La'grimas

La'grimas
45


__ADS_3


Salia mengambil 2 buah buku yang menurutnya sangat menarik. Saat menuju kasir, dia bertabrakan dengan seseorang.



"I'm sorry.. I can't see you" kata Salia sambil memegang kedua lengan gadis cantik yang bertabrakan dengan nya.



"Ah? dr. Salia ya? " tanya gadis itu.



Salia menatap gadis pirang yang cantik itu. "Kamu Savanna? " tanya dr. Salia.



"Iya, senang bertemu dengan mu lagi" kata gadis bernama Savanna itu.



Salia tersenyum. "Senang bertemu dengan mu juga, kamu sama siapa kesini? " tanya Salia.



Raut ceria Savanna berubah jadi sendu. Salia melihat raut kesedihan di wajah Savanna.



"Maaf.. Apa aku salah bicara ya?" tanya Salia.



"Ah tidak, dok.. Aku ke sini sama.. Temen kerja orang tua aku" jawab Savanna.



"Oh ya udah.. Ayo kita ke kasir " kata Salia. Savanna mengangguk.



Salia melihat Tama sedang berbicang dengan pria tampan di meja baca.



"Tama, aku sudah memilih 2 buah buku, ayo kita ke kasir dan pulang" kata Salia.



Tama dan Christian menoleh.



"Sava, kau sudah memilih buku?" tanya Christian.



Salia menoleh kearah Christian dan Savanna bergantian. Sava menghela nafas panjang.



"Ohh, gadis itu kekasihmu?" tanya Tama pada Christian.



"Iya, kami akan menikah sebentar lagi " kata Chris sambil menatap Sava penuh makna.



Salia terkejut. Dia melirik Sava. "Apa? Me.. Menikah? " tanya Salia sambil melirik Chris dan Sava bergantian.



"Oh iya, perkenalkan, ini Meisalia Michelle Danuarga, ah tidak.. Meisalia Michelle Adiwijaya.. Istriku " kata Tama sambil merangkul Salia.



"Hai Ny. Danuarga, dan ini Savanna Bellerine Alexandrio calon istriku" kata Chris.



Salia melirik Tama. Kemudian dia kembali menoleh kearah Chris dan Sava.



"Oh iya, aku pernah merawatnya dulu saat Sava terkena tifus" kata Salia sambil membelai lengan Sava.



"Iya, Sava gadis yang keras kepala, suka makanan yang pedas dan itu malah menyakiti nya" kata Chris sambil menatap Sava yang mendengus kesal.



Tama dan Salia saling pandang. Kemudian mereka berdua memperhatikan pasangan yang tampaknya sedang sedikit bertengkar sebelum mereka kemari.



"Baiklah, kami duluan ya" kata Salia sambil menggandeng lengan Tama menuju kasir.



"Iya, silakan " jawab Sava.

__ADS_1



"Two books" kata Salia sambil memberikan kedua buku yang menurutnya sangat menarik pada kasir.



Kasir wanita itu mengambil kedua buku tersebut.



"Three books" kata Tama sambil memberikan buku yang menarik minatnya.



Salia melihat novel yang di pilih Tama. "La'grimas? " gumam Salia membaca judul novel tersebut. Kemudian dia menatap Tama.



Setelah membayar, mereka pun memasuki mobil mereka untuk pulang ke penginapan pantai.



"Emm.. Aku gak tahu kamu suka novel" kata Salia.



"Aku memang tidak terlalu menyukai novel.. Hanya saja yang ini menarik perhatian ku" kata Tama.



"Oh gitu.. Oh ya, tadi kamu sempet ngomong sama cowok yang namanya Christian, apa dia benar-benar kekasih Savanna? " tanya Salia.



Tama berdecak pelan. "Iya, dia emang ganteng" jawab Tama.



Salia berdecak kesal. "Bukan itu maksudku, kamu tidak liat kan usia mereka kayaknya masih muda.. Mungkin baru usia 20an.. Calon istri? Mereka akan menikah muda? Aku juga tahu Savanna itu memiliki kekasih yang tentu nya bukanlah Chris" kata Salia panjang lebar.



"Entahlah, tapi yang pasti pria itu sangat mencintai gadis pirang itu" jawab Tama.



