La'grimas

La'grimas
32


__ADS_3


Hari pernikahan pun tiba. Semua tamu undangan dan keluarga dekat hadir ke acara penting itu. Mereka berbincang-bincang.



Michael terlihat berpikir ditengah-tengah acara penting putri sulungnya itu. Seseorang menepuk bahunya. Michael terhenyak dan menoleh. Ternyata Mykha.



"Mykha? Bagaimana kabarmu? "



Mykha tersenyum. "Aku baik-baik saja, ku dengar dari Megan, kau begitu posesif pada Salia"



Michael menghela napas panjang kemudian mengangguk. "Mungkin ini karma.. Nasib Meisa jadi seperti Meina"



"Sudahlah, bukankah sekarang pria itu akan bertanggung jawab? Sesuatu yang Bagus bukan jika dia mau memperbaiki kesalahannya? Dan kebetulan dia seorang dari keturunan Adiwijaya, musuh bebuyutan bisnis keluarga Danuarga, mungkin dengan pernikahan ini, hubungan keluarga Danuarga dengan Adiwijaya menjadi lebih baik "



"Entahlah, tapi yang ku pikirkan bukan bisnis lagi, ini masa depan putriku"



"Aku mengerti "



"Dimana Megan? "



"Dia sedang menemui mempelai wanita.. Dan oh ya dimana Meina? "



"Dia sedang di ruang rias, jika kau ingin menemuinya, segera temui dia.. "



Mykha mengangguk kemudian berlalu.



"Tunggu Mykha, bagaimana jika kau bertemu dengan Robert? " tanya Michael.



Langkah Mykha terhenti. Dia menunduk. "Tidak apa-apa.. Bagaimana pun juga dia ayah dari putri ku"



Mykha melanjutkan langkahnya. Michael terlihat sedih.



Megan mengotak-atik ponselnya sambil berjalan keluar dari ruang rias. Tiba-tiba dia bertabrakan dengan seseorang.



"Maaf.. Aku.. Tida.. " Megan mendongkak menatap manik kelam pria yang dia tabrak.



Roberto menatap Megan. Megan tersenyum kaku. "Maaf paman Robert, aku tidak melihatmu"



Robert mengerutkan dahinya. "Paman? Kau siapa? "



Megan mengerutkan dahinya tidak mengerti kenapa Robert tidak mengenalnya.



"Paman, aku ini.. "



"Megan "



Megan dan Robert menoleh ternyata Mykha. Robert tercengang melihat keberadaan Mykha.



"Mykha.. " gumam Robert



"Mama? " Megan memeluk Mykha.



Robert mengerutkan dahinya. "Mama? " gumam Robert.



"Sayang"



"Meme merindukan Mama.. " kata Megan dengan manjanya. "Mama juga kangen Megan" kata Mykha sambil memencet hidung Megan.



"Mykha? Jadi.. Gadis muda ini putrimu? " tanya Robert. Pandangan Mykha teralihkan pada Robert.



"Iya, dia putriku, putri semata wayang ku" kata Mykha sambil membelai lembut pucuk kepala putrinya.


__ADS_1


"Kkau tidak pernah menceritakan nya" kata Robert.



"Itu tidak perlu kan? "



Sepasang adik kakak menghampiri Robert. Tak lain mereka adalah Carren dan Darren.



"Papa? Papa disini? " tanya Carren sambil mendelik tidak suka pada Mykha dan Megan.



"Papa akan segera kesana sayang, kalian duluan ya" kata Robert.



"Mama menunggu " kata Darren. Carren menggandeng tangan Papanya dan membawanya pergi.



Megan terlihat sedih. Seandainya dia juga punya Papa yang memanjakan nya. Mykha merangkul Megan.



"Ayo, para tamu harus sudah hadir.. " kata Mykha.



"Lalu Mama tidak mau menemui tante Meina dulu? " tanya Megan.



"Tidak perlu sayang.. Nanti kita pasti ketemu, ayo"



Megan mengangguk.



♡♥♡♥♡♥♡



Beberapa mobil sport hitam terhenti di jalan di depan mansion Danuarga. Jalan itu sudah di perboden oleh pihak keluarga untuk tempat parkir para tamu terutama tamu dari mempelai pria.



Tama dengan tuxedo hitam yang melekat di tubuhnya, dikawal oleh para bodyguard nya memasuki mansion Danuarga.



Para bodyguard yang menjaga mansion Danuarga menyambut mereka dengan baik.



Adi dan Ny. Francesca, ibunya Tama memasuki mansion diikuti bodyguard yang mengkawal mereka.




Mereka pun memasuki pelataran mansion menuju ke dalam mansion.



