
Salia melamun di ruang otopsi. Dia merasa benar-benar tidak ada pekerjaan jadi ahli otopsi seperti itu.
Terdengar suara orang berbicara diluar. Salia mengenali suara itu. Itu suara Refaldo dengan seseorang.
Salia mengintip. Ternyata benar. Itu Refa dengan Dea. Salia menggeleng menahan sesak di dadanya.
Mereka begitu dekat dan tertawa saking senang nya.
"Aku sangat senang hari ini kau mau menemaniku, terimakasih Dea" kata Refa.
"Sama-sama, karena apa yang tidak untuk mu, aku senang jika kau senang" jawab Dea.
Refa tersenyum. Dia merangkul Dea.
Salia jatuh terduduk. Kedua lututnya benar-benar lemas karena melihat itu.
Air mata nya jatuh ke lantai.
"Lágrimas.. My Lágrimas.. You like my Lágrimas.. Refa.. Come for my sadness.. I get hurt because of you.. Lágrimas is you and me can't see you happy with her.. "
♡♥♡♥♡♥♡
Salia memasuki apartemen nya. Karena hari ini sungguh membosankan.
Dia pun malas untuk sekedar membeli makanan untuk menu makan malam nya.
Salia menyalakan TV. Terdengar pintu apartemen nya diketuk. Salia terlihat cemas.
Karena belakangan ini pengintai nya tidak lagi mengganggu nya. Bisa saja dia kembali kan dengan tiba-tiba.
Salia beranjak dari duduk nya. Dia mengintip melalui lubang intip. Terlihat pria tampan berdiri sambil membenarkan rambutnya. Itu tetangga nya.
Salia membuka pintu.
"Oh, hai, selamat malam" sapa Tama dengan bahasa Indonesia.
"Oh iya, hai.. Emm.. Ada yang bisa saya bantu Tn?"
"Ah tidak dok, aku hanya mau melihat keadaan mu"
"Keadaan ku? " tanya Salia heran.
"Iya, tadi ku lihat ada seseorang yang berdiri di depan pintu mu. Aku yakin dia bukan salah satu pengawal mu karena aku mengenali mereka "
Deg
Salia terkejut.
"Emm.. Mari masuk " kata Salia.
Tama mengangguk. Dia pun memasuki apartemen Salia.
Tanpa mereka sadari, Refa memperhatikan mereka dengan ekspresi kecewa.
"Meisa"
♡♥♡♥♡♥♡
"Silakan, duduk"
Tama tersenyum kemudian dia duduk di sofa. Salia berlalu ke dapur untuk membawa cemilan. Tama melihat acara TV yang dilihat Salia.
__ADS_1
Ternyata tentang Cinta.
Tama memutar bola mata nya.
Salia kembali dengan beberapa toples cemilan dan 2 gelas jus.
"Silakan" kata Salia.
"Ah, padahal tidak perlu repot-repot "
"Tidak masalah, lagian kan kita tetangga, saya merasa sepi karena tetangga yang lain tidak ada yang ramah"
Tama tersenyum manis.
"Emm.. Boleh saya bertanya sesuatu ?" tanya Salia.
"Iya, tentu saja.. Apa yang ingin di tanyakan? "
"Apa tadi benar-benar ada orang asing yang mengintai saya? "
"Mengintai? Saya tidak tahu.. Tapi saya lihat dia seperti mau masuk namun kadang dia terlihat seperti orang bingung"
Salia tampak berpikir.
"Saya hanya menyarankan kepada Nn. Untuk waspada, karena bisa saja dia merencanakan sesuatu yang buruk"
Salia mengangguk.
Refa di luar mengintip melalui lubang intip mencoba melihat apa yang di lakukan Salia dan tentangga nya di dalam.
Terlihat Salia dan Tama tertawa.
♡♥♡♥♡♥♡
Perlahan Salia membuka kedua mata nya. Dia menghela napas berat.
Mencoba untuk bangkit, dia terjatuh karena kepalanya begitu pusing. Dia ingat semalam ada seseorang yang mau menyerang nya. Tapi untung ada Tama yang menolongnya.
Jika saja dia tidak mempersilakan Tama memasuki apartemen nya , mungkin dia sudah tinggal nama sekarang.
"Ah, aku lupa tidak menanyakan namanya"
Salia membuka tirai agar cahaya matahari memasuki seisi kamar.
"Saatnya bekerja.. Tapi gue males ketemu Refa sama Dea" gerutu Salia.
♡♥♡♥♡♥♡
Selesai mandi dan berganti pakaian, Salia membuat roti panggang untuk sarapan.
Dia mengolesi roti nya dengan selai kacang kesukaan nya.
Terdengar pintu apartemen di ketuk. Salia membuka pintu. Ternyata Tama.
"Selamat pagi, dok"
Salia tersenyum ramah. "Selamat pagi Tn.. Ada yang bisa saya bantu pagi-pagi begini? "
"Tidak ada, saya hanya ingin mengundang anda untuk sarapan di apartemen saya, bagaimana ?"
"Emm.. Apa tidak merepotkan? "
__ADS_1
"Tidak, ayolah.. "
"Emm baiklah "
♡♥♡♥♡♥♡
Salia dan Tama duduk berhadapan. Salia melihat cukup banyak makanan untuk ukuran sarapan pagi.
"Silakan"
Salia mengangguk. Dia pun menyantap sarapannya. Begitu pun dengan Tama.
"Hmm.. Lezat sekali.. Anda hebat bisa memasak masakan selezat ini" kata Salia.
"Saya les masak karena saya terinspirasi dari bubur buatan anda dulu"
"Apa? "
"Haha.. Iya.. Anda juga bisa memasak kan? " kata Tama.
Salia mengerutkan dahinya. "Semua orang bisa membuat bubur"
"Oh, ya. Mungkin.. "
Selesai sarapan, mereka berbincang sekedar menunggu jam menunjukkan pukul 9.
"Jadi anda bekerja untuk kepolisian? Itu hebat" kata Tama.
"Iya, tapi saya lebih senang bekerja tetap di rumah sakit " jawab Salia.
"Mungkin kau hanya tidak nyaman dengan keberadaan Dea di dekat Refa" batin Tama.
"Dan.. Anda bekerja dimana? " tanya Salia.
"Ah ya, saya bekerja di perusahaan cabang milik mendiang ayah saya disini.. "
"Hmm anda nyaman sekali udah mandiri, saya masih luntang-lantung gak jelas dimana kerjaan saya"
Tama tersenyum. "Yang penting kan kerjaan tetap, selain itu kan saya sudah berusia 28 tahun, saya harus menunjang masa depan saya dari sekarang"
"Benarkah? Tapi anda terlihat muda"
"Hehe.. Terimakasih.. "
"Emm ini udah jam 9, saya berangkat ya, terimakasih sarapan nya " kata Salia.
"Iya, sama-sama "
Tama mengantarkan Salia sampai depan pintu.
"Permisi" Salia berlalu ke apartemen nya. Tama tersenyum.
"Seperti nya dia selalu lupa untuk bertanya siapa namaku, ah tidak masalah.. Nanti dia akan tahu sendiri"
♡♥♡♥♡♥♡
By
__ADS_1
Ucu Irna Marhamah