"Darimana kamu tahu kalau pria itu mencintai Sava? " tanya Salia penuh selidik.



"Aku melihat itu dari matanya.. Kurasa kisah mereka seperti kita.. Gadis itu sudah memiliki kekasih, tapi Chris memasuki kehidupan gadis itu dan berusaha memilikinya dan itu berhasil.. " kata Tama dengan pandangan tak lepas dari jalanan.




"Tentu saja.. Kau mencintai Refaldo. Aku datang ke kehidupan mu dan berusaha memiliki mu dengan cara kotor sekali pun. Aku berhasil memiliki mu tapi tidak dengan hatimu" kata Tama.



"Kayak judul lagu" gumam Salia sambil memasang ekspresi berpikir.



"Kita mau makan malam dimana? " tanya Tama.



"Emm.. Terserah kamu" kata Salia. Tama mengangguk. Salia merasa ngantuk. Dia pun melelapkan kepalanya di bahu Tama.



Tama terkejut. Dia tersenyum tipis kemudian merangkul Salia.



"Apa Salia benar-benar sudah menerima ku? Rasanya aku benar-benar bahagia dengan sikap Salia padaku.. Tapi.. Aku merasa Salia hanya menghargai perasaanku.. Dia tidak mencintai ku.. Dia.. Aku yakin dia masih mencintai Refaldo" batin Tama.



Tiba-tiba, ponsel Tama bergetar. Tama memasang earphone dan memasang cupingannya ke telinga Tama.



"Hallo? "



"Bano? "



Tama mengenal suara lembut itu dan panggilan yang biasa dia dengar dari wanita itu.



"Ada apa? "



"Aku ingin kita bertemu.. Apa bisa? Aku.. Emm.. Apa kita bisa bertemu? " tanya wanita yang tak lain adalah Melani.


__ADS_1


Tama menghela nafas berat "jika saja bukan dia yang mendonorkan ginjalnya, aku tidak mau menemuinya" batin Tama.



"Baiklah, Mela.. Kita ketemu di restoran dekat penginapan pantai" kata Tama.



"Iya.. Iya aku akan segera ke restoran Gustavo, kamu kesana ya"



"Iya" jawab Tama singkat kemudian mematikan panggilan nya.



Tama melihat Salia yang begitu damai dalam tidurnya. Tama membelai lembut rambut Salia kemudian mencium puncak kepala Salia.



♡♥♡♥♡♥♡



Mobil Tama terhenti di depan restoran Gustavo seperti yang di katakan Melani.



Tama tidak tega membangunkan Salia. Dia menatap wajah Salia. Tama tersenyum geli.



"Seperti yang ku katakan, kau lebih cocok menjadi istri seorang Aryatama Adiwijaya" kata Tama yang mengingat masa lalunya bersama Salia.



Tama mencubit hidung Salia dengan gemas. Salia pun kesulitan bernapas, alhasil dia membuka matanya dan menatap Tama.



"Hhh" Salia memukul tangan Tama karena kesal.



"Maaf aku ganggu mimpi Indah kamu, tapi kita makan dulu yuk" kata Tama.



"Makan? Dimana? "



"Disini" kata Tama kemudian keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Salia.



Salia pun keluar dari mobil dan Tama merangkul pinggang Salia dengan posesif.



Mereka memasuki restoran. "Kita duduk dimana? " tanya Salia yang terlihat begitu ngantuk.



"Kita duduk disana" kata Tama yang melihat Mela melambaikan tangannya.



Mela mengerutkan keningnya melihat Tama dengan seorang wanita.



Tama dan Salia pun menghampiri Mela. Salia heran karena Tama memilih duduk di meja yang sudah ada orang nya.



Mela melirik Salia sejenak kemudian dia bangkit dari duduknya dan cipika-cipiki dengan Tama.



"Malam, Bano"



Salia tercengang melihat kelancangan wanita itu. Awalnya dia mengatuk dan rasa kantuknya sudah lenyap bergantikan dengan rasa kesal.



"Bersiaplah, Salia.. Rumah tangga mu akan menghadapi guncangan " kata Renata yang sedari duduk di samping Mela.



♡♥♡♥♡♥♡





By


__ADS_1


Ucu Irna Marhamah


__ADS_2