
Salia membuka lembar demi lembar album foto kenangan lama nya dengan keluarga besar Danuarga.
Salia menatap wajah sang ayah. Ayah yang sangat Salia sayangi. Ayah yang selalu menjaga Salia dan mencintai Salia sepenuhnya.
"Papa.. Kenapa ini terasa begitu cepat? " gumam Salia.
***
Michael menggendong tubuh Salia kecil.
"Papa " gumam Salia yang tampak nya tidak sehat.
"Kamu akan baik-baik saja.. Papa janji sayang.. " kata Michael kemudian memeriksa Salia.
"Papa.. Aku tidak akan mati kan.. Oma bilang aku punya penyakit asma seperti Mama" kata Salia dengan ekspresi cemas.
"Itu tidak akan terjadi sayang.. Papa janji.. Karena Papa selalu menjaga kamu.. Mama kamu juga baik-baik saja kan.. " kata Michael.
"Tapi sakit rasanya Pa.. " kata Salia sambil menyentuh dadanya.
"Suuuttttssss" kata Michael. "Buka mulutmu, sayang " kata Michael.
Salia membuka mulutnya. Michael meminumkan Salia obat.
"Papa.. Aku tidak akan mati kan? " tanya Salia.
"Papa janji kamu gak akan tiada.. Sebelum Papa pergi lebih dulu" kata Michael.
Salia yang masih polos dan tidak mengerti maksud perkataan ayahnya memeluk Michael dengan erat.
"Aku sayang Papa"
"Papa lebih sayang sama kamu" kata Michael sambil membalas pelukan Salia.
"Oh ya pa.. Aku udah tahu apa cita-cita ku" seru Salia.
"Benarkah? Katakan kamu mau jadi apa? " tanya Michael.
"Aku mau jadi dokter hebat seperti Papa" kata Salia semangat.
"Wah benarkah? Kalau begitu belajar dari sekarang ya" kata Michael.
"Iya Papa " jawab Salia semangat kemudian kembali memeluk Michael.
***
Clak
Air mata Salia menetes membasahi foto Michael yang mengenakan jas putih nya serta senyuman abadi yang tidak akan pernah hilang.
"Jangan biarkan La'grimas mu mengalir lagi Salia" kata Tama yang berdiri di ambang pintu.
Salia menoleh kearah Tama.
"Aku tidak sanggup melihatnya.. " Tama menghampiri Salia kemudian memeluknya dengan erat.
"Aku sudah berjanji pada Papa untuk membahagiakan mu.. Papa sangat menyayangi kamu.. Dia pasti sedih kalau melihat mu sedih.. " kata Tama.
"Dia.. Dia.. Dia Papa ku.. Aku sayang dia.. " kata Salia.
"Aku tahu, sayang " jawab Tama.
Salia melelapkan kepalanya ke dada bidang Tama.
"Kamu harus sarapan.. Bayi-bayi kita harus kuat seperti Mama nya" kata Tama.
__ADS_1
"Baiklah.. Hanya beberapa suap" kata Salia.
"Iya.. Ayo" kata Tama.
♡♥♡♥♡♥♡
Mykha dan Megan memasuki pesawat. Mereka duduk dan terlihat lelah.
"Om Mike adalah Papa yang baik" gumam Megan.
Mykha membelai lembut rambut putrinya.
"Kamu sayang dia ya" kata Mykha.
"Iya.. Om Mike sering bilang anggap saja dia sebagai Papa untuk ku.. " kata Megan.
"Dia memang sangat baik.. Semua orang merasa sangat kehilangan dia.. Kasihan Meina dan Salia yang merasa paling kehilangan " gumam Mykha.
"Mereka pasti kuat dan bisa menjalani hidup baru mereka tanpa Om Mike" kata Megan.
"Semoga saja" kata Mykha.
"Hmm.. Sekarang hanya ada Om Robert.. " kata Megan.
Deg
Mykha terkejut saat putrinya menyebut nama terlarang baginya.
"Ada apa dengan Robert? " tanya Mykha.
