La'grimas

La'grimas
21


__ADS_3




Setelah Tama selesai mengobati luka di wajah Salia, dia menatap Salia dengan lekat. Tangan kanannya menangkup pipi Salia.



Salia mengerutkan dahinya.



"Jaga dirimu, jangan sampai kau terluka atau aku menghabisimu sekarang juga" ancam Tama.



Salia mengerutkan dahinya mendengar ancaman aneh dari penguntit di depan nya.



Tama berlalu. Salia sangat kesal dia bangkit dari kursi dan terjatuh karena perutnya terasa sakit.



Tama terkejut. Langkahnya terhenti. Dia berbalik dan membantu Salia bangkit.



Di kesempatan itu, Salia menarik masker Tama dan dia bisa melihat wajah Tama. Salia terkejut meski dia sudah menduganya.



Wajah tampan Tama terkejut dengan aksi Salia. Dia dan Salia saling menatap.



"Kkau.. Tetangga apartemen ku? Kenapa? " tanya Salia dengan air mata berlinang di kedua matanya.



Tama tersenyum bengis membuat Salia ketakutan. Dia mundur dan mendorong Tama.



"Tidak masalah, sekarang kau tahu siapa aku" kata Tama sambil membuka jas dan dasinya. Menampilkan tubuh kekarnya.



Salia menggeleng tidak percaya. Dia sudah bersimpati pada Tama.



"Kau sudah tahu alasanku, Salia.. Aku benci padamu karena ayahmu.. Dia telah menghabisi Aryanira adikku! Padahal Aryani tidak tahu apa-apa soal bisnis perusahaan! Tapi Michael menghabisinya tanpa perasaan! Ayahmu sangat kejam! Psikopat gila itu benar-benar sialan! Aku ingin membalaskan dendam ku padamu.. Meisalia! "



Deg



Salia menggeleng.



"Asal kau tahu, aku sudah menguntit mu selama 4 tahun terakhir, aku mengenalmu, semua yang kau tahu aku juga tahu, bahkan semua yang tidak kau sadari ,  aku menyadari nya, Salia"



Salia menggeleng ketakutan.



"Sampai-sampai aku mencintai mu! Aku jatuh cinta padamu, Salia! "



Deg



Salia tercengang.



"Aku cinta pada targetku sendiri.. Tapi itu tidak masalah, kita bisa bersenang-senang.. Balas dendam sambil melepaskan ..."



Salia menutup kedua telinganya. Dia tidak ingin mendengar kata-kata laknat dari mulut Tama.



"Aku cemburu melihat mu yang begitu Setia nya menunggu dan mencintai Refaldo sepenuh hati.. Aku cemburu.. Kenapa kau tidak mau melirikku sedikit pun.. Aku memang bukan impor, tapi ekspor lebih terjamin baik kan? " kata Tama di akhiri dengan tawaan yang mengerikan.



"Jika kau baik, kau tidak akan seperti ini! "



"Masih baik aku mau berbaik hati padamu, sayang " kata Tama sambil mendekati Salia.



Salia mundur.



"Aku akan melupakan dendamku pada Michael, Robert dan aku juga tidak akan menguntit mu lagi.. Tapi.. "



Tama menggantung kata-kata nya. Salia menautkan alisnya.


__ADS_1


"Tapi apa? " tanya Salia cepat.



"Kau harus tidur dengan ku malam ini"



Deg



"Aku tidak mau melakukannya! Aku bukan jalang! " bentak Salia.



Tama tersenyum. "Aku tidak menyebutmu jalang, aku ingin dirimu, Salia"



Tama semakin dekat dan menarik dagu Salia dengan lembut.



"Aku akan bermain lembut, karena aku tidak mau membuatmu jadi takut padaku.. Jadi.. Kau harus menerimaku "



"Tidak! " Salia mendorong dada Tama. Tapi Tama tidak mau kalah. Dia mendorong Salia dan menindih nya.



"Lepaskan aku!! Tolong!!! "



"Jika kau mau berteriak, teriakkan namaku" bisik Tama di telinga Salia.



"Lepaskan aku! Dasar sialan!! Lepaskan!! "



"Apanya yang di lepaskan? Bajumu dulu atau rok mu? " desah Tama.



"Sialan kau!! Lepaskan diriku!! "



"Aku tidak mau" kata Tama kemudian mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Salia dengan lembut.



