
Di dalam jet, Salia terlihat melamun. Kondisinya masih lemah dan dia masih dalam tahap pengobatan dan psikoterapi. Karena emosinya kadang berubah-ubah dan cenderung tidak stabil.
Sore nya, mereka sampai di Indonesia. Mereka langsung ke rumah sakit Danuarga tanpa ke mansion dulu. Salia bisa menghirup udara yang lebih segar dari sebelumnya.
Dia sudah bisa melepaskan jaketnya di negeri tropis itu. Salia di rawat di kamar rawat yang di jaga begitu ketat. Bahkan penjaga nya sampai 4 orang.
Salia sangat bosan. Lagi-lagi dia harus berbaring di rumah sakit dan seharian menatap ruang bercat putih itu.
"Mama disini ya, jagain kamu.. Ya sayang ya" kata Meina sambil membelai lembut rambut panjang putri nya.
Salia mengangguk.
"Ma.. "
"Ya sayang? "
"Apa Papa juga melakukan hal seperti ini pada Mama dulu? "
Meina terlihat sedih. Bukannya dia tidak mau mengingat masa lalunya. Tapi dia sedih mengingat nasib putri nya itu sama dengan nya.
"Bahkan.. Papa mu lebih kasar.. Sampai-sampai Mama menderita gejala vaginismus beberapa bulan lama nya.. Mama rasa kamu tidak sampai seperti Mama.. Tapi Mama sangat sedih dengan keadaan mu ini, nak"
Salia terlihat sedih.
"Entah kenapa.. Mama merasa pria yang bernama Aryatama itu.. Mencintai mu.. "
Deg
Salia tahu itu. Tapi dia pura-pura tidak tahu. Dia pernah berkali-kali mendengar pengakuan Tama yang mencintai nya. Walau dia tidak yakin dengan ucapan Tama itu.
"Kenapa dia mencintai ku? Bukankah dia melakukan ini untuk membalaskan dendamnya? " tanya Salia.
"Ibu lihat tidak ada luka di tubuhmu selain di lehermu. Dia menggigit mu? "
Salia mengangguk.
"Dia hanya menggigit mu.. Dia tidak mencekikmu kan? Itu karena dia mencintai mu.. Dia mungkin kasar.. Tapi jika dia ingin membalaskan dendamnya pada mu, kenapa dia tidak menghabisi mu? Itu karena dia mencintai mu.. Lalu kenapa setelah dia mendapatkan dirimu, dia memakai kan mu pakaian? Karena dia tidak ingin ada orang lain yang melihat tubuhmu.. Kenapa dia mengatakan kau lebih pantas menjadi istriku, tapi sayangnya kau adalah putri dari musuh ku. Itu artinya dia menyayangkan takdir yang menghadirkan mu dikeluarga kami dan kenapa kau tidak terlahir dari keluarga lain? Aku yakin 90% dia mencintai mu.. Sadar atau tidak"
Deg
__ADS_1
"Kenapa Mama seolah bisa membaca pikiran Tama? " tanya Salia.
"Karena itu juga yang terjadi pada Papamu"
"Papa? "
"Iya, Papa mu dengan Tama itu sama. Sama-sama gila" gerutu Meina.
Salia terlihat berpikir dan mencerna kata-kata ibunya. Yang bisa di bilang masuk akal juga.
"Mama yakin, suatu hari nanti, Tama akan kembali dan mencarimu atau mungkin ingin menjadikan mu sebagai istrinya "
"Itu hanya mimpi, aku tidak sudi menjadi istrinya, dia pria terberengsek yang pernah ku lihat seumur hidupku"
"Ya sudah.. Mama akan mendukung apapun yang kau mau, sekarang istirahat ya, Mama akan menemanimu disini "
Salia tersenyum sendu kemudian mengangguk.
"Nah gitu, senyum kan cantik kaya Mama" kata Meina dengan bahasa Indonesia nya sambil mencubit pipi Salia.
♡♥♡♥♡♥♡
Perlahan manik hazel terang itu menampakkan diri. Salia berkali-kali mengerjap. Hari sudah pagi. Tidak ada siapa-siapa di ruangan itu.
Hanya ada dirinya. Dia melirik ke meja. Ada sebuket bunga tulip merah dengan note, ada buah-buahan, dan ada note yang lainnya.
Salia mengambil note yang menumpuk dulu. Dia membacanya satu persatu.
Papa akan kesini nanti siang ya, jangan lupa makan buah-buahan nya, sayang
Papa Mikey
Salia tersenyum. Tentu dia tahu itu tulisan Papa nya. Terlihat betapa artistik tulisan seorang dr. Michael. Jadi buah-buahan itu dari ayahnya.
Salia membaca note selanjutnya.
Cpt smbh yaaa
__ADS_1
Megania
Jngn lupa mnum obt kak Sali
Marcello
Mama pulang jam 7 pagi tadi karena ada urusan kantor.. Maaf gak bilang.. Mama gak mau ngebangunin kamu yang lagi tidur nyenyak, nanti Mama sama Papa kesana bareng yaa
Mama cantik
Salia tersenyum. Betapa banyak orang yang merindukan dia dan mensuport dia dalam keadaan seperti itu.
Dia tidak akan mengecewakan mereka dan akan kuat menghadapi masalah yang dia hadapi.
Salia mengambil satu buah apel dan memakannya. Apel hijau yang begitu segar.
Dia melihat ada sebuket bunga tulip merah. Dia penasaran siapa pengirimnya. Dia pun mengambil nya.
Sesaat dia menghirup aroma tulip tersebut. Dia tersenyum bahagia meskipun keadaannya sangat buruk, namun dia bersyukur karena masih banyak yang peduli padanya.
Salia membaca note yang tertempel pada buket tersebut.
Selamat pagi cantik, aku yakin kamu sudah bangun, aku harap kamu cepat sembuh ya, aku membeli bunga kesukaan kamu, aku tahu.. Tulip merah kan? Lambang Cinta, jangan lupa makan, minum obat dan vitamin ya..
Your Lágrimas
Salia mengerutkan dahinya.
"Lágrimas? "
"Mungkin Refa.. Dia memang tidak bisa bersikap romantis " keluh Salia.
Tanpa dia sadari, sepasang manik mata tajam itu mengawasinya dari luar kamar rawat.
♡♥♡♥♡♥♡
By
__ADS_1
Ucu Irna Marhamah