"Hanya Om Robert kerabat kita kan" kata Megan.
"I.. Iya.. Tapi jangan terlalu dekat dengan nya" kata Mykha.
"Dia tidak sebaik Michael " jawab Mykha.
"Emm kurasa.. Dia sama seperti Om Mike" kata Megan.
"Tidak.. Robert itu gila" gumam Mykha.
"Apa? " tanya Megan..
"Ah bukan apa-apa " jawab Mykha.
Tanpa mereka sadari, seorang pria yang duduk di kursi belakang menguping pembicaraan mereka.
Pria itu tidak lain adalah Robert.
♡♥♡♥♡♥♡
Singapore
Mykha dan Megan keluar dari bandara. Mereka menyetop taxi.
"Ma.. Kenapa kita pindah-pindah tempat tinggal? " tanya Megan.
"Pekerjaan Mama yang membuat Mama pindah" jawab Mykha.
"Ku pikir Mama sudah nyaman di Hongkong" kata Megan.
"Kamu benar.. Mama udah nyaman di Hongkong, tapi Mama harus hindarin Papa kamu.. Mama gak mau dia ganggu hidup kita " batin Megan.
"Disini Mama akan bekerja pada teman Mama yang punya rumah sakit swasta.. Kamu juga akan Mama ajukan" kata Mykha.
__ADS_1
"Emm.. Baiklah.. " jawab Megan.
Taxi yang membawa Megan dan Mykha terhenti di depan sebuah rumah yang cukup besar meskipun satu tingkat.
Mykha memberikan uang pada sopir kemudian dia merangkul Megan dan memasuki rumah baru mereka.
"Rumah ini tidak bertingkat seperti rumah kita yang dulu.. Tapi Mama rasa ini cukup nyaman untuk kita berdua" kata Mykha.
"Aku suka rumah ini, Ma.. Sederhana dan nyaman.. " kata Megan.
Mykha tersenyum kemudian membelai lembut pipi putrinya.
"Sekarang kamu pilih kamar yang mau kamu pakai ya sayang " kata Mykha.
Megan mengangguk. Dia pun melihat satu persatu ruangan di rumah itu.
Mykha menghela nafas panjang. Dia sangat lelah sehingga dia pun melelapkan dirinya di sofa.
Seseorang memasuki rumah itu. Tak lain dia adalah Robert.
Robert memperhatikan sekeliling.
"Jika kau menerima tawaranku, maka kau tidak akan seperti ini, tinggal di rumah buruk ini" gumam Robert.
Robert menatap wajah Mykha yang terlihat lelah tertidur di sofa.
Robert menyentuh pipi Mykha. "Kau masih saja cantik dan wajah mu ini selalu menggoda ku.. " gumam Robert.
Megan memasuki ruang tengah. Dia terkejut dengan keberadaan Robert.
"Om Robert!!! " seru Megan.
Robert terhenyak. Dia menoleh kearah Megan. Mykha juga terbangun dari tidurnya. Dia terkejut melihat keberadaan Robert.
Robert tersenyum pada Megan. "Sini.. Mana pelukannya? " tanya Robert sambil merentangkan kedua tangannya.
Megan tersenyum kemudian berlari dan memeluk Robert.
Mykha terlihat sedih melihat Megan yang begitu akrab dengan Robert.
Robert membalas pelukan Megan. Dia membelai lembut rambut Megan.
Robert melirik Mykha. Mykha menautkan alisnya kesal.
"Sekarang kau tidak bisa lari dari ku" batin Robert.
"Apa sampai sekarang pun kau akan mengganggu ku? " batin Mykha.
"Om boleh kan tinggal disini? " tanya Robert.
Megan melepaskan pelukannya kemudian menatap Mykha dengan ekspresi memelas.
"Mama.. Boleh kan.. Boleh kan.. " kata Megan.
Mykha melirik Robert yang menyeringai tampan.
Skakmat!
Mykha!
♡♥♡♥♡♥♡
By
__ADS_1
Ucu Irna Marhamah