
Tama memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju mansion.
"Damn! aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Salia" geram Tama sambil memukul stir.
Mobilnya terhenti di depan mansion dengan tidak elit nya. Tama segera keluar dan bergegas memasuki mansion.
Dia mendapati mansion nya kosong.
"Saliaaaa!!! " teriak nya.
"Saliaaaaaa!!! Kau dimana?!!" teriak Tama.
Tama memasuki halaman belakang. Dia terkejut melihat keberadaan Salia dengan seorang wanita.
Tama menarik lengan wanita itu. Tama terkejut.
"Tama, apa yang kau lakukan? " gerutu Salia.
Ternyata wanita itu Yoona.
"Kau yang menelpon kan! Apa yang kau lakukan pada Salia! " bentak Tama pada Yoona.
"Tama kendalikan dirimu " kata Salia.
Tama memegang kedua lengan Salia. "Apa yang terjadi? Mana yang sakit? Mana luka mu? " tanya Tama sambil melihat ke seluruh tubuh Salia.
"Tama, aku tidak apa-apa.. Kenapa kau jadi parno begitu? " gerutu Salia.
Tiba-tiba, Tama melahap bibir Salia. Salia terkejut. Yoona mengalihkan pandangannya dengan pipi merona karena melihat adegan langsung itu.
Salia melirik Yoona. Dia mendorong dada Tama.
"Apa yang kau lakukan.. Aku malu" bisik Salia setengah menggerutu.
"Apa ada seseorang yang datang kemari? Lalu menyakitimu? Lalu kau berteriak? " tanya Tama pada Salia.
"Tidak, dari tadi aku bersama Yoona.. "
Tama melirik Yoona. "Lalu.. Tadi.. " gumam Tama. Dia tampak berpikir.
"Apa yang terjadi? " tanya Salia.
"Ah" Tama menghela nafas kasar sambil meremas rambutnya sendiri.
"Tama.. Katakan sesuatu "
"Hhh.. Aku akan menelepon Henry" kata Tama sambil membuka ponsel nya.
"Tama.. Katakan dulu padaku apa yang terjadi " kata Salia.
"Tunggu sebentar, sayang " kata Tama sambil meletakkan ponselnya di depan telinga.
"Halo Henry"
__ADS_1
"..."
"Sekarang kemari dan bawa orang-orang mu"
"..."
"Bayarannya akan kita bicarakan disini "
"..."
"Iya.. Aku tunggu.. Secepatnya "
Tama menutup panggilannya. Salia menatap Tama dengan ekspresi menunggu.
"Seseorang berniat menyakitimu.. Tadi dia menelepon ku.. Ku pikir dia yang melakukan nya" kata Tama sambil melirik Yoona.
"Aku..?? Aku dari tadi disini.. Untuk apa juga aku menyakiti Salia? Apa untung nya bagi ku? " gerutu Yoona.
"Tadi aku juga mendengar teriakan mu.. Aku cemas sekali" kata Tama.
Salia memeluk Tama. "Tidak akan terjadi apapun selama kau bersama ku" kata Salia.
Tama membalas pelukan Salia. "Aku tidak akan membiarkan apapun terjadi padamu" kata Tama.
Kedua pipi Yoona merona melihat keromantisan mereka berdua. Dia jadi merindukan Gerald.
"Mungkin.. Seseorang itu sedang mengawasi kalian " kata Yoona.
Tama dan Salia menoleh kearahnya.
"Tapi siapa? Jangan-jangan wanita mu lagi" gerutu Salia sambil melipat tangan di depan dada.
"Demi Tuhan. Aku tidak mengenali suara wanita itu " kata Tama.
"Mungkin dia musuh mu Salia atau seseorang yang membenci mu" kita Yoona.
Salia tampak berpikir. "Aku tidak punya musuh.. Kecuali itu musuh ayahku" kata Salia.
"Kalau begitu aku harus menghubungi Papa mertua " kata Tama.
♡♥♡♥♡♥♡
Renata dan Michael sedang berbicara di halaman belakang mansion.
"Mama mu memang manis sekali bukan? " kata Michael.
Renata tertawa.
Tiba-tiba ponsel Michael bergetar. Dia pun melihat layar sentuh tersebut.
Tertera nama Menantu Terkutuk
Michael mengangkat panggilan dari Tama.
__ADS_1
"Halo? Ada apa Tama? "
"Seseorang mengintai kami"
Deg
Michael terkejut. Dia melirik Renata sekilas yang terlihat memberikan isyarat bertanya.
"Aku akan segera kesana.. Apa orang-orang mu ada di mansion mu? " tanya Michael.
"Ada beberapa, baru saja aku menghubungi yang lainnya.. Aku ingin bertanya.. Apa kau punya musuh? Maksudku seseorang yang mungkin saja membencimu? "
Michael tampak berpikir. "Tentu saja.. Banyak sekali, tapi mereka tidak akan berani mengganggu ku atau pun Salia dan dirimu.. " kata Michael sambil beranjak dari duduknya kemudian memberikan isyarat pada Renata agar ikut dengan nya.
Renata mengerti dan mengikuti ayahnya.
"Dia wanita.. Dia bilang dia ingin menghancurkan semuanya.. Semua milikku"
"Berarti itu musuhmu" kata Michael cepat.
"Aku tidak punya musuh seorang wanita.. "
"Mungkin jalang mu"
"Yang benar saja! Aku tidak punya wanita penghibur setelah menikahi putrimu, mungkin itu jalang mu! "
Senyuman tipis terukir di bibir Michael. Karena Tama sudah berubah dan bertanggung jawab sebagai seorang suami pada putrinya, Salia.
Michael dan Renata memasuki mobil.
"Kita kemana ayah? " tanya Renata.
"Kita akan ke mansion saudari mu sayang " jawab Michael.
"Baiklah, aku sedang di jalan.. Jangan keluar" kata Michael.
Michael mengakhiri panggilannya.
"Apa Salia baik-baik saja, ayah? " tanya Renata dengan ekspresi cemas.
"Dia baik-baik saja.. Kita akan menemuinya" kata Michael.
"Kita tidak bilang ibu? " tanya Renata.
"Mama mu sedang menunggu Oma mu yang lagi sakit kan? Jadi biarkan saja.. " kata Michael.
Renata mengangguk.
♡♥♡♥♡♥♡
By
__ADS_1
Ucu Irna Marhamah