
Refa mengetuk pintu apartemen Salia. Pintu terbuka. Salia terkejut mendapati Refa yang berdiri di depan nya.
"Kkau? Tahu apartemen ku? "
"Aku polisi, tentu saja aku melacak mu"
"A.. Ada apa kau kemari? "
"Ada mayat yang perlu kau otopsi "
Salia menghela napas berat. "Baiklah.. Aku pergi sekarang "
"Ayo"
Mereka pun pergi. Tama keluar dari apartemen. Dia melihat Salia dan Refa pergi.
"Mau kemana mereka" gumam Tama.
♡♥♡♥♡♥♡
Salia memeriksa mayat perempuan cantik yang terbaring di ranjang otopsi.
Refa memperhatikan nya.
"Dia di temukan tergantung pada sebuah tali yang mengikat leher nya. Diduga dia melakukan percobaan bunuh diri. Dan usaha nya berhasil. Namun pihak keluarga bilang, dia sama sekali tidak menunjukkan sedang frustasi atau mau mengakhiri hidupnya "
"Memang ada kejanggalan disini" kata Salia.
Dealova memasuki ruang otopsi. Refa dan Salia menoleh padanya.
"Dia masih disini? Selama 4 tahun dia bersama Refa? " batin Salia.
"Refa, pak Johnson ingin menemui mu, soal mayat itu, biar aku yang mengawasi nya " kata Dea.
Salia menautkan alisnya. "Mengawasi? Maksudnya mengawasi ku? Siapa dia sampai-sampai tidak mempercayai ku"
Refa mengangguk. Dia pun berlalu. Dea memperhatikan Salia.
"Bagaimana? " tanya Dea.
"Seperti yang kau lihat" jawab Salia.
"Kau marah padaku? "
"Untuk apa? "
__ADS_1
"Karena aku bersama Refa? Kami tidak seperti yang kau pikirkan.. Aku hanya meminta bantuannya dan dia bersedia membantu ku"
"Aku tidak peduli dengan hubungan kalian" kata Salia pelan. Padahal jelas hati nya tertohok mendengar ucapan Dea yang menyebutkan kalau Refa mau membantunya.
"Aku memang mencintai Refa, tapi aku tahu dia mencintai mu, jadi.. Ya.. Dia mungkin jodohmu" kata Dea.
"Tidak "
Dea mengerutkan dahinya.
"Perhatian nya padaku berubah setelah keberadaan dirimu, jadi mungkin saja dia sebenarnya adalah jodohmu" sanggah Salia.
"Aku mengerti.. Kau tidak ingin menunjukkan kalau kau mencintai nya di depan ku.. Tapi aku minta maaf jika selama ini.. Dia berubah padamu karena ulahku, tapi sungguh.. Aku hanya berniat meminta bantuan dari nya.. Tidak lebih" kata Dea.
"Namun setelah kalian dekat, kau mencintai nya kan? Kau ingin dirinya? Ambil saja "
Deg
Dea merasa sangat bersalah. Dia merasa menjadi seorang pelakor. Namun apa yang di katakan Salia memang benar.
Air mata Salia mengalir.
"Lágrimas.. My love for him like a lágrimas.. " gumam Salia.
"Lágrimas adalah air mata dalam bahasa Portugis.. Cinta ku pada Refa seperti air mata.. Yang mengalir tanpa tahu kenapa.. Hanya ada 2 penyebab air mata itu mengalir.. Pertama, karena air mata itu mengalir sebagai tanda kebahagiaan dan terharu.. Dan yang kedua.. Tanda rasa sakit yang begitu mendalam.. " Salia menahan getaran suaranya.
Dia menatap nanar mayat yang pucat di hadapan nya. Dea menitikkan airmatanya. Tidak mengira akan ada hati lain yang tersakiti karena cinta nya.
"Dua pilihan.. Cintai Refa sebagai seorang pria, atau cintai dia sebagai sahabat... Tapi cinta ku untuk nya adalah cinta mati.. "
Deg
"Kau tidak tahu, Dea.. Apa yang kurasakan saat aku melihat mu memeluk Refa dan mengatakan isi hatimu. Dan Refa hanya diam tanpa menepismu.. Itu membuktikan dia juga jatuh hati padamu.. Aku tahu.. Dia begitu mempertahankan ku.. Tapi itu bukan karena cintanya padaku.. Melainkan karena dia mengutamakan aku.. Sebagai sahabat nya "
Dealova tertunduk. Air matanya menetes ke lantai. Terdengar langkah kaki memasuki ruang otopsi.
Dea mengusap kedua pipinya yang basah karena air mata.
Salia mengalihkan pandangannya. Dia mengelap air matanya dengan punggung tangannya.
Yang masuk ternyata Refa. "Bagaimana, Meisa? "
"Aku sudah tahu penyebab nya. Gadis ini tidak bunuh diri. Dia mengalami kekerasan sebelum mati. Lihatlah pada punggung, dada, kaki, lengan dan.. Ehmm.. Daerah kewanitaannya.. Kemungkinan dia korban pemerkosaan.. Dan aku mohon waktu untuk mengecek DNA yang ada pada kewanitaan nya "
Dea dan Refa saling pandang. Mereka berdua mengangguk kemudian keluar.
__ADS_1
Salia menghela nafas panjang. Tanpa dia sadari, Tama memperhatikan nya dari jendela. Dia melihat setiap gerak-gerik yang dilakukan Salia.
♡♥♡♥♡♥♡
Refa dan Dea duduk berdampingan di depan ruang otopsi.
"Kau baik-baik saja? Kenapa melamun? " tanya Refa.
"Ah.. Tidak ada.. Aku.. Hanya merasa.. Sedikit tidak nyaman pada Salia.. Dia kan.. Emm.. Teman dekat mu.. "
"Kenapa? "
"Karena kita begitu dekat.. Mungkin dia tidak suka dengan kedekatan kita"
"Dia juga sudah punya teman dekat baru.. "
"Siapa? "
"Entahlah.. Kemarin malam aku akan mengunjungi apartemen nya. Tapi ada tamu di dalam, seorang laki-laki yang waktu itu ketemu di restoran Surya Jati 4 tahun lalu pas pertama kau dan Meisa bertemu "
"Benarkah? Dia bilang waktu itu pria itu pasien nya "
"Entahlah, Dea.. Yang pasti ku lihat cinta di mata pria itu untuk Meisa.. Cinta yang begitu besar "
Dea menatap mata Refa. "Bahkan Refa mendatangi apartemen Salia untuk memastikan keadaan Salia.. Refa sangat mencintai Salia"
Salia keluar dari ruang otopsi. Sea dan Refa bangkit kemudian menghampiri nya.
"Gadis itu adalah korban pelecahan seksual. Ada banyak jejak di tubuh nya, sidik jari, rambut, DNA dan alkohol" kata Salia.
"Kau yakin? Kau bahkan tidak membedah tubuh nya" kata Refa.
"Kau meragukan ku, Refa? " tanya Salia. Refa terdiam.
"Hebat, Salia bisa menentukan pembunuh nya tanpa repot membedah tubuh korban, dia benar-benar dokter yang berbakat" batin Dea.
"Ayo kita melapor kepada pak Johnson "
♡♥♡♥♡♥♡
By
__ADS_1
Ucu Irna Marhamah