
Dukun itu pun kalah oleh Yoona. Dia terjatuh dan batuk darah.
"Jangan meremehkan ku.. Aku Putri Yoona Lee.. Putri Raja Devano Lee.. Raja Diamond! " kata Yoona sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Yoona terkejut mendengar teriakan Renata dari balkon. Yoona pun terbang ke balkon dan dia terkejut melihat Renata berusaha memasuki mansion.
Darah dimana-mana.
"Renata kau menyakiti dirimu sendiri " kata Yoona.
"Tapi Salia dalam bahaya " kata Renata.
"Aku tidak mengerti, dukun bodoh itu sudah mati tapi kenapa pelindung ini masih ada" geram Yoona.
♡♥♡♥♡♥♡
Tama terlihat cemas. Henry mempercepat laju mobil nya.
Terdengar suara helikopter.
"Henry, pelankan mobilnya " kata Tama.
"Kita berhenti saja" kata Henry.
"Tidak perlu! " Tama membuka pintu mobil dan dia merangkak ke atap mobil.
Helikopter itu semakin rendah dan Tama meloncat ke Helikopter.
"Pakai seatbelt nya" kata Refa.
Tama mengangguk.
♡♥♡♥♡♥♡
"Aaaaaa!!!! " teriak Salia saat semua alat suntik itu menancap pada tubuhnya.
Cecil tersenyum penuh kemenangan. "Ketujuh jenis bisa ular itu akan menghabisi kedua anak mu dan dirimu, semoga kau bisa bertemu dengan ayahmu disana" kata Cecil.
"Kkau.. Wanita terjahat yang pernah ku temui" geram Salia.
Cecil tertawa sarkas.
"Aaarrrggghhh" teriakan Salia semakin kencang. Darah mengalir membasahi paha dan betisnya.
"Hhh.. Tidak.. Maafkan.. Mommy.. Mommy tidak bisa.. Mommy tidak kuat lagi.. " tangis Salia.
Sementara Renata menangis kehabisan akal. Dia menatap liontin yang melingkar di lehernya.
Liontin pemberian ayahnya. Dia menyentuh nya.
"Ayah.. Aku tidak bisa.. " gumamnya.
Yoona juga tampak kesulitan masuk.
Renata mengingat masa-masa saat bersama Salia.
Salia memeluknya, dan sering memanggilnya kakak. Salia sering bilang kalau dia menyayangi Renata.
Renata mengepalkan tangannya.
"Aku harus menyelamatkan nya" kata Renata kemudian bangkit dan menyatukan telapak tangan nya.
Yoona menoleh. "Renata apa yang ka lakukan? " tanya Yoona.
__ADS_1
"Aku harus keluar dari tubuh druckless ini, maka aku bisa memasuki mansion" kata Renata kemudian menutup kedua mata nya.
"Jika kau melakukan itu, maka kau tidak bisa menjadi druckless lagi, kau akan menjadi arwah selamanya " kata Yoona.
"Tidak apa-apa Yoona.. Tidak ada yang lebih penting dari adikku.. Dia manusia seutuhnya.. Dia harus hidup.. Begitu juga dengan kedua keponakan ku yang harus memiliki kesempatan hidup.. Jangan sampai mereka mengalami hal yang sama seperti ku" kata Renata.
Nyawa Renata keluar dari raga druckless nya. Yoona terbelalak. Dia pun menembus mansion dan mencari Salia.
♡♥♡♥♡♥♡
Cecillia tersenyum penuh kemenangan.
"Kau akan mati dalam hitungan ketiga.. Tiga.. Dua.. Sa... "
"Berhenti berhitung atau ku robek mulut mu!!! " teriak Renata yang sudah berada di dalam.
Cecillia terbelalak. "Ba.. Bagaimana bisa.. Kau.. Aaargggghhhh" belum sempat Cecil menyelesaikan kalimatnya, dia sudah terlempar membentur dinding hingga dinding tersebut retak.
Yoona bisa memasuki mansion dengan bantuan arwah Renata.
