
Pria tampan yang menjadi korban penembakan itu kini terbaring lemah diatas ranjang kamar rawat. Seseorang mengetuk pintu kamar rawat itu.
"Masuk"
Seorang pria paruh baya berjas hitam memasuki ruang rawat.
"Selamat pagi, Tama.. Apa kau tidur nyenyak semalam?" tanya pria tua itu.
"Om Adi, siapa pun tidak akan pernah bisa tidur nyenyak jika ditembak sebanyak 17 kali.. "
Adi tertawa mendengar ocehan keponakannya itu.
"Baiklah, tapi kau benar-benar kuat karena bisa hidup sampai saat ini"
"Aku tidak akan kalah dari psikopat gila itu! " bantah Tama.
"Aryatama, dia bukan hanya sekedar psikopat, dia penembak jitu.. Dia bisa saja menembak mati dirimu dengan satu peluru. Tapi mungkin dia hanya ingin memberimu peringatan untuk jangan mencampuri urusan nya.. Itu salahmu karena berani menghabisi pengawal nya " kata Adi.
"Ah itu kan hanya pengawal. Dia bisa mendapatkan banyak pengawal" kata Tama.
"Terserah, kau memang keras kepala seperti ayahmu"
"Terimakasih "
"Sama-sama "
Terdengar langkah kaki menuju ruangan itu. Pandangan kedua lelaki itu tertuju ke ambang pintu.
Ternyata Salia. "Permisi.. "
"Silahkan suster, periksa keponakan saya" kata Adi.
Salia tersenyum ramah kemudian mengambil stetoskop dan memeriksa denyut jantung Tama.
"Apa kau meminum obatnya? " tanya Salia.
"Tidak "
"Kenapa? Bukankah sudah tertera aturan minum nya" kata Salia.
"Kau tahu kan aku tidak bisa bergerak, jika aku tidak bisa bergerak, siapa yang mau membantu ku meminum obat, seharusnya kau yang melakukan nya. Kau kan suster disini "
"Baiklah.. Maafkan aku.. Sekarang minum obatnya " kata Salia sambil membantu Tama meminum obatnya.
Adi tersenyum melihat keponakannya terlihat lemah. Tidak seperti biasa nya dia selalu kuat dan marah-marah jika ada satu kesalahan pun.
"Baiklah, sekarang aku akan pergi" kata Salia kemudian berlalu.
"Hei kau, tugasmu membantu pasien kan, kenapa kau meninggalkan tugas mu"
"Baiklah, sekarang mau mu apa? "
"Aku mau nasi padang "
"Pasien di larang memakan nasi padang.. Hanya bubur" kata Salia.
"Baiklah.. Tapi aku mau kau sendiri yang membuatnya.. Jika tidak enak, aku akan mengajukan surat ketidakpuasan terhadap pelayanan di rumah sakit ini " ancam Tama.
Salia memutar kedua bola mata nya kemudian berlalu.
__ADS_1
Adi tersenyum. "Jika kau marah seperti itu, kau tidak akan pernah mendapatkan kekasih.. Ku lihat dia lumayan cantik "
"Aku tidak butuh kekasih"
"Kau membutuhkan keturunan untuk melanjutkan bisnismu, Tama.. Usiamu mungkin baru 24 tahun, tapi kau harus bersiap dari sekarang" kata Adi.
"Ah baiklah.. Aku akan berubah beberapa tahun ke depan"
"Aku pulang ya, ada banyak urusan di kantor " kata Adi. Tama mengangguk.
Tama terlihat berpikir.
Salia memasuki ruangan dengan membawa semangkuk bubur dan segelas susu cokelat. Tama mendelik kesal pada Salia.
"Sekarang ayo, makan" kata Salia sambil menyuapi Tama. Tama menerima suapan itu.
"Apa kau yang membuat nya? "
Salia mengangguk.
