La'grimas

La'grimas
42


__ADS_3


Renata menatap Michael. Salia menyadari kalau Renata juga ingin memeluk ayahnya. Salia mengulurkan tangannya pada Renata.



Renata pun memasuki tubuh Salia. "Aku rindu ayah.. Ayah.. " kata Renata yang tentunya hanya bisa di dengar Salia.



Michael melepaskan pelukannya kemudian menatap Salia. "Kenapa kamu gak teriak? "



"Ayah, aku udah teriak kenapa ayah gak denger? " gerutu Salia.



Michael mengerutkan keningnya. "Ayah? Tumben kamu manggil Papa dengan sebutan ayah? "



Deg



"Kendalikan dirimu, Renata" batin Salia.



"Maaf"



"Ruangan ini kedap suara, jadi mungkin teriakan aku gak kedengaran sampe luar.. " jawab Salia.



"Ya udah coba ceritain semuanya"



Salia pun menceritakan semuanya secara singkat, padat dan jelas.



"Mana mayat nya? " tanya Michael. Salia menunjukkan mayat wanita yang berpura-pura jadi hantunya Adinda.



"Papa akan mengotopsi mayat ini.. Siapa tahu banyak informasi yang bisa kita dapatkan dari sini" kata Michael.



"Iya, Pa"



"Kok kamu gak keliatan shock? Biasanya kamu akan terguncang atas kejadian ini"



Salia tampak berpikir. "Iya juga ya? Tumben aku gak terguncang.. Apa ini karena Renata? Aku merasa aman bersama Renata"



"Mungkin.. Ini karena kepribadian ganda ku" jawab Salia ragu.



Michael membelai lembut rambut putrinya. "Lalu Tama dimana? Kenapa dia tidak menjagamu? " geram Michael.



"Aku.. Aku gak tahu Pa"



♡♥♡♥♡♥♡



Tama membeli sebuah hiasan kepala yaitu mahkota bunga yang indah.



Perasaan nya merasa tidak karuan. Dia merasa kalau Salia dalam bahaya. Dia pun segera memberikan uang ke kasir dan bergegas keluar dari toko aksesoris itu.

__ADS_1



Namun baru saja dia akan menaiki mobilnya, seseorang memegang tangannya.



Tama berbalik dan melihat gadis cantik berambut coklat yang menyentuh tangannya. Pakaian tebatas nya terlihat begitu menantang.



"Bano" kata wanita itu dengan suara lembut.



"Melani? " gumam Tama.



"Kamu buru-buru banget sih? Ini di Paris.. Aku gak punya temen orang Indonesia, apa kamu gak mau nemenin aku sebentar aja? Aku baru sampe tadi siang disini" kata wanita bernama Melani itu.



"Emm.. Tapi aku.. "



"Bano.. Apa kita bisa bicara di tempat makan saja? Aku janji hanya sebentar " kata Melani memotong ucapan Tama.



Tama pun mengangguk.



♡♥♡♥♡♥♡



Melani meminum jus stroberi nya. Tama memperhatikan Melani.



"Kenapa kamu gak bilang kalo kamu mau nikah? Kamu gak undang aku loh" kata Melani.



"Kenapa aku harus mengundang mu? " geram Tama yang tiba-tiba terpancing emosi.




Tama menghela nafas dalam-dalam. "Pernikahan gue mendadak" kata Tama pelan.



Sunyi



"Kalo aja wanita ini tidak pernah berjasa dalam hidupku, sudah ku tinggal kan saja dia" batin Tama.



"Maaf, Mela.. Gue gak maksud betak lo, cuma gue agak kurang suka aja kalo kita bicara soal privasi gue" kata Tama.



Melani terlihat sedih. "Maaf Bano.. Aku cuma.. Kamu tahu.. Hubungan kita dulu 3 tahun.. Aku sayang sama kamu.. Sampe aku rela ngasih ginjalku buat kamu.. Tapi maksud aku ngomong sama kamu bukan untuk membahas hubungan lama kita.. Aku cuma mau kenalan aja sama istri kamu.. Lagian aku udah punya pacar aku gak mungkin ganggu rumah tangga kalian.. Aku bukan pelakor" kata Mela menahan isak tangisnya yang hampir pecah.



Ya, dulu Tama pernah mengalami gagal ginjal dan Mela lah yang mendonorkan ginjalnya untuk Tama sewaktu mereka pacaran.



Namun hubungan mereka kandas karena Mela selingkuh dengan pria lain.



Tama menghela nafas berat. "Maafin gue, Mel.. Gue cuma.. Mel" Tama membelai punggung terbuka Mela.



Mela memeluk Tama. Tama merasa risih apalagi para pengunjung restoran melihat mereka.


__ADS_1


"Mel.. "



"Maaf Bano" Mela melepaskan pelukannya dan mengusap air mata dari kedua pipi mulusnya.



"Emm.. Gue ngerti.. Lo mau berniat baik.. Gue hargai kebaikan lo" kata Tama.



"Makasih "



Sunyi



"Emm.. Lo boleh kok ketemu sama Salia" kata Tama.



"Beneran? Wah aku gak sabar.. Dia pasti cantik karena bisa memikat hati mu" kata Mela sambil tersenyum menggemaskan.



"Iya, dia begitu cantik.. Dan baik.. Dia begitu peduli dan dia sama sekali tidak punya kekurangan di mataku" jawab Tama dengan tatapan menerawang. Membayangkan wajah istri tercinta nya.



"Ah, gue harus pulang.. Duluan ya.. Gue yang bayarin kok" kata Tama kemudian berlalu.



"Gue kirim alamatnya ke wa lo" kata Tama sambil keluar dari restoran. Mela menatap punggung Tama yang kian menjauh.



♡♥♡♥♡♥♡



Tama sedang berjalan di koridor penginapan. Dia tidak sabar ingin segera menemui istrinya dan memberikan kejutan padanya.



Dia sudah sampai di depan pintu kamar no 102. Tama tersenyum kemudian menarik knop pintu kamar tersebut.



Dia terkejut mendapati Salia tertidur di sofa. Tama merasa bersalah. Mungkin sedari tadi Salia menunggu nya. Sampai-sampai istrinya itu ketiduran.



Tama duduk di samping Salia. Kemudian dia menyingkirkan anak rambut yang menyembunyikan wajah cantik Salia.



Dengan jelas Tama bisa melihat wajah cantik Salia yang terlihat begitu tenang saat tertidur.



Tama membelai lembut pipi Salia. "Makasih, sayang.. Kamu udah mau nerima aku.. Meski kamu tahu.. Kalau aku sudah menyakiti mu begitu dalam.. Aku merasa benar-benar tidak berguna " gumam Tama.



Dia menggenggam tangan Salia. Namun dia terkejut melihat perban yang melilit di tangan Salia.



"Kenapa ini? " Tama menyentuh perban itu. Dia mencium nya. Dia pun mengangkat tubuh Salia dan menidurkan nya ke ranjang.



"Love you " Tama mencium lembut bibir Salia. Kemudian dia pun berbaring di samping Salia dan memeluk Salia dengan erat.



♡♥♡♥♡♥♡




By

__ADS_1



Ucu Irna Marhamah


__ADS_2