
Meisalia*
Hari terus berlalu.
Bastian dan Marcell sudah lebih dulu pergi ke New York beberapa hari yang lalu. Sementara aku masih disini. Aku masih kepikiran dengan ucapan Om Rob.
Aku takut jika aku pergi ke New York, lalu bagaimana jika pengintai itu ikut?
Aku memang bisa berkelahi, namun bagaimana jika pengintai itu lebih lihai?
Itu menakutkan.
Hari ini aku akan pergi ke New York sendirian. Papa dan Mama tidak ikut karena mereka mengurus perusahaan.
Aku memasuki jet pribadi papa karena papa tidak ingin aku naik pesawat. Bisa saja kan pengintai itu terus mengawasi ku?
Setelah sekian jam, akhirnya aku sampai ke New York. Aku tidak ke mansion ku yang dulu. Karena aku tidak mau bertemu Refa.
Aku memang mencintai nya. Namun aku juga melihat Dealova begitu mencintai Refa. Aku tidak akan mengganggu mereka. Biarkan saja semua berjalan semestinya.
Aku memasuki apartemen yang sudah di sediakan ayahku. Apartemen elit dimana penyewa nya orang-orang kaya.
Aku tahu ini berlebihan. Aku hanya seorang dokter. Aku melihat apartemen baru ku begitu bersih. Aku akan tinggal sendiri disini. Kecuali jika Grace mau menginap disini.
Ponsel ku bergetar. Ku lihat nama Johnson di layar. Dia adalah kepala kepolisian Amerika.
Aku mengangkat panggilan nya.
"Salia in here" kataku
"Oh hi Salia, please come to my office now.. "
"OK"
Dia mengakhiri panggilan nya. Aku bekerja di kepolisian Amerika sebagai dokter ahli otopsi. Sebenarnya aku lebih suka menetap menjadi dokter di rumah sakit.
Baru saja aku sampai sudah di mintai untuk hadir dan mungkin mereka meminta ku untuk membereskan berkas ku.
Aku mengganti pakaian ku, belum sempat mandi. Aku juga memakai jas putih kebanggaan seorang dokter. Dengan langkah gontai, aku keluar dari apartemen ku.
Aku bergegas pergi namun, aku bertubrukan dengan seorang pria berjas biru tua berkacamata hitam. Aku terkejut dan terpundur karena hentakan.
"Oh, maaf Tn. Aku tidak sengaja.. Aku salah tidak melihat anda" kataku.
Dia tidak merespon.
Namun aku tidak mau menunggu respon dari nya. Aku buru-buru.
"Permisi"
Aku pun berlalu pergi ke parkiran umum dan memasuki mobilku kemudian melajukan mobilku menuju kantor kepolisian.
Sesampainya di kepolisian, aku langsung berhadapan dengan Pak Johnson.
__ADS_1
"Selamat sore, dokter Salia"
"Sore, Pak"
"Maaf, mengganggu mu.. Aku tahu kau baru sampai tapi kau harus sesegera mungkin membereskan berkas-berkas kepegawaian mu"
"Emm.. Iya Pak"
"Komisaris kami akan membantu mu " kata Pak Johnson.
Terdengar seseorang memasuki kantor. Aku menoleh untuk melihat siapa yang datang.
Deg
Aku benar-benar terkejut. Aku tidak mengira akan bertemu dengan dia.. Sehingga nama itu tanpa sadar terucap..
"Refaldo"
Refa juga terkejut melihat keberadaan ku. "Meisa? "
"Ah? Jadi kalian sudah saling kenal? Itu Bagus.. Kalian bisa jadi rekan yang baik" kata Pak Johnson.
Skak matt
♡♥♡♥♡♥♡
"Kenapa kau tidak menghubungi ku, Meisa? "
Aku yang sedang membereskan berkas-berkas ku hanya diam tidak mau merespon nya.
"Maaf, Refa.. Aku harus segera menyelesaikan semua ini" kataku.
Dia mengalah.
Selesai membereskan berkas ku, aku pamit pada Pak Johnson untuk kembali ke apartemen.
"Oh ya, dr. Salia, nanti jika ada missi turun ke lapangan, kau akan satu team dengan Komisaris Refaldo"
Deg
"Emm.. Iya.. Terimakasih Pak.. Saya harus kembali ke apartemen "
"Iya silakan.. Selamat beristirahat. Kau bisa mulai bekerja pada hari senin nanti"
Aku mengangguk dan melenggang pergi. Setidaknya aku punya waktu satu minggu untuk beristirahat.
Aku kembali ke apartemen ku. Merebahkan tubuhku diatas ranjang. Oh aku ingin sekali tidur sekarang. Tapi aku harus mandi dan rasanya perutku lapar.
Aku harus pergi ke restoran. Ya, setidaknya aku bisa liburan di sini.
Aku pun mandi dan berganti pakaian dengan pakaian santai ku. Celana jeans dan sweater putih ku.
Aku segera memasuki mobil dan pergi ke restoran terdekat.
__ADS_1
Aku memesan nasi goreng. Jangan salah.. Di Amerika juga ada. Ya tentu nya di restoran-restoran tertentu saja yang menyediakan menu makanan Indonesia.
Sambil menunggu pesanan, aku memainkan ponsel ku. Aku melakukan panggilan video dengan Bastian. Aku mau tahu bagaimana kabarnya dengan Marcell.
Panggikan pun terhubung. Ku lihat mereka sedang bermain salju.
Demi Tuhan!
Mereka seperti anak kecil. Bukankah mereka kesini untuk mengurus perusahaan? Malah liburan.
Mentang-mentang di Indonesia tidak ada salju.
Kebetulan saat ini memang memasuki musim salju di New York.
"Apa yang sedang kalian lakukan? Apa tidak ada pekerjaan lain? " gerutu ku.
Ku lihat Bastian tertawa. "Ini masa liburan kami, Salia.. Seandainya kamu bersama kami. Kemarilah, kita bermain salju.. Sudah lama kita tidak bermain seperti ini sejak kecil"
Aku tersenyum. Ya, selain Refa, Bastian juga teman kecilku karena dia juga kebetulan sepupu ku.
Dia putra dari Om Brian dan Tante Meinila, adik kembarnya Mama.
Orang bilang aku dan Bastian malah terlihat seperti sepasang kekasih. Mungkin karena dia terlihat lebih dewasa. Padahal usia nya berbeda 1 tahun lebih muda dari ku.
"Aku tidak mau dingin-dingin an, lebih baik di sini" kata ku sambil mengedarkan ponsel ku ke seluruh penjuru restoran.
"Tunggu! Siapa pria di belakang mu! " seru Bastian.
Aku terkejut dan menoleh ke belakang. Tidak ada siapa pun disana.
Deg
Seketika bulu kuduk ku berdiri.
"Jangan menakutiku, Bas.. Kau mau mengerjaiku? " tanya