La'grimas

La'grimas
62


__ADS_3


Tama dan Salia memasuki kamar tamu yang di tunjukkan oleh Yoona.



"Emm.. Mansion Jepang ini.. Menakutkan sekali bagiku " kata Salia.



"Oh ayolah.. Kita hanya tinggal semalam di sini sayang.. Besok pagi kita pulang ke mansion kita" kata Tama sambil membelai lembut rambut Salia.



Salia tersenyum simpul kemudian mengangguk pelan.



"Baiklah.. Ayo kita tidur" kata Tama sambil merebahkan tubuhnya ke ranjang.



Salia pun menyusul dan menggunakan lengan besar Tama sebagai bantalan kepalanya.



Salia menatap wajah Tama. Tama juga menatap wajah Salia.



"Besok kita akan pulang dan kita akan menghabiskan waktu di mansion bersama sebuah kejutan yang pasti akan membuatmu merasa senang" kata Tama.



"Benarkah? Lalu bagaimana pekerjaan ku di rumah sakit Immamura? " tanya Salia.



"Percayalah sayang, besok rumah sakit itu akan di penuhi wartawan karena banyak saksi mata yang melihat keberadaan naga tadi siang" kata Tama sambil menahan tawa.



Salia tertawa. Dia memeluk Tama. Tama membalas pelukan Salia. Tama senang dengan sikap manja Salia.



"Lalu.. Kejutan apa untuk ku? " tanya Salia.



"Kau lupa..?? Ah ya sudahlah.. Lupakan saja.. Besok kau akan tahu sendiri kejutannya.. Kalau aku beritahukan sekarang, namanya bukan kejutan" kata Tama.



"Tapi aku penasaran" gerutu Salia. 



"Sekarang tidur lah dan besok dapatkan kejutanmu" kata Tama.



Salia tersenyum dan mengeratkan pelukannya. Tama mencium lembut pucuk kepala Salia.



"Kau tidak menyesal? " tanya Tama.



"Menyesal kenapa? " tanya Salia.



"Menikah dengan ku" jawab Tama.



"Aku tidak pernah menyesal menikah dengan pria seromantis diri mu.. " jawab Salia dengan kedua pipinya yang sudah memerah karena malu.



"Benarkah? Kau suka hal-hal yang romantis.. Film romantis, Cinta, bunga, aku tahu semuanya " kata Tama.



"Kau mata-mata terbaik.. " kata Salia.



"Aku di bantu orang-orang ku juga.. Sebenarnya aku bukan pria yang romantis.. Om Adi yang mengajarkan ku untuk romantis.. Aku sempat berpikir kalau berbuat romantis pada wanita itu sangat membosankan.. Tapi setelah aku tahu kau menyukai sesuatu yang romantis, aku harus berubah dan dengan begitu, aku bisa mendapatkan diri mu.. " kata Tama.



Salia menatap Tama kemudian tertawa. "Kau berlebihan sekali.. Tapi itu.. Terdengar romantis " kata Salia pelan.



Tama terkekeh. "Bagiku, tidak ada yang mustahil.. Aku ingin dirimu berarti kau harus menjadi milikku.. Ku rasa Papa mu juga seperti itu " kata Tama.



"Iya, Papa ku dengan mu sama" kata Salia sambil tertawa.



"Sama? " tanya Tama.



"Iya.. Sama-sama gila" jawab Salia sambil tertawa geli.


__ADS_1


Tama mengerutkan keningnya. "Siapa yang bilang? " tanya Tama.



"Mama ku" jawab Salia.



Tama tertawa. "Ibu mertua memang pedas sekali bicara nya.. Tapi aku suka karena dengan bantuan ibu mertua, aku bisa memiliki mu" kata Tama.



"Ah ya.. Apa yang kau lakukan sampai Mama ku bisa mempercayai mu? " gerutu Salia.



"Aku menceritakan semuanya pada Mama mertua.. Dan alasanku masuk akal jadi dia membantu ku mengirimkan bunga itu, membiarkanku mengawasimu dengan jarak dekat dan memberitahu ku semuanya tentangmu" jawab Tama.



"Ah, seperti nya Mama ku benar-benar  berada di posisi mu sepenuhnya " kata Salia.



"Ahaha semoga saja.. Yang tidak aku mengerti, Papa dan Mama mu kan super galak dan kejam tapi kenapa mereka bisa memiliki Putri sebaik dirimu " kata Tama dengan nada pertanyaan.



"Mungkin karena mereka mendidik ku dengan sangat baik agar tidak seperti mereka.. Mama dan Papa tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tua mereka.. Ya meskipun kenyataan nya aku juga begitu, tapi banyak sekali orang yang peduli padaku.. Seperti Oma, Nenek Hirma, Tante Mykha, Tante Noa, Om Rob, Tante Vanessa dan masih banyak lagi" Jawab Salia.



