La'grimas

La'grimas
40


__ADS_3



Salia menatap pantulan dirinya di cermin. "Kamu siapa? " gumam Salia seolah berbicara pada dirinya sendiri.



Salia tercengang melihat bayangan dirinya di cermin tersenyum menyeringai. Padahal jelas Salia tidak tersenyum sama sekali.



"Si.. Siapa kamu? Apa kamu yang membuat aku jadi bipolar? Apa kamu bagian dari diriku? " tanya Salia dengan suara bergetar menahan takut.



"Percayalah.. Aku.. Melindungi mu.. Meisalia" kata bayangan Salia.



Salia gemetar ketakutan. Dia pun terduduk lesu di depan cermin. Sementara bayangnya masih berdiri tegak memperhatikan Salia.



"Ya Tuhan.. Aku.. Aku.. Aku tidak bisa.. " gumam Salia.



"Aku bagian dari dirimu.. Salia.. Aku kepribadian mu.. Yang keras kepala.. Penuh kebencian.. Kasar.. Dan cerdas.. Itulah aku.. " kata bayangan Salia.



Salia menggeleng. Dia tidak berani melihat bayangan nya sendiri di cermin.



Pintu kamar hotel terbuka. Bayangan Salia terkejut. Dia pun menjatuhkan diri mengatur posisi agar sama dengan Salia.



"Aku tidak membahayakan mu.. Ingat.. Jangan pergi ke pantai.. Atau kau akan berada dalam bahaya " kata bayangan Salia.



Masuklah Tama. Dia terkejut melihat keadaan Salia. Dia segera menghampiri Salia dan membantu Salia berdiri.



"Apa yang terjadi sayang? Kamu baik-baik saja kan? Apa Adinda lagi? " tanya Tama.



Salia menggeleng. Dia menatap pantulan dirinya di cermin. Bayangan dirinya sama sekali tidak berbeda.



"Ayo Salia kita akan ke pantai dan menginap di penginapan sana" kata Tama.



Salia menatap Tama. "Jangan Salia.. Jangan ke pantai.. " suara itu terdengar jelas di telinga Salia.



Salia melihat pantulan dirinya dicermin. Tidak ada yang berubah.



"Ayo, Papa sama Mama kamu udah nungguin tuh"



♡♥♡♥♡♥♡



Tama fokus menyetir wa sementara kedua mertuanya sedang berbincang ringan di kursi belakang.



Salia melamun sambil menatap jalanan yang dilalui mobil Tama.



"Salia? Kamu kenapa? " tanya Tama.



Salia menoleh kearah Tama. "Tidak ada.. Aku cuma lagi boring aja" kata Salia.



Mobil yang mereka tumpangi pun terhenti di parkiran umum.



Mereka pun keluar dari mobil. Salia menghentikan langkahnya. Dia merasa sangat kesal karena cuaca yang begitu terik. Namun dia yakin saat ini kepribadiannya yang gelap ingin menguasai tubuh nya.

__ADS_1



"Berhenti mengendalikan ku.. Aku tahu itu kau.. Aku tidak akan membiarkan mu menguasai tubuhku lagi.. " geram Salia.



"Aku sudah melarangmu kemari.. Bahaya akan menghampiri mu Salia.. Kau harus segera kembali.. Papa mu dan Tama tidak akan bisa melindungi mu saat ini" suara itu terdengar lagi di telinga Salia.



"Diam!!! " teriak Salia. Tama, Michael dan Meina menoleh.



Meina segera menghampiri Salia. "Sayang? Kamu kenapa? " tanya Meina.



"Emm.. Maaf Ma.. Aku gapapa kok.. " kata Salia.



Mereka pun memasuki area pantai.



♡♥♡♥♡♥♡



Meina dan Michael terlihat begitu romantis bersama Tama duduk di pesisir pantai sambil memakan permen gula -gula.



Sementara Tama duduk di tempat teduh sambil meminum air kelapa muda.



Dan Salia duduk di pangkuan Tama mengenakan kacamata hitamnya menatap ke sekeliling. Memastikan tidak ada sesuatu yang membahayakan mereka.



"Kamu cari apa, sayang? " tanya Tama sambil menarik dagu Salia agar menatapnya.



Salia menatap Tama. "Gak ada kok" jawab Salia.



Tanpa mereka sadari, dua orang penembak bayaran sedang membidik kepala Salia.




Salia menuruti kemauan makhluk yang mengaku sebagai bagian dari dirinya itu.



Salia berbalik dan..



Deg



Dia terkejut melihatnya. Melihat seseorang yang bersembunyi di dekat pohon-pohon bakau.



"Dia menyadari kalau kau sudah mengetahui keberadaan nya" suara itu kembali terdengar.



Salia ketakutan.



"Tiarap Salia!! "



Salia segera bertiarap. Tama terkejut dengan aksi Salia. Dan terdengar letupan senjata.



Tama dan para pengunjung lainnya terkejut dan keadaan pantai pun jadi kacau dimana orang-orang berlarian menyelamatkan diri.



"Salia, segera berlindung pada Tama! Pembunuh yang satunya lagi mau menembakmu! Cepat! "



Salia menurut. Dia mendekat dan menarik Tama. Mereka berlari kencang. Meina dan Michael menyusul.

__ADS_1



♡♥♡♥♡♥♡



Kini mereka berempat sedang berada di penginapan pantai.



Michael mondar-mandir di depan Meina dan Salia yang duduk di tepi ranjang. Tama bersandar pada dinding memperhatikan kegiatan Michael.



"Aku tidak mengerti kenapa ada seseorang yang berani membidik putriku! Kenapa tidak aku saja! " geram Michael.



"Papa" Salia bangkit dan memeluk ayahnya.



"Papa jangan marah.. Yang penting Meisa gapapa kan Pa" kata Salia.



"Iya, sekarang Papa bersukur kamu baik-baik aja.. Tapi bagaimana jika terjadi lagi sesuatu yang lebih buruk? Papa tidak mau kehilangan kamu.. Papa masih tidak bisa melupakan kematian saudari kembarmu yang masih janin, sekarang Papa juga gak mau kehilangan kamu.. " kata Michael dengan nada penuh kesedihan.



Salia terlihat sedih. Salia memeluk erat Papanya. Dia menangis sedih.



"Jangan sedih Pa.. Aku gak marah kok.. Aku sayang banget kok sama Papa" kata Salia yang tiba-tiba ingin bilang seperti itu.



"Papa juga sayang sama kamu sangat sayang" kata Michael.



Meina bangkit kemudian memeluk erat Michael dan Salia.



Tama merasa merinding melihat keharmonisan keluarga istrinya. Salia mengulurkan tangannya pada Tama.



Tama mendekat dan tiba-tiba dengan kasar, Salia memeluknya dengan erat. Mereka berempat pun berpelukan.



♡♥♡♥♡♥♡



Salia memasuki kamar nya. Dia membenarkan bantal di ranjang. Setelah itu, dia pun merebahkan tubuhnya.



"Jangan dulu tidur"



Deg



Suara itu terdengar lagi. Salia bangkit dan melirik kesana -kemari.



"Itu pasti kau, jangan ganggu aku.. Aku mau tidur" kata Salia.



"Seseorang yang menerormu sudah sampai di lantai ini "



♡♥♡♥♡♥♡







By


__ADS_1


Ucu Irna Marhamah


__ADS_2