
"Dadah, biar Renata tinggal sama kami aja ya" kata Meina pada Tama dan Salia.
"Iya Ma.. " jawab Salia untuk ke sekian kalinya menjawab pertanyaan yang sama.
Michael tertawa sambil menggeleng pelan dengan tingkah manja istrinya.
"Selamat malam, Tama, Salia " kata Michael.
"Malam Pa " jawab Salia. Sementara Tama mengangguk.
Mobil keluarga Danuarga pun menjauh meninggalkan mansion Tama dan Salia.
"Ayo masuk" kata Tama. Salia mengangguk.
Mereka duduk di sofa. Salia melelapkan kepala nya ke dada bidang Tama.
"Terimakasih.. Aku sangat bahagia " kata Salia.
Tama tersenyum. "Aku bahagia jika kau bahagia" kata Tama.
"Mereka sudah pulang.. Aku kesepian lagi.. Aku tidak punya teman" gerutu Salia.
Tama terkekeh. "Ada aku disini.. Kita kan bisa bebas bermain apapun " kata Tama.
"Ih main sama kamu itu malah mesum ujung-ujungnya.. " gerutu Salia.
Tama tertawa. "Tunggu satu bulan lagi, maka kedua bayi kita akan membuat mu tidak kesepian lagi. Bahkan mungkin kamu akan kerepotan" kata Tama sambil menyentuh perut besar Salia.
Salia tersenyum. "Iya.. Aku sangat menantikan kalian.. Aku harap kalian berdua jangan nakal seperti Daddy kalian.. Kalian harus baik seperti Mommy" kata Salia sambil menyentuh perut Salia.
Tama tertawa. "Anak kita pasti baik, Daddy nya kan juga baik" kata Tama.
Salia memutar bola mata nya.
"Iya.. Sangat baik " kata Salia ketus.
"Terimakasih " jawab Tama.
Sunyi
Salia tampak bosan. Tama juga bingung harus berbuat apa agar istrinya tidak kesepian.
"Tama"
"Ya sayang? "
"Hmm.. Aku mau tidur " kata Salia kemudian beranjak dari duduk nya dan berlalu pergi ke kamarnya.
Tama menghela nafas panjang kemudian menyusul istrinya.
♡♥♡♥♡♥♡
Tama mengenakan dasinya. Para pelayan menyiapkan makanan. Salia meminum susu formula untuk kesehatan kandungan nya.
Salia melihat Tama kesulitan memakai dasi. Ya, seperti biasa Tama memang tidak pernah rapi dalam menggunakan dasi.
Salia menghampiri nya. "Bilang saja padaku, biasanya juga aku yang memakaikannya kan? " kata Salia.
Tama tersenyum tampan, "aku tidak ingin merepotkan mu, apalagi kau sedang mengandung.. Aku tidak mau kau kelelahan" kata Tama.
Salia memutar kedua bola mata nya.
"Aku hanya mengandung.. Kau berlebihan sekali " kata Salia sambil membenarkan dasi Tama.
__ADS_1
Tama tersenyum. Dia menatap lekat wajah Salia.
Salia melirik Tama kemudian mengalihkan pandangannya karena malu. Pipinya sudah merona.
Tama menarik dagu Salia dengan telunjuknya. Mereka saling menatap. Tama mengecup lembut bibir Salia.
Salia terkejut dan segera mendorong dada Tama.
"Jangan di depan pelayan " bisik Salia setengah menggerutu.
Tama terkekeh pelan.
"Memang nya kenapa? Biarkan mereka tahu.. Kalau kau milikku " kata Tama.
Salia memutar bola mata nya kesal. "Tidak punya malu" kata Salia kemudian mengecup pipi Tama sekilas lalu pergi duduk ke meja makan.
Tama masih terkesima. Namun dia segera mengubah ekspresi konyolnya.
Salia terkekeh pelan melihat Tama yang kemudian duduk di samping nya.
"Nakal ya" kata Tama. Salia tertawa.
Mereka pun memakan sarapan mereka.
Selesai makan, Salia mengantar Tama sampai pintu depan.
"Aku berangkat ya, sayang, jangan kesepian lagi ya.. " kata Tama dengan kedua tangan memegang lengan Salia.
Salia menghela napas panjang kemudian mengangguk pelan.
"Tidak ada kata-kata untuk ku sebelum berangkat? " tanya Tama dengan ekspresi sedih.