Salia tercengang. Beraninya tetangga apartemen nya itu merenggut ciuman pertama nya. Dia berontak. Tama memainkan bibirnya di bibir Salia. Salia meronta.



Tama mencari celah untuk memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Salia. Salia menutup rapat bibirnya.




Dengan kesempatan itu, Tama memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Salia. Salia kehabisan napas. Dia berusaha mendorong dada Tama.



Dia menggigit bibir Tama. Tama melepaskan ciumannya. Dia menatap kesal pada Salia.



"Aku tidak akan marah dan berubah jahat seperti Michael pada ibumu.. Tapi aku akan menghukum mu karena telah menggigit bibir kissable ku" kata Tama kemudian mencium leher Salia dan menghisap nya.



Salia berontak, ya walau dia merasakan sensasi aneh dari perlakuan Tama padanya.



"Hentikan!!! "



Tama merobek kemeja Salia. Salia meronta dan berhasil menendang dada Tama. Dia dengan cepat mengambil jasnya berlari keluar dari apartemennya. Pergi sejauh mungkin.



Dia menelepon Michael. "Papa.. Hiks.. Hiks.. Papa dimana..?? Aku takut, aku mau Papa sama Mama kesini" Salia berkata sambil menangis.



"Kami sedang dalam perjalanan.. Katakan kamu dimana sayang? Apa yang terjadi padamu? "



"Aku mau ke apartemen Grace... Tolong Pa.. Penguntit ada di apartemen ku.. Aku takuut"



"Iya sayang.. Sekarang pergilah ke apartemen Grace.. Nanti biar Papa sama Mama menyusul kesana"



"Iya Pa.. "



Salia menyetop taksi karena dia tidak sempat membawa kunci mobil di nakas. Dia memasuki taksi dan menyebutkan alamat apartemen Grace.



Di dalam mobil Salia menangis tersedu-sedu. Berkali-kali dia melirik ke belakang mencari sosok penguntit yang mungkin saja mengejarnya.


__ADS_1


Namun dia bersyukur dalam hati karena tidak ada yang mengikuti taksi yang dia tumpangi itu.



Tak terasa. Dia sudah sampai di apartemen Grace. Salia lupa tidak membawa dompet. Sementara semua uang nya ada di dalam dompet.



Dia terpaksa meminta Gerace untuk membayar pada sopir taksi itu.



Salia menangis dalam pelukan Grace. Dia menceritakan semuanya.



Grace terlihat sedih dan dia pun berusaha menenangkan Salia.



Bahkan Grace ikut menangis. Dia menangis melebihi Salia.



"Apa aku boleh tidur di kamarmu? " tanya Salia.



Grace mengangguk "iya.. Tentu saja.. "



Salia memasuki kamar Grace. Sementara Grace menutup pintu dari luar.



Grace menangis dan terduduk ke lantai lalu bersimpuh. "Maafkan aku.. Salia.. "



Salia menghela napas lega setelah Grace menutup pintu kamar tersebut.



"Apa kau lega? "



Deg



Suara itu. Salia berbalik dan terkejut mendapati Tama sedang duduk di tepi ranjang menghadap kearahnya dengan telanjang dada.



Salia terduduk ke lantai. Dia menggeleng kemudian bangkit dan menggedor pintu kamar.



"Grace!! Buka pintunya!! Grace!!! Tolong!!! Penguntit itu disini!! Grace!!! " Teriak Salia.



Sementara Grace yang berada di luar kamar menggeleng sambil menangis.



"Maaf, Salia.. Maafkan aku"



Salia terus menggedor pintu. Tama tersenyum. Dia beranjak dari ranjang dan menghampiri Salia kemudian mendekapnya dari belakang.



Salia gemetar ketakutan.



"Dia tidak bisa mendengar mu.. Salia" bisik Tama serak di telinga Salia.



"Dia lebih menyayangi keluarganya dibandingkan dengan sahabatnya "



Tama menyentuh payudara Salia. "Kau tahu? Aku hanya ingin dirimu sekali"



Salia meronta. Sekali memang sekali.. Tapi dia akan menyesal seumur hidup.



"Jangan coba-coba!! "



"Tapi aku mau mencoba nya"



♡♥♡♥♡♥♡






By


__ADS_1


Ucu Irna Marhamah


__ADS_2