan menarik rahang Mela.
"Kau suka? Aku ini kasar" bisik Renata di telinga Mela.
Refaldo dan Megan datang. Mereka terkejut melihat Mela yang melayang di dinding dan tampak kesakitan.
Salia menoleh. "Refa" gumam Salia.
"Meisa" Refa berlari kearah Salia dan membantu Salia bangkit.
Megan juga menolong. "Ayo keluar dari sini" kata Megan. Refa mengangguk.
Dia mengangkat tubuh Salia dan menggendong nya keluar dari ruangan itu.
Tiba-tiba terjadilah ledakkan hebat. Salia mengeratkan pelukannya ke leher Refa.
"Tenanglah.. Salia" kata Refa. Salia mengangguk pelan.
Mereka sudah aman. Megan melihat api masih menyala di ruangan itu.
Refa mendudukkan Salia di kursi tunggu. Megan memasuki ruangan itu. Dia melihat tubuh Mela tergeletak dilantai.
Perlahan, dia mendekat mengecek denyut nadi Mela.
"Dia sudah tiada"
♡♥♡♥♡♥♡
By
Ucu Irna Marhamah
__ADS_1