"Mas Adi, untuk pertama kalinya kita sebagai keluarga Adiwijaya menginjakkan kaki di wilayah keluarga Danuarga.. Aku ingin tahu dan ingin melihat sosok menantu ku yang mampu membuat kepala batu putraku itu jadi luluh" kata Francesca.



Adi tersenyum. "Gadis itu cantik sekali.. Sampai-sampai keponakan ku itu gila"



Francesca hanya tertawa kecil mendengar gurauan kakak iparnya.



Bastian dan Marc yang berada di depan pintu bersama Megan terlihat malas menyambut kedatangan Tama bersama keluarganya.



"Selamat datang" sapa mereka berbarengan. Tama melirik satu persatu orang yang menyapanya itu.



"Hmm.. Baiklah, apa aku boleh masuk? " tanya Tama.



"Silakan" jawab Megan malas.



Tama memasuki mansion diikuti Adi, Francesca dan kerabat lainnya.



Robert dan Michael yang melihat kedatangan Tama menautkan alis masing-masing.



Meina menghampiri Michael. "Hei, apa kalian berdua tidak akan menyambut mereka? "



Terpaksa Robert dan Michael bangkit. Mereka menghampiri Tama.



Michael menatap Tama dengan tajam, sementara Robert dan Adi sama-sama melempar tatapan membunuh.



"Selamat datang di rumah mempelai wanita, mari" kata Meina menerobos Michael dan Robert. Dia menggandeng lengan Tama seperti tradisi yang biasa di lakukan. Meina memberikan isyarat pada Michael.


__ADS_1


Michael pun menggandeng tangan Tama dengan malas dan penuh kekesalan.



"Kami terima putra kalian, sebagai putra kami setelah menikahi putri kami" kata Meina.



Francesca tersenyum melihat aura persahabatan yang terpancar diwajah Meina.



"Terimakasih " kata Francesca.



Meina dan Michael membawa Tama ke altar dimana pendeta sudah berada disana memberikan pidato dan do'a untuk para tamu terutama untuk pasangan yang akan menikah di hari itu.



Tama dan Meina pun kembali duduk. Kini mereka menunggu kedatangan pengantin wanita. Pendeta membacakan doa untuk Tama.



Tama terlihat cukup tegang. Adi bangkit dari duduknya setelah salah satu perias memintanya untuk menjemput pengantin wanita.



Tama menghela napas panjang.



Beberapa saat kemudian, Adi kembali dengan menggandeng tangan pengantin wanita yang terlihat sangat cantik meskipun wajahnya tertutup veil yang transparan.



Tama terpesona dengan kecantikan Salia yang kini telah mengandung anaknya. Hasil perbuatan jahatnya beberapa bulan yang lalu.



Adi menyerahkan Salia pada Tama. Tama mengulurkan tangannya pada Salia. Salia terlihat ragu, namun dia pun menerima uluran tangan Tama.



Kini mereka berdiri berdampingan di alatar di depan pendeta.



Dea melirik Refa. Refa menoleh pada Dea. Mereka saling pandang.



Megan, Bastian dan Marc terlihat gugup. Entah alasan apa yang membuat merek gugup.



Meina memegang erat tangan Michael. "Ini detik-detik penting.. Apa kau tidak mau merekam nya sayang? "



Michael mendengus kesal. "Ini kehancuran bagi putri kita"



Robert melirik Mykha kemudian melirik Megan. Vanessa menarik dagu Robert agar menatap nya.



"Daripada kau melihat yang lain, lihat keponakanmu yang sedang melangsungkan janji suci nya "



"Kalian boleh mengucapkan janji suci kalian di hadapan hadirin yang sudah hadir di acara penting ini" kata Pendeta.



Tama dan Salia tidak bergeming.



Pendeta mengisyaratkan agar kedua pasangan pengantin itu untuk saling berhadapan.



Tama dan Salia saling menatap satu sama lain. Tama menatap Salia penuh kasih sementara Salia menatap Tama dengan penuh kebencian.



"Saya, Aryatama Arbano Adiwijaya, berjanji untuk selalu berada di samping istri saya, Meisalia Michelle Danuarga dalam keadaan susah, senang, Jaya, sengsara, sakit ataupun sehat"



"Saya, Meisalia Michelle Danuarga berjanji untuk selalu berada disamping suami saya, Aryatama Arbano Adiwijaya dalam keadaan susah, senang, Jaya, sengsara, sakit atau pun sehat.. "



"Dengan ini, ku resmikan kalian sebagai suami istri"



Tama mendekat. Salia jadi bingung dan salah tingkah.



"Jangan tegang, ini belum malam"



♡♥♡♥♡♥♡






By


__ADS_1


Ucu Irna Marhamah


__ADS_2