La'grimas

La'grimas
49


__ADS_3


Salia mengemudikan mobil nya menuju mansion Danuarga. Awalnya dia di larang Ny. Adiwijaya untuk tidak keluar mansion. Tapi Salia meyakinkan mertua tercinta nya itu kalau dia akan baik-baik saja dan dia juga membawa 4 bodyguard sekaligus yang mengikuti nya di belakang.



Renata yang duduk di samping Salia tampak bersenandung pelan. Salia tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah cantik kakaknya itu.



Dia merasa sedih mengingat nasib kakaknya tak seberuntung dirinya. Seandainya kakaknya itu lahir bersamanya, maka dia akan sangat bahagia memiliki kakak yang  begitu baik dan kuat.



Tiba-tiba Renata memeluk Salia. Salia terkejut.



"Jangan menyalahkan takdir.. Salia.. Aku terharu mengetahui kamu memikirkan aku" kata Renata.



Air mata Salia menetes membasahi pipinya.



"Hentikan La'grimasmu.. " kata Renata.



Salia tersenyum tipis. "Terimakasih kak Renata"



Renata tersenyum.



♡♥♡♥♡♥♡



Mobil hitam itu terhenti di pelataran mansion Danuarga. Salia keluar dari mobil tersebut.



Mobil para bodyguard nya juga terhenti di belakang mobilnya. Mereka keluar membentuk formasi melindungi Salia.



Meina keluar dari mansion. "Meisa, sayang "



"Ehmm.. Kalian tidak perlu melindungi ku dari ibuku sendiri " bisik Salia pada bodyguard nya.



Mereka membentuk formasi setengah lingkaran.



Meina memeluk Salia. "Ada apa sayang? Tumben kamu di izinkan Tama kemari? Bukankah dia sedang memperketat keamanan? " tanya Meina.



Renata menatap Meina. Salia bisa melihat kerinduan di mata Renata.



"Salia, boleh aku meminjam tubuhmu? Untuk memeluk ibu? " tanya Renata.



Salia mengangguk. Renata memasuki raga Salia. Salia tidak merasa kerasukan. Karena Renata memang tidak pernah berniat menguasai raga Salia.



Salia memeluk Meina lagi. Meina mengerutkan dahinya karena tindakan Salia yang biasanya tidak seperti itu.



Meina membalas pelukan Salia. Salia menitikkan air mata nya. Sebenarnya Renata yang menangis.



Meina merasakan guncangan tubuh Salia. Dia tahu Salia sedang menangis.



Meina membelai lembut rambut Salia. "Kamu merindukan Mama, sayang? " tanya Meina.



Salia melepaskan pelukannya kemudian menatap Meina.



Meina mengelap air mata yang terus mengalir membasahi pipi Salia.



"Mama tahu kamu akan kembali, sayang.. Mama juga merindukan kamu" kata Meina.



Deg



Salia mengerutkan keningnya. "Mama.. " gumam Salia.



"Mama tahu.. Kamu saudari Meisa kan? " kata Meina pelan dengan suara gemetar.



Salia mengangguk-angguk sambil mengusap pipinya. Dia memeluk Meina lagi dengan eratnya.

__ADS_1



Meina menangis. Dia memeluk Salia tak kalah erat.



Para bodyguard pun hengkang karena mereka tidak mau menganggu moment pribadi itu.



Meina melepaskan pelukannya kemudian menciumi wajah Salia.



"Maafin Mama sayang.. Mama gak bisa jagain kamu" kata Meina.



"Bukan salah Mama.. Aku sayang Mama" kata Salia. Meina tersenyum haru.



"Kenapa Mama bisa tahu kalau ini aku? " tanya Salia.



"Karena firasat seorang ibu tidak bisa di bohongi.. Mama tahu sejak lama.. Karena Papa kamu bilang.. Salia bipolar.. Dan saat itu Mama menyadari kalau Salia bukan bipolar.. Tapi kamu memang masih ada di samping Salia.. Mama tahu kepribadian Salia dan itu berbeda dengan mu" kata Meina sambil menangkup wajah Salia.



"Salia itu lembut dan kamu itu kuat.. Salia itu pemaaf dan kamu pendendam.. Salia mudah mempercayai orang lain dan kamu tidak.. Mama tahu itu " kata Meina.



Salia mengangguk membenarkan ucapan ibunya itu.



"Ayo masuk.. Masih banyak yang ingin Mama ceritakan"



♡♥♡♥♡♥♡



Tama mencari Salia ke seluruh ruangan di mansion nya.