"Tidak buruk"
"Terimakasih "
"Itu bukan pujian"
Untung Salia sangat sabar tidak seperti Michael ataupun Meina yang mudah terbakar emosi.
Ponsel Salia bergetar. Dia melihat layar ponsel nya yang tertulis nama Refa disana. Salia segera mengangkat panggilan dari Refa.
"Halo.. Refaldo? "
Kedua pipi Salia merona. Tama memperhatikan wajah Salia.
Salia tersenyum. Mungkin dengan bertemu nya dia dengan Refa, hubungan nya akan membaik.
"Siapa Refa? Tampak nya suster itu menyukai nya " batin Tama.
"Aku akan datang " kata Salia kemudian menyimpan mangkuk bubur dan berlalu.
"Hei! Kau lupa, tugasmu menjaga ku"
Langkah Salia terhenti. Dia tampak berpikir.
"Maaf, Tn.. Tapi.. Ini sangat penting.. Aku harus menemui Refa.. " kata Salia memelas.
"Aku akan mengajukan surat ketidakpuasan ku pada pemerintah.. Ini kan rumah sakit swasta "
Kedua tangan Salia terkepal. Bagaimana pun, ini adalah rumah sakit kakek nya.
Namun perlahan kedua tangannya melemah. Dia kembali duduk di kursi di samping ranjang rawat Tama.
Tama tersenyum penuh kemenangan. "Sekarang suapi aku lagi " kata Tama.
Salia mengambil mangkuk nya dan kembali menyuapi Tama.
♡♥♡♥♡♥♡
Refa menunggu Salia di restoran bersama Dealova.
"Maaf, ini salahku" kata Dealova.
__ADS_1
"Iya, ini benar-benar salahmu, seandainya kau tidak ada di hidupku, Meisa tidak akan marah.. " gerutu Refa.
"Kau mencintai nya? " tanya Dealova.
"Ya! Dia cinta pertamaku sejak kecil" jawab Refa.
Deg
Dealova terlihat sedih. Padahal dia juga mencintai Refa.
"Aku tahu perasaan Meisalia pasti sakit melihat ku bersama Refa, karena aku juga merasa sakit hati mendengar Refa mencintai Meisalia"
♡♥♡♥♡♥♡
Bubur itu habis. Salia membantu Tama meminum susu cokelat nya.
"Apa aku tidak perlu meminum obat lagi? " tanya Tama.
"Tidak, obat itu bisa di minum tanpa makan terlebih dahulu" jawab Salia. Dia membereskan nampan.
Namun, tiba-tiba dia merasakan dada nya sesak dan kesulitan bernapas.
"Hhh"
Salia memegang dada nya. Tama terkejut dan menyadari itu.
"Eh.. Kamu kenapa? Jangan bilang suster bisa sakit juga" kata Tama.
Salia tertekuk ke lantai. Dia memegang dada nya. Pandangan nya mulai kabur.
Tama melepaskan infus yang terpasang pada punggung tangannya. Dia menghampiri Salia.
"Hei, suster "
Tama bertekuk lutut di depan Salia. Salia pun tersungkur tak sadarkan diri dipelukan Tama.
Tama terkejut. "Ah sial! Dokter!! Suster!! " teriak Tama.
Megan memasuki ruang rawat. "Astaga! Meisa!! "
Megan membopong tubuh Salia di bantu oleh Tama. Salia di baringkan ke ranjang Tama.
"Apa yang terjadi dengan nya? " tanya Megan.
"Aku tidak tahu, tadi dia sesak napas kemudian jatuh" jawab Tama.
"Kalau begitu anda duduk dulu di kursi ini ya, maaf ya" kata Megan.
Tama mengangguk. Dia duduk di kursi bekas Salia duduk tadi.
Tama melihat dada Salia...
Emm.. Bukan dada.. Tapi pin nama..
Tertera nama Meisalia M. D
Tama mengerutkan dahinya.
♡♥♡♥♡♥♡
By
__ADS_1
Ucu Irna Marhamah