La'grimas

La'grimas
54


__ADS_3


Salia memakan makan malamnya. Sesekali dia melirik Tama yang juga sedang makan bersamanya.



"Kamu mau ngomong sesuatu? " tanya Tama.



Salia tersenyum. Dia tidak mengira Tama begitu peka.



"Emm.. Iya.. "



Tama menatap Salia kemudian membelai pipi Salia. "Katakan saja, kamu gak usah ragu, sayang " kata Tama.



Kedua pipi Salia merona. Kenapa Tama seromantis itu?



"Aku.. Aku mau mengunjungi rumah sakit yang ada di sekitar sini, apa boleh? " tanya Salia.



"Ah aku tidak yakin, jika kamu sudah melihat rumah sakit disini, ujung-ujungnya kamu pasti jadi mau bekerja disini" gerutu Tama.



Salia terkekeh. "Iya habisnya aku bosan kalo nanti kamu kerja, aku pasti sendirian di sini, aku kan bosan" kata Salia.



"Kamu bisa jalan-jalan sama bodyguard kan? Kalo kamu kerja di rumah sakit, nanti kamu kelelahan" kata Tama.



"Aku cuma hamil, bukan sakit.. Aku mau jadi dokter lagi, percuma aku kuliah lama kalau akhirnya aku duduk terus tanpa menggunakan keahlian ku" kata Salia.



Tama menghela nafas panjang kemudian dia membelai lembut rambut Salia. "Baiklah, besok kamu bisa bekerja di rumah sakit milik dari salah satu klien ku" kata Tama.



"Ye.. Aku mencintaimu, Aryatama" seru Salia kemudian memeluk Tama dengan erat.



"Aku lebih mencintai mu" kata Tama sambil membalas pelukan Salia dan mencium kening Salia.



♡♥♡♥♡♥♡



Pagi ini, jalanan Jepang sudah berisik dengan kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang. Kota sibuk dan salah satu negara maju itu sangat disiplin.



Dimana para pencari nafkah bekerja dengan sungguh-sungguh dan selalu datang tepat waktu ke tempat kerja mereka.



Mobil Tama juga sudah berada di jalanan. Salia terlihat begitu antusias dan tidak sabar ingin segera memegang peralatan kedokteran yang sudah lama tidak dia sentuh.



"Wah, jalanan Jepang tidak terlalu macet ya, seandainya Jakarta seperti ini juga" kata Salia.

__ADS_1



"Hmm.." Tama menanggapinya dengan gumaman.



"Kamu udah ngomong sama pemilik rumah sakit itu? " tanya Salia.



"Semalam aku udah ngomong, kita akan ketemu lagi di rumah sakit nanti" kata Tama.



"Apa nama rumah sakit nya? " tanya Salia.



"Immamura Hospital" jawab Tama.



"Aku jadi ingat rumah sakit milik Opa.. " kata Salia.



"Ah ya, Danuarga Hospital,  rumah sakit itu tempat pertemuan pertama kita ya " kata Tama sambil tertawa.



"Iya, sungguh, kau pasien termenyebalkan .. Kau seenaknya dan cerewet sekali.. Padahal ku pikir pria setampan dirimu itu dingin" kata Salia sambil tertawa.



"Tampan kah?  Waktu itu kau terpesona kah? " goda Tama sambil menatap Salia dan menaikkan sebelah alisnya.



"Ah.. Tidak.. Itu keceplosan " kata Salia sambil mengalihkan pandangannya menyembunyikan pipinya yang merona.




Salia masih berpaling dari Tama.



Tama tersenyum kemudian dia kembali fokus ke jalanan.



"Waktu pertama bertemu dengan mu, aku sama sekali tidak tertarik dengan mu" kata Tama.



Dengan cepat Salia berbalik dan menatap Tama. "Apa? Tega sekali " gerutu Salia.



"Iya, kau seperti gadis polos yang baru jatuh Cinta.. Dan waktu ku dengar kau menyebutkan nama Refa, kau terlihat begitu senang.. Kedua pipimu memerah seperti tomat.. Ku pikir orang yang bernama Refa itu kekasihmu.. Kamu kayak gadis baru puber" kata Tama.



Salia tampak berpikir dan mengingat flashback dimana dia masih magang di rumah sakit mendiang kakeknya itu.



"Benarkah? "



"Iya.. Aku yakin kamu gadis baik-baik " kata Tama.


__ADS_1


"Tentu saja" kata Salia cepat. Tama tersenyum.



"Aku suka melihat kamu menjalankan tugasmu sebagai seorang dokter yang profesional.. Mengutamakan pasien mu padahal kau sendiri harus mengatasi masalahmu dengan Refa" kata Tama.



Salia tersenyum. "Lalu aku tidak mengerti semudah itu kah kau berubah? Maksudku.. Pertama kali kita bertemu , kamu pemarah dan ya.. " Salia tidak berani melanjutkan kata-katanya.



"Om Adi bilang.. Aku harus berubah kalo aku mau punya kekasih.. Aku  waktu itu berpikir, buat apa aku berubah? Aku bisa mendapatkan wanita yang ku mau.. Tapi om bilang aku harus mendapatkan wanita yang baik agar keturunan ku juga baik.. Karena nanti keturunanku akan menjadi penerusku " kata Tama pajang lebar.



Salia melelapkan kepalanya di dada bidang Tama.



"Waktu itu aku tidak memiliki pilihan wanita baik-baik.. Namun, saat aku menguntitmu, aku melihat bahwa kau itu wanita yang baik-baik dan jauh dari pergaulan bebas.. Aku mulai berpikir untuk memilih mu" kata Tama.



"Lalu? " tanya Salia yang terlihat  begitu penasaran.



"Awalnya aku memang cukup tertarik padamu.. Aku berpikir aku tidak mau memilihmu karena kau anaknya Michael.. Tapi semakin aku menguntitmu, aku semakin tertarik dan aku mulai mencintaimu di tahun pertama menguntitmu" kata Tama.



"Kenapa aku merindingnya sekarang ya" gumam Salia.



Tama tertawa. "Aku mengincarmu.. Aku menginginkan dirimu.. Sepenuhnya.. Dengan bantuan Grace, aku bisa mendapatkan mu"



Salia menautkan alisnya. "Penghianat " gumam Salia dengan tangan terkepal.



"Dengar dulu, dia tidak menghianati mu, aku yang mengancamnya, aku mengancamnya.. Awalnya dia membentak dan memaki ku.. " kata Tama dengan tatapan menerawang.



Salia mengerutkan keningnya. "Maksudmu? Grace tidak berniat menghancurkanku sepenuhnya? "



"Iya.. Kau mau mendengar ceritanya? " tanya Tama.



"Ku harap aku tidak salah"



♡♥♡♥♡♥♡






By



Ucu Irna Marhamah

__ADS_1


__ADS_2