Dia memasuki kamar ibunya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.



"Ibu? Dimana Salia? " tanya Tama.



Ny. Adiwijaya menoleh. Dia melihat putranya berdiri dia ambang pintu yang terlihat begitu kesal dan frustasi.




"Salia bilang tadi dia mau mengunjungi ibunya" jawab Ny. Adiwijaya.



"Apa? Kenapa ibu tidak melarang nya? Ibu tahu kan banyak masalah di keluarga kita? " gerutu Tama.



"Maaf nak, tapi ibu tidak tega melihat Salia yang begitu merindukan Mama nya" kata Ny. Adiwijaya.



"Merindukan Mama nya? Kami berlibur di Paris bersama ayah dan ibunya" kata Tama.



Ny. Adiwijaya terkejut. Dia tidak bisa mengendalikan kemarahan putranya itu.



"Arrggghhh" Tama berlalu kesal.



"Semoga Tama tidak berbuat macam-macam pada Salia" gumam Ny. Adiwijaya kemudian keluar dari kamarnya menyusul Tama.



♡♥♡♥♡♥♡



Salia keluar dari mobilnya bersama Marchello. Mereka tertawa sambil bercerita.



Langkah mereka berdua terhenti saat mereka melihat Tama berdiri di ambang pintu mansion sambil menatap tajam mereka berdua. Tepatnya Salia.



Tama menghampiri Salia, tapi Marcello menghalangi Salia. "Kenapa dengan mu? " tanya Marcello sinis.



"Minggir" geram Tama.



"Tidak akan.. Aku yakin kau mau menyakiti kakak ku" geram Marc tak kalah tajam.



"Minggir!! " Tama menarik lengan Marc untuk menjauh dari Salia.


__ADS_1


"Kenapa Salia! "



Deg



Salia terkejut dengan bentakan Tama yang tidak seperti biasanya.



"A.. Apanya.. Yang.. Ke.. Kenapa? " tanya Salia gemetar.



"Kenapa kau meninggalkan mansion ini!! Bukankah ibuku sudah melarang mu! " bentak Tama sambil mencengkram lengan Salia.



Marc mendorong Tama dengan kasar. "Jauhkan tanganmu dari kakakku! " bentak Marc.



"Jangan ikut campur! Dia istriku! " bentak Tama pada Marc.



"Dia kakakku!! Kalau kau mengaku sebagai suaminya, kau harus bersikap seperti seorang suami!! " bentak Marc.



Salia berlindung di belakang Marc.



"Aku tidak mau Salia kenapa-napa dengan keluar dari mansion ini! Kau tidak mengerti, Marc!! " bentak Tama.



"Aku tidak mau mendengar alasanmu menyakiti kakakku! Yang pasti kau sudah berjanji untuk menjadi suami yang baik bagi kakakku! Bukan begini cara nya!! " bentak Marc.



"Salia! Kenapa kau tidak meminta izin dulu dari ku! " bentak Tama.



Salia menunduk ketakutan. Sementara Renata yang sedari tadi berdiri di samping Salia menautkan alisnya.



"Jangan membentak kakakku!! Adiwijaya!! Aku sudah menduga tidak akan ada pria baik yang bisa melindungi kakakku selain Refaldo! " bentak Marc.



Deg



Tama semakin marah, dia menghajar wajah Marc.



"Marc!!! " teriak Salia.



Tama menarik kerah kemeja Marc. "Jangan berani menyebut nama itu lagi di depanku.. Aku peringatkan kau.. Salia hanya milikku seorang.. Tidak dengan Refaldo tidak dengan mu juga!! " bentak Tama sambil mendorong Marc sampai terhuyung.



Salia membantu Marc berdiri. "Kenapa kau jadi jahat!! Memukul adikku!! " teriak Salia.



Tama membuang muka kesal..



"Pulanglah, Marc.. Aku baik-baik saja" kata Salia sambil membawa Marc memasuki mobil.



Marc pun pulang dengan mobil Salia.



Salia menghampiri Tama dan menyentuh tangannya. Tapi Tama menepis tangan Salia.



Salia merasa sakit hati di acuhkan Tama.



"Tama.. Dengarkan aku dulu " kata Salia.



Tama mencengkram lengan Salia dan membawanya masuk.



"Jelaskan di dalam! "



♡♥♡♥♡♥♡





By


__ADS_1


Ucu Irna Marhamah


__ADS_2