Salia tersenyum tipis. "Iya sayang.. Hati-hati di jalan dan jangan lirik sana lirik sini.. Ya.. Tuhan mengawasi mu untuk ku " kata Salia dengan nada mengancam.
"Karena.. Aku tidak bodoh" kata Tama kemudian mengecup bibir Salia cukup lama.
Salia terkejut. Dia membalas ciuman Tama sejenak kemudian mendorong dada Tama.
"Sampai jumpa nanti sore" kata Salia sambil tersenyum dengan kedua pipi merona.
Tama terkekeh. "Kamu mengusirku.. Oh baiklah.. Jangan merindukan ku" kata Tama kemudian memasuki mobil nya.
Salia tersenyum. Mobil Tama melaju meninggalkan mansion.
Salia pun memasuki mansion
♡♥♡♥♡♥♡
Tama memarkirkan mobilnya kemudian memasuki kantor cabang nya tersebut.
Di dalam, beberapa pegawai menyapanya. Tama hanya membalas dengan anggukkan.
Dia memasuki ruangan pribadinya. Memeriksa beberapa laporan yang terdapat di meja nya.
Terdengar pintu ruangan nya di ketuk. Tama melirik pintu.
"Masuk" katanya kemudian kembali menunduk memeriksa berkas-berkas tersebut.
Seorang pria tampan yang memiliki ciri fisik khas Jepang itu memasuki ruangan tersebut.
"Permisi Tn. Adiwijaya.. Klien kita menolak bertemu hari ini" kata pria itu.
Tama mengerutkan keningnya dan menatap pria di depan nya.
__ADS_1
"Kenapa mereka menolak bertemu, Kurosaki? " tanya Tama.
"Emm.. Maaf.. Mereka menolak bekerja sama dengan kita" jawab Kurosaki pelan.
"Ya sudah.. Biarkan saja.. " kata Tama acuh tak acuh.
"Emm.. Sebenarnya, bukan hanya klien yang itu saja yang menolak kerja sama.. Tapi semuanya juga" kata Kurosaki yang tampaknya ragu-ragu mengatakan itu pada atasannya.
Tama terbelalak. "Apa? Tapi kenapa? " tanya Tama.
"Entahlah.. Saya bertanya pada mereka.. Mereka bilang perusahaan ini milik anggota keluarga psikopat, saya rasa ini pencemaran nama baik dan reputasi perusahaan ini akan buruk di mata publik" kata Kurosaki.
Tama mengepalkan tangannya. "Kau boleh kembali, biar aku yang urus" kata Tama.
Kurosaki membungkukkan badannya kemudian berlalu keluar.
"Tidak seperti biasanya Tn. Tama mengendalikan amarahnya, biasanya dia akan melempar apapun padaku meski aku membawa kabar kecil" gumam Kurosaki.
"Semoga perusahaan nya baik-baik saja ya Tuhan" kata Kurosaki kemudian pergi ke ruangan nya.
Tama mendengus kesal. "Siapa yang berani membuat masalah dengan Adiwijaya" geram Tama.
Tiba-tiba ponsel nya bergetar. Tama melihat layar ponselnya. Tidak ada nama dan no.
Tama mengangkat panggilan tersebut.
"Halo? "
"Halo, Tn. Adiwijaya.. " suara wanita dari seberang sana.
Tama mengerutkan keningnya. "Siapa kau? " tanya Tama.
"Aku seseorang yang ingin menghancurkan semuanya.. Semua yang kau miliki " kata wanita itu.
Tama mengepalkan tangannya geram dan menautkan alisnya.
"Katakan siapa kau sialan!! "
"Kau ingin tahu siapa aku? Pulang lah ke mansion mu.. Aku sedang mengunjungi istrimu" kata wanita itu menjawab pertanyaan Tama.
Tama tercengang. "Salia" gumam Tama.
"Aku juga sedang bersama istrimu, mau mendengar suara nya? "
Tama menautkan alisnya.
"Taamaaaaa!!!! "
Tama terbelalak. Panggilan itu di akhiri sepihak.
"Halo!!! Halo!! Salia!!! Shit!!!! " Tama bangkit dengan kasar dari duduknya kemudian bergegas pergi.
♡♥♡♥♡♥♡
By
Ucu Irna Marhamah
__ADS_1