La'grimas

La'grimas
59


__ADS_3


Selama di perjalanan, Salia menangis tersedu-sedu. Tama menarik Salia ke pelukannya dan masih fokus menyetir.



"Ba.. Bagaimana ji.. jika.. Gerald menyakiti Renata" tangis Salia.



"Tenanglah.. Mana mungkin siluman itu meyakiti hantu kan? " kata Tama.



"Ka.. Kamu tahu.?" tanya Salia.



"Aku menyelidiki nya lagi.. Seperti nya kakakmu itu terjebak di dunia manusia.. Seharusnya di sudah pergi, Salia" kata Tama.



"Tidak Tama, dia kakak ku, yang selama ini melindungi kundi saat kamu da papa aku gak ada di dekat ku" sanggah Salia.



"Salia, dia hantu, dunia ini bukan tempat nya, seharusnya dia sudah bahagia di sisi Tuhan" kata Tama.



"Tapi dia juga bahagia di sisiku" kata Salia.



"Tidak, Salia, Renata harus segera kembali ke dunianya"



"Tidak! Kamu bilang begitu karena kamu kesal kan dengan keberadaan dia! "



"Ya! Dia mengubah mu, membuatmu jadi bipolar! "



"Awaaaass!!!! " teriak Salia melihat anak kecil lewat di depan mobil mereka.



Seketika Tama mengerem mobilnya.



Jantung mereka berdua berdetak cepat.



Anak kecil itu tampak gemetar ketakutan. Tama segera keluar dari mobil nya kemudian menghampiri anak kecil itu.



"Maaf ya, paman tidak melihatmu, lain kali hati-hati ya" kata Tama.



Tama mengantar anak kecil itu untuk menyeberangi jalan raya.



Tama kembali memasuki mobilnya. Dia melihat ekspresi wajah Salia yang begitu shock.



Tama memeluk nya. "Maafkan aku.. Kita akan bicara kan masalah ini nanti, kita pulang saja ya, sebentar lagi langit gelap" kata Tama.



Salia mengangguk pelan.



"Renata tidak apa-apa, percaya lah" kata Tama.



♡♥♡♥♡♥♡

__ADS_1



Tama memerintahkan seluruh bodyguard nya untuk menjaga ketat mansion nya.



Salia merasa kalau Tama itu berlebihan. Tapi dia tidak mau berkomentar karena suami keras kepala nya itu pasti akan marah.



Salia menggeser pintu kamar dan dia pun duduk di tepi ranjang. Dia masih cemas dan takut.



Tama memasuki kamar. Dia duduk di samping Salia.



"Aku harap kau tidak bekerja lagi di rumah sakit itu " kata Tama.



"Iya.. Aku mengerti " jawab Salia. Tama menatap Salia. Tidak seperti biasanya dia menurut begitu.



Tama merangkul Salia. "Aku tidak mau kehilangan mu dan anak-anak kita" kata Tama sambil membelai perut besar Salia.



"Aku akan menelepon Ryuuga" kata Tama sambil beranjak ke meja dan mengangkat gagang telepon. Dia menekan nomor.



Salia memperhatikan setiap gerak gerik Tama.



"Halo? Ada apa Tn. Adiwijaya? "



"Maaf Tn. Imamura.. Seperti nya istri ku tidak bisa bekerja di rumah sakit mu"




"Sore ini hampir saja kami berdua di celakai siluman naga yang.. Ehmm.. Menakutkan di tempat makan rumah sakit mu.. Bahkan tempat makan mu sampai hancur berantakan dan banyak juga saksi mata yang melihat kejadian itu" kata Tama yang tampaknya tidak enak mengatakan itu.



"Hahaha" terdengar tawa lepas dari seberang sana.



"Ini zaman modern Tn. Adiwijaya.  Tidak ada naga.. Tempat makan ku juga baik-baik saja.. Jika kau tidak percaya kau bisa kemari melihat keadaan tempat makan ku yang masih utuh dan begitu pun dengan pelanggan nya.. "



Tama tampak berpikir. Dia melirik Salia yang tampak bingung dengan ekspresi Tama.



"Emm.. Apa kau yakin? " tanya Tama.



"Sudah ku bilang.. Cek saja kemari" kata Ryuuga.



Tama masih tampak berpikir.



"Tn. Adiwijaya, kami pasti sangat bahagia dengan adanya dr. Meisalia sebagai anggota baru rumah sakit ku.. Kami membutuhkan dokter ahli seperti dia.. Ku mohon bekerja lah padaku"



"Aku akan kesana mengecek kembali tempat makan mu.. Jika benar-benar masih utuh, aku akan membiarkan istri ku bekerja disana, aku akan segera kesana" kata Tama.



Setelah sedikit berbasa-basi untuk menutup pembicaraan, Tama mengakhiri panggilan nya. Dia menghela napas berat.


__ADS_1


"Bagaimana, Tama? " tanya Salia.



"Aku harus kembali ke rumah sakit itu " kata Tama.



"Apa? Tapi naga-naga itu? " tanya Salia yang terlihat hawatir.



"Aku akan kembali.. Jaga dirimu ya.. Jika butuh sesuatu, katakan pada para pelayan" kata Tama.



Salia menggelengkan kepalanya. "Aku mau ikut.. Renata masih disana.. Aku mau melihat keadaan nya" kata Salia.



"Salia, ini bahaya" kata Tama.



"Bukankah kau ada bersamaku? Kau akan menjagaku kan? Kau masih mencintai ku kan, Tn. Aryatama Arbano Adiwijaya? " tanya Salia sambil bangkit dari duduknya.



"Aku masih mencintai mu, sayang dan akan selalu mencintai mu.. Sampai kapan pun.. Jangan pernah meragukan ku, Salia" kata Tama cepat.



Salia melangkah menghampiri suaminya. Dia menatap kedua manik abu-abu milik Tama. Begitu pun Tama menatap kedua manik hazel milik Salia.



Dulu, kedua mata abu-abu yang setajam mata elang itu yang selalu menakutinya.. Mengawasinya dan menatap tajam dirinya..



Namun sekarang kedua mata itu juga yang menjaganya dan masih Setia mengawasinya.



Salia menangkup wajah Tama dengan kedua tangannya.



"Percayalah.. Aku tidak akan menyusahkan mu.. Aku hanya ingin ikut dengan mu.. Selain kamu, Renata juga yang selama ini menjagaku.. Dia yang tahu apa yang akan terjadi menimpaku nantinya.. Dia saudari kembar ku.. Meskipun dia sudah tiada, aku tetap menganggap nya masih ada.. " kata Salia.



Tama menyentuh kedua tangan Salia yang menangkup wajahnya.



"Baiklah.. Kau boleh ikut bersama ku, tapi ikuti kata-kata ku" kata Tama.



Salia tersenyum kemudian dia mengangguk. Salia mencium bibir Tama dengan lembut.



Tama terbelalak. Baru kali ini Salia mencium nya duluan.



Tama mendorong tengkuk Salia dan membalas ciuman istri tercinta nya itu.



♡♥♡♥♡♥♡






By



Ucu Irna Marhamah

__ADS_1


__ADS_2