Tama mengangguk kemudian dia berkata dan bertanya "Aku mau bertanya padamu.. Apa kau bahagia bersama ku? "



Salia tersenyum. "Menurutmu? " Salia malah balik bertanya.



"Entahlah.. Pria tampan seperti ku memang sulit di tolak bukan? " goda Tama sambil memencet hidung Salia.



"Demi Tuhan.. Aku baru sadar memiliki suami yang besar rasa" kata Salia.



Tama tertawa kemudian mengeratkan pelukannya.



"Jika kau menikah dengan Refaldo, maka anak-anak mu nanti tidak akan setampan diriku.. Benarkan.. Rambut coklat mata coklat.. Yah malah terlihat seperti jagung hidup " kata Tama sambil tertawa.



"Terserah dirimu.. Kau juga blasteran bule kan? Seperti Refa.. ibu Francesca kan keturunan Amerika" kata Salia.




"Kau pikir hanya kau saja yang bisa jadi mata-mata, selain itu terlihat dari mata dan bentuk hidung ibu yang seperti orang barat" kata Salia.



"Menurutmu, aku mirip dengan ibuku kah?" tanya Tama.



"Emm.. Ya.. Hanya saja kau terlihat lebih Indonesia " jawab Salia.



"Baguslah, aku memang tidak suka yang bule-bule " kata Tama.



"Memangnya kenapa? " tanya Salia.



"Entahlah.. Sekarang tidurlah.. "



"Semoga mimpi Indah"



"Kamu juga"



♡♥♡♥♡♥♡



Hari mulai pagi.



Yoona keluar dari kamarnya. Dia melirik kamar Gerald yang berada di samping kamarnya. Dia pun berniat mengetuk pintu.



Namun tidak jadi. Dia bergegas menuruni tangga. Yoona mengetuk pintu kamar tamu. Kamar yang di huni oleh Renata.



"Rena.. Bangunlah.. Kau mau memulai harimu sebagai druckless kan? " kata Yoona.


__ADS_1


Pintu kamar di buka dari dalam. Terlihat Renata dengan tampang acak-acakan sambil mengucek matanya.



Yoona terkejut. "Sana mandi" kata Yoona.



"Apa perlu? " tanya Renata.



"Druckless itu seperti manusia.. Mandilah.. Aroma mu buruk sekali " kata Yoona sambil menggandeng lengan Renata.



Salia dan Tama berpapasan dengan mereka berdua.



"Kalian sudah bangun? " tanya Yoona.



"Emm.. Iya.. Apa kalian suka makan? " jawab Salia kemudian di akhiri pertanyaan.



"Ya tentu saja" jawab Yoona.



"Kami akan memasak untuk kalian.. " kata Salia.



"Oh benarkah? Silakan.. Dapurnya disana " kata Yoona.



Salia dan Tama mengangguk.



"Lalu apa yang akan kau lakukan pada kak Renata? " tanya Salia.



"Dia harus mandi" jawab Yoona sambil berlalu menyeret Renata.



Tama dan Salia saling pandang kemudian mengedikkan bahu mereka.



Salia memasuki dapur bersama Tama. Mereka mencari bahan makanan di kulkas kemudian mereka memulai ritual masak.



Gerald memasuki dapur. Dia menatap ke sekeliling. "Dimana Yoona? " tanya Gerald.



Salia menoleh. "Tadi Yoona ke kamar mandi dengan kak Renata, duduklah.. Kami memasak sarapan.. " kata Salia.



Gerald duduk di meja makan. Dia memperhatikan Salia dan Tama yang memasak sambil bercanda dan tertawa.



"Lihatlah.. Apa yang kau perbuat pada sayuran itu hingga mereka berwarna hitam? " ledek Salia sambil tertawa.



Tama tertawa. "Percayalah.. Rasanya lezat.. Aku juga bisa memasak seperti mu.. Jangan meremehkan diriku" kata Tama.



Salia dan Tama tertawa. "Jangan sampai yang memakan nya keracunan ya" kata Salia.



"Tenang saja, jika yang memakannya keracunan, kan ada 2 dokter disini " tawa Tama.



Tanpa sadar, Gerald yang jarang tersenyum itu terkekeh melihat tingkah mereka.



Dia membayangkan, apakah nanti dia dan Yoona juga akan seperti mereka?



Gerald memegang kepalanya yang terasa sakit.



♡♥♡♥♡♥♡





By



Ucu Irna Marhamah

__ADS_1


__ADS_2