La'grimas

La'grimas
65


__ADS_3



"Baiklah sayang, ayo orang tua bergabung di sana.. Biarkan orang-orang muda ini berbincang-bincang " kata Michael sambil merangkul Meina dengan possesif dan berlalu.



"Ah.. Iya iya kau tidak perlu seperti ini" gerutu Meina.



Salia tertawa kecil.



Refa hanya menggeleng pelan melihat tingkah Michael dan Meina.



"Oh hai alis tebal" kata Refa pada Tama.



"Hai, jagung hidup " kata Tama.



Salia dan Renata tertawa.



Refa melirik rambutnya sendiri sekilas.



"Aslinya rambutku hitam hanya saja aku mengecatnya.. Warnanya juga coklat.. Bukan pirang" kata Refa setengah menggerutu



"Oh berarti aku harus mengganti panggilanku.. Emm jagung bakar" kata Tama.



Lagi-lagi Salia dan Renata tersenyum geli.



"Terserah saja.. Alis tebal" kata Refa.



"Kalian tampak begitu akrab sejak terakhir kalian bertemu" kata Salia.



"Ini demi kau, sahabatku " kata Refa.



"Ah terimakasih, kau baik sekali" kata Salia.



"Jangan menggoda Salia, dia milikku sekarang " gerutu Tama.



"Aku tahu, kau berlebihan sekali" kata Refa.



"Ah kalian sudahlah.. Refa.. Dimana Dealova..?? Kenapa kau datang sendiri? " tanya Salia sambil melihat ke pintu mansion.



"Dia sudah kembali" jawab Refa dengan ekspresi sedih.



"Kembali? " tanya Salia.



"Iya, aku sudah membantunya kembali ke negara asalnya" jawab Refa.



Salia melihat raut kehilangan di wajah Refa.



"Kau akan kembali membawanya kan? " tanya Renata tiba-tiba.



Salia, Tama dan Refa menoleh kearahnya.



"Emm.. Entahlah " jawab Refa ragu.



"Kenapa ragu Refa? Kau mencintai nya kan? " kata Renata.



Tama dan Salia saling pandang. Refa menatap Renata dan mengerutkan keningnya.



"Kau pasti akan membawa Dealova kembali bersama mu kan.. Seperti Aryatama membawa Meisalia untuk hidup bersama" kata Renata.



Refa melirik Tama dan Salia kemudian menatap Renata.



"Entah kenapa aku merasa kalau kau.. Meisa kecil yang bermain bersama ku dan.. Aku merasa itu kau " kata Refa sambil menyentuh bahu Renata.



Renata melirik Salia. Salia mengangguk membiarkan Renata menjawab nya.



"Emm.. Mungkin itu hanya perasaan mu Refa.. Tapi percayalah.. Aku lebih mengenalmu dari siapapun.. Karena.. Karena aku mengenalmu" kata Renata.



Refa tahu Renata sedang berkelit dan menyembunyikan sesuatu. Refa merasa Renata adalah Salia yang bersama nya waktu kecil.



"Selamat ulang tahun.. Aku akan membawa kembali Dealova.. Terimakasih Renata" kata Refa sambil memberikan setangkai tulip merah pada Renata.



Dia berlalu, tapi dia kembali dan memberikan satu tangkai tulip merah pada Tama.


__ADS_1


Refa bergegas pergi.



"Hei jagung bakar, yang ulang tahun itu istriku, bukan diriku.. Atau jangan-jangan kau.. " kata-kata Tama tidak di teruskan karena Refa menyahut.



"Berikan pada istrimu.. " Refa sudah hilang di balik pintu mansion.



Salia terkekeh kecil. Tama tersenyum kaku kemudian memberikan tulip merah itu pada Salia.



"Terimakasih.. Alis tebal" kata Salia.



"Ah.. Berterima kasihlah pada jagung bakar itu" kata Tama.



Salia tertawa. "Maafkan aku, sayang" kata Salia sambil menerima bunga tulip tersebut.



Terdengar langkah kaki memasuki mansion. Salia menoleh.



Seorang wanita cantik yang selama ini dia rindukan berdiri disana dengan ekspresi sedih.



"Salia" wanita itu menghampiri nya dan mereka saling menatap. Renata menghela nafas berat.



"Grace" Salia memeluk wanita yang tak lain adalah sahabat nya sejak lama. Sahabat terbaiknya, Grace.



"Maafkan aku" kata Grace.



"Berhenti bilang begitu.. Aku sudah bahagia sekarang.. Bagaimana kabarmu? " kata Salia kemudian di akhiri pertanyaan.



"Aku baik-baik saja.. Tapi selama ini aku selalu memikirkan keadaanmu.. Aku mencemaskan mu dan merasa sangat bersalah padamu.. Aku.. " Grace tidak melanjutkan kata-katanya karena air mata nya sudah menetes membasahi pipinya.



