
Salia terbaring diatas ranjang. Dia menatap langit-langit kamar operasi. Emosinya campur aduk saat ini. Dia akan di operasi selaput dara.
Namun dia tidak mau mati hanya karena dia kehilangan keperawanan nya. Dia masih bisa mencari solusi lain.
dr. Zialora memasuki ruang operasi. Dia menatap sedih Salia.
"Are you ready for it? "
"Yes"
♡♥♡♥♡♥♡
Michael mondar-mandir di depan ruang operasi. Meina juga tidak berhenti cemas. Dia sangat mencemaskan putri nya itu.
"Brengsek sekali bajingan itu, beraninya dia melakukan hal ini pada putriku" geram Michael.
Meina mengepalkan tangannya berusaha menenangkan pikiran nya yang kalang kabut.
"Akan ku balas dia" geram Michael.
"Cukup!! Cukup Mike!! Kau lupa, ini juga yang pernah kau lakukan padaku dan mungkin ini karma bagimu! Ini semua salahmu!! Kenapa kau membunuh adiknya! " teriak Meina diambang kesabarannya.
"Aku tidak membunuh adiknya! Tapi Cecillia yang melakukannya! " bantah Michael kesal.
"Kalau begitu jelaskan semuanya pada pria itu dan suruh dia bertanggung-jawab atas perbuatannya pada putri kita!! "
Deg
Michael tidak mau kalau sampai Tama menjadi suami Salia. Bagaimana nantinya jika dalam rumah tangga Salia, Tama akan menyakiti dia lebih dari ini?
"Kenapa dia harus bertanggung jawab? Kita bisa mengatasinya sendiri "
"Dia yang menyakiti Meisa, dia yang merenggut Meisa.. Bagaimana jika Meisa mengandung? Dia ayahnya. Dia harus bertanggung jawab "
"Tapi, Minny, bagaimana jika setelah mereka menikah, pria itu malah semakin membuat Meisa tersiksa? Apa kau mau putri kita hidup berantakan dengan pria itu? "
Deg
Meina bimbang. Dia menghela napas berat.
"Mike.. Tapi Meisa.. "
"Percayalah, kita akan mengatasinya dengan baik, Meisa akan bahagia dengan jalan yang sudah pasti di tentukan Tuhan"
Meina menghela napas panjang kemudian mengangguk pelan.
♡♥♡♥♡♥♡
Michael dan Meina memasuki kamar rawat Salia. Terlihat Salia begitu kacau dan shock. Meina bisa merasakan di posisi Salia. Karena dia juga pernah mengalami nya.
__ADS_1
Meina memeluk Salia. "Sayang"
Salia tidak merespon ibunya. Dia menatap kosong ke arah jendela.
Michael menghela napas dalam-dalam kemudian membelai lembut rambut Salia yang panjang.
"Ada seseorang yang ingin menemui mu, Meisa" kata Michael.
Salia terkejut. Dia menatap ayahnya. Salia tampak berpikir. Apakah Tama? Di tidak mau bertemu dengan Tama.
Meina dan Michael pun berlalu. Salia menatap pintu dengan ekspresi tegang.
Terdengar langkah kaki memasuki kamar rawat. Jantung Salia berdetak kencang. Dia tidak mau bertemu dengan Tama.
Namun itu bukan Tama. Itu Refa.
Salia menghela napas lega.
"Meisa"
Meisa hanya diam sama sekali tidak mau merespon Refa.
Refa mengerti dengan keadaan Salia yang pastinya shock atas kejadian yang telah menimpanya.
Refa duduk dikursi di samping ranjang dimana Salia berbaring.
Tidak ada jawaban.
"Aku akan memberikan dia hukuman yang setimpal atas apa yang dia perbuat pada mu"
Salia menghela napas panjang. "Itu tidak perlu.. Aku tidak mengenal nya.. Kau juga.. Jika aku mengajukan kasus ini, maka semuanya akan semakin rumit.. Kau tidak mengerti, Refa"
Refaldo menghela napas berat. "Aku bisa melakukan apa saja.. Termasuk memenjarakan dia"
"Aku tidak mau dapat masalah lagi karena dia.. Lupakan saja.. Aku bisa mengatasi ini semua sediri" kata Salia
"Tapi Salia.. Ini keterlaluan.. Dia.. Dia sudah.."
"Percayalah.. Aku bisa bangkit "
Refa menghela napas berat. "Seolah kau rela di perlakukan seperti ini.. Apa kau tidak mengerti? Dia itu senang melihatmu seperti ini"
"Hentikan Refa! Jika aku melaporkannya ke pengadilan, itu akan menjadi lebih buruk.. Dia akan melancarkan aksi balas dendam nya pada keluarga besar ku.. Dengan aku diam dan menjadi korban, itu sudah cukup. Aku yakin dia tidak akan mengganggu ku lagi mulai saat ini.. Sekarang pergilah, aku mau sendiri "
Deg
Refa terlihat sedih. "Baiklah.. Aku akan tetap menangkap pria brengsek itu "
Refa berlalu meninggalkan Salia dalam kesepian. Salia menghela napas dalam-dalam.
__ADS_1
"Maaf Refa"
♡♥♡♥♡♥♡
Michael tengah duduk di ruang keluarga. Dia juga sedang menghubungi orang-orang kepercayaannya.
"Katakan dimana pria brengsek itu! Ku dengar dia benar-benar sudah pulang ke Indonesia "
"Tidak Tn. Itu berita bohong. Aryatama masih di New York. Dia mengawasi gerak-gerik Tn. Michael dan mengawasi Nn. Meisalia"
"Keparat.. Aku akan kembali ke Indonesia bersama istriku dan Meisa dengan jet ku, siapkan semuanya, aku percayakan tugas ini padamu"
Michael mengakhiri panggilan nya. Dia mendengus kesal.
Meina memasuki ruang keluarga. Dia membawakan kopi untuk Michael.
"Minumlah, pekerjaan mu masih banyak kah? Sampai-sampai kau mau di buatkan kopi"
"Tidak ada, aku hanya sedang memikirkan rencana untuk membalas perbuatan Aryatama"
"Sudah ku bilang, Mike. Berhenti saling melempar dendam dengan Aryatama.. Kau tidak lihat, putri kita yang menjadi korban"
"Karena itu aku harus menghabisinya, mencabiknya dan.. "
"Mike, ku pikir jiwa psikopat mu sudah hilang" gerutu Meina kemudian memakai jaket berbulu nya.
"Meina, kau mau kemana? "
"Menemani Meisa.. Apalagi memang? "
"Aku akan menyusul, Will akan mengantar mu ke rumah sakit dan besok pagi, kita akan kembali ke Indonesia "
"Kau yakin, Mike? Kembali ke Indonesia? "
"Iya, Indonesia lebih aman untuk Meisa"
Meina mengangguk kemudian berlalu.
Michael menghela napas pelan.
"Akan ku kejar kau Aryatama"
♡♥♡♥♡♥♡
By
Ucu Irna Marhamah
__ADS_1