La'grimas

La'grimas
88


__ADS_3

Follow


Vote


Comment


Mykhalista Danuarga


Perlahan ku buka kedua mataku. Aku mengerjap karena sinar matahari menyilaukan mataku.


Hari sudah pagi rupanya. Aku pun bangkit dari ranjang tempat tidur ku.


Aku mencium aroma sedap dari dapur.


Pasti Megan yang memasak. Aku sudah melatihnya dengan baik.


Aku pun memasuki dapur tanpa mandi dulu.


Aku terkejut melihat seorang pria tinggi tengah mengotak-atik alat masak sementara Megan duduk di meja makan.


Namun keterkejutan ku sudah terjawab dengan ingatanku dimana si Robert kemarin datang kemari dan mungkin semalam dia menginap.


"Mama.. Sini duduk " kata Megan semangat sambil melambaikan tangannya kearah ku.


Robert menoleh kearah ku kemudian tersenyum tampan.


Ah ralat..


Maksudku menjijikan.


Kemudian aku pun duduk di samping Megan.


"Sayang, kenapa kamu ngerepotin Om Robert? " tanya ku.


"Om Robert bilang, Om Robert mau masak dan mau menunjukkan kalau masakannya sangat lezat" kata Megan antusias.


Putriku ini memang manja meski usianya sudah 24 tahun. Itu karena aku sangat menyayangi dia. Sehingga dia begitu manja.


Namun dia bukan manja seperti merengek untuk hal yang berat. Dia hanya merengek yang wajar bagiku.


Aku tidak mempermasalahkan itu.


Robert selesai memasak dan menyajikan makanan ke meja.


"Silakan di makan" kata Robert sambil duduk berhadapan dengan kami.


Kami pun menyantap hidangan yang lezat sekali buatan Robert.


Robert memang ahli memasak seperti biasanya.


Megan sering bilang kalau dia ingin sarapan dan makan bersama keluarga kecil kami bersama ayahnya.


Dan sekarang itu terjadi.


Robert berada diantara kami. Dia bersama kami.


Robert memang ayah yang sangat baik.


Aku juga pernah mencintai dia..


Namun sayang sekali..

__ADS_1


Dia sepupuku..


Robert benar, seandainya kita tidak terlahir dari keluarga yang sama.


"Oh ya Ma.. Hari ini kita kerja ya" kata Megan yang membuatku terhenyak dari lamunanku.


"Iya sayang " kataku menjawab nya.


"Aku akan mengantar kalian" kata Robert.


"Tapi Om, apa tidak merepotkan? " tanya Megan.


"Iya, itu tidak perlu, Robert" kataku menimpali.


"Tenang saja.. Mobilku akan segera sampai" jawab Robert dengan angkuhnya.


Dasar menyebalkan sekali.


Terdengar suara mobil terhenti di depan rumah ini.


"Nah itu dia" kata Robert kemudian berlalu meninggalkan kami berdua.


"Om Robert baik sekali ya, Ma" kata Megan padaku.


"Hmm iya" kataku acuh tak acuh.


"Semalam dia mengaku sebagai ayahku di depan teman-teman ku" kata Megan yang membuatku terkejut setengah hidup..


Maksud ku setengah mati.


Apa Robert sudah tahu kalau Megan putrinya?


Bagaimana ini?


"Itu dia lakukan agar teman-teman ku tidak meledekku anak haram" kata Megan sambil menunduk sedih.


Oh Malang sekali Putri cantik ku. Aku memeluk nya.


"Sekarang aku tidak akan membicarakan tentang Papa lagi.. Karena Om Robert sudah seperti Papa Megan.. Om Robert melindungi Megan seperti putrinya" kata Megan semangat.


Sungguh aku merasa sangat sedih mendengar ucapan polos nya itu.


Robert memasuki ruang makan.


"Wah? Apa yang ku lewatkan? Kenapa kalian berpelukan? Apa aku boleh memeluk kalian? " tanya Robert sambil tertawa.


"Iya peluk kami! " seru Megan semangat. Dia menarik tangan Robert.


Robert pun memeluk kami.


Aku menatap Robert begitu pun dengan Robert.


Kulihat tatapan matanya masih sama seperti dulu..


Penuh Cinta dan kasih sayang..


Dan itu membuatku menderita..


"Ehm" aku melepaskan pelukan yang membuatku semakin sesak ini.


"Aku harus pergi bekerja " kata ku.

__ADS_1


"Baiklah, ayo" kata Robert.


Kami pun keluar dan kulihat mobil mewah itu terparkir di depan rumah ini.


"Ayo masuk" Robert membukakan pintu untuk Megan. Megan pun masuk. Aku akan masuk, tapi Robert malah menutup pintu nya.


"Kau duduk di sampingku" kata Robert sambil membuka pintu mobil yang depan.


Aku pun masuk. Dan Robert juga. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Selama di perjalanan, Megan terus berbicara dan Robert menanggapi nya.


Aku memperhatikan mereka berdua. Tanpa aku sadari, alu tersenyum.


Dan aku membayangkan sebuah keluarga kecil..


Aku..


Megan..


Dan..


Robert..


Pasti sangat bahagia..


"Kalian bekerja dimana? " tanya Robert membuat lamunanku buyar.


"Aku bekerja di Sonia Hospital dan Megan bekerja di apotik Rostali" kataku menjawab pertanyaan Robert.


"Kenapa berpisah? " tanya Robert.


"Karena Megan masih magang.. Dulu dia pernah bekerja di Danuarga Hospital bersama Salia" kataku lagi.


"Oh jadi begitu, baiklah " kata Robert.


"Sebentar lagi, kita sampai di apotek tempat aku kerja Om" kata Megan.


"Ok" kata Robert.


"Nah di depan Om" kata Megan sambil menunjuk sebuah gedung yang cukup besar.


Mobil Robert menepi. Megan pun keluar dari mobil dan berpamitan pada kami.


Robert melambaikan tangannya kemudian melajukan mobilnya.


Sial!


Sekarang aku hanya berdua dengan Robert..


"Aku ingin menanyakan banyak hal padamu.. Pertanyaan-pertanyaan yang hingga saat ini belum kau jawab" kata Robert.


Itu membuatku cukup khawatir..


Pertanyaan-pertanyaan Robert pasti lebih sulit dibandingkan soal ujian nasional.


Sebelum dia bertanya, aku akan mencari kunci jawaban nya dari sekarang.


...By...


...Ucu Irna Marhamah ...

__ADS_1


__ADS_2