"Sudahlah.. Aku sudah bahagia sekarang.. Tama benar-benar membahagiakan ku.. Walau.. Ceritanya begitu panjang" kata Salia.



"Benarkah? " tanya Grace kemudian menatap Tama.



"Seperti janjiku padamu.. Aku akan membahagiakan Salia" jawab Tama.



"Terimakasih Tama" kata Grace.



"Tidak, seharusnya aku yang berterima kasih padamu" kata Tama.




Grace menoleh kearah Renata. Dia tampak terkejut.



"A.. Apa? " tanya Grace.



"Tidak ada pertanyaan " kata Salia memperingatkan.



"I.. Iya.. Hai.. Renata" kata Grace sambil menyalami Renata.



"Hai, Grace" jawab Renata.



"Senang berkenalan dengan mu.. Kalian mirip ya" kata Grace sambil menatap Renata dan Salia bergantian.



"Namanya juga kembar" gerutu Tama.



"Ehehe.. Iya.. Maaf.. " kata Grace.



"Kau akan menginap kan disini kan? " tanya Salia dengan ekspresi memohon.



"Maaf, aku harus kembali ke Amerika dan menjalani tugas disana" kata Grace.



Salia terlihat kecewa.



"Tapi aku janji lain kali aku akan menginap ya" kata Grace sambil menangkup wajah Salia.



"Terimakasih " Salia memeluk Grace.



"Ah kebetulan aku membawa 2 dress aku beli untuk kau dan Renata.. Lihatlah.. Dua-duanya berwarna merah.. Hanya saja, beda modelnya kalian suka? " kata Renata sambil memberikan masing-masing satu.



"Terimakasih.. Ini Bagus, Grace" kata Renata.



"Sama-sama.. Ku harap kalian suka" kata Grace.



"Terimakasih, Grace.. " kata Salia sambil tersenyum.

__ADS_1



"Baiklah.. Aku harus pergi, sampai jumpa" kata Grace sambil menciup kedua pipi Salia.



"Dah Renata" kata Grace sambil memeluk Renata kemudian berlalu.



"Hati-hati di jalan " kata Salia.



Renata menatap tulip merah pemberian Refa. Dia mengingat masa kecilnya. Masa dimana dirinya terjebak didalam tubuh Salia adiknya.



Bukan hanya Salia yang mengingat masa itu, tapi juga Renata.



Dan yang terobsesi pada Refa itu bukan Salia, tapi Renata.



"Bunga yang Indah.. Refaldo" gumam Renata.



Namun dia harus merelakan Refa bersama Dea. Karena dia dan Refa berbeda dunia.



Salia merangkul Renata. "Aku tidak bisa membaca pikiranmu seperti Yoona.. Tapi aku baru menyadari kalau yang mencintai Refa itu kau.. Bukan aku" kata Salia.



"Lupakan.. Itu sudah lama" kata Renata sambil menggeleng dan tersenyum kecil.



"Mana keponakan cantikku yang sedang berulang tahun? " tanya seseorang.



Maharani, Michael dan Marc menoleh kearah pintu.



Tama, Salia dan Renata juga menoleh.



Tenyata Robert dan Vanessa serta Darren dan Carren.



Mykha terbelalak. Megan menoleh kearah ibunya.



"Kenapa setiap Mama melihat Om Robert, Mama selalu tampak cemas?" batin Megan.



"Wah Salia, perutmu besar sekali.. Berapa usia kandungan mu, sayang? " tanya Robert sambil menghampiri Salia.



"Menginjak 8 bulan di bulan ini" jawab Salia.



"Kau harus menjaga kandungamu ya.. Dan ah? Siapa dia? " tanya Robert yang terkejut melihat keberadaan Renata.



"Dia saudari kembarku, Renata " jawab Salia.



Robert mengerutkan keningnya. Dia tampak bingung.



"Hai, kau keponakan ku juga berarti ya" kata Robert sambil memeluk Renata.



Renata terkejut. Dia membalas pelukan Robert. "Ah.. I.. Iya paman" kata Renata.



"Om.. Bukan paman" kata Robert.



"Ah i.. Iya.. Om"



Vanesaa dan kedua anaknya juga berbincang dengan Salia dan Tama.



Mykha menarik tangan Megan. "Kita harus pergi"



"Ta.. Tapi kenapa Ma? " tanya Megan.



"Ayo.. Kita harus pergi "



"Secepat itu kah? Mykhalista? "



Deg



Mykha menoleh. Ternyata Robert sudah berdiri di belakang nya.



Mykha melihat juga tatapan membunuh dari anak dan istrinya Robert.



♡♥♡♥♡♥♡





By

__ADS_1



Ucu Irna Marhamah


__ADS_2