Yoona melepaskan tali yang mengikat tubuh Salia dan mencabut semua suntikan di tubuh Salia.
"Yoona, sembuhkan Salia.. Aku akan mengurus orang gila ini" kata Renata.
Yoona mengeluarkan cahaya hijau dari telapak tangannya kemudian diarahkan pada perut Salia.
"Bertahanlah.. Ku mohon" tangis Yoona.
"Ayahku, Michael Lorenz Danuarga.. Seorang psikopat, maka jangan salahkan aku jika aku juga seorang psikopat " geram Renata.
Cecil menatap Renata dengan tajam. "Heh.. Kau masih tetap menyayangi ayahmu yang gila itu? Padahal jelas dia yang berhasil menghabisi mu! " teriak Cecil.
"Itu karena mu!!! " teriak Renata kemudian menghajar perut Cecil hingga Cecil terpelanting.
Darah mengalir dari mulutnya.
"Itu untuk Ayah! "
Renata kembali menyerang Cecil hingga berguling-guling ke lantai dan retak.
"Itu untuk Ibu! "
Renata kembali menghajar Cecil.
"Itu untuk Salia!!! "
Cecil sudah tidak bisa bergerak. Dia terkulai lemah dengan seluruh tulang nya yang sudah retak dan patah.
Renata mencekik leher Cecil kemudian dia membuka lebar mulut Cecil hingga robek.
"Itu untuk ku!! "
Cecil pun terkulai jatuh ke lantai. Dia sudah tiada di tangan Renata.
Sementara itu, Tama dan Refa sudah sampai di mansion, mereka melawan orang-orang nya Cecil yang sangat banyak di bantu pihak polisi Jepang.
"Sialan, mereka sangat banyak dan membawa senjata " gerutu Tama.
Dengan segenap kekuatan para polisi, mereka bisa di lumpuhkan.
Tama dan Refa memasuki mansion. Mereka terkejut melihat Michael yang terkulai dengan darah menggenang di lantai.
__ADS_1
"Astaga! Paman Mike! " Refa menghampiri nya begitu pun dengan Tama.
"Papa, apa yang terjadi? Mana Salia? " tanya Tama.
"Ta.. Tama.. Selamatkan Salia di atas" kata Michael.
Tama mengangguk cepat. "Refa tolong jaga Papa.. Aku harus melihat Salia.. Tolong hubungi Mama Meina juga" kata Tama.
Refa mengangguk.
Tama pun segera menaiki tangga dan dia mencari Salia ke setiap ruangan di lantai dua.
Dia terkejut melihat jasad Cecil yang keadaannya mengenaskan. Tama mengalihkan pandangannya. Dia mencari Salia.
Tama mendengar suara jeritan Salia. Dia segera mencari asal suara itu.
Dia terkejut melihat keadaan Salia.
"Saliaaaa!!!! "
Tama terduduk dan memeluk Salia.
Yoona dan Renata masih berusaha mengobati Salia.
"Ta.. Tama.. Ke.. Kenapa kamu lama? " tanya Salia.
"Maafkan aku.. Maafkan aku"
Cahaya hijai dari tangan Yoona berhenti keluar.
"Ada apa? " tanya Tama.
"Mustahil" gumam Yoona.
"Katakan, Yoona.. Jangan membuat ku khawatir " kata Renata.
"Ini mustahil, semua bisa ular itu di serap oleh janinnya" kata Yoona.
Tama dan Renata terbelalak.
"Ja.. Jadi bagaimana? Apa aku harus semakin cemas atau sedikit tenang? " tanya Tama.
"Salia aman.. Tapi.. Bayinya.. "
"Yoona" kata Renata.
"Aku tidak yakin bayi nya akan selamat " kata Yoona.
Tama terlihat semakin cemas begitu pun dengan Renata.
Tangan dingin Salia menyentuh tangan Tama.
"Bawa aku ke Papa" kata Salia.
♡♥♡♥♡♥♡
By
__ADS_1
Ucu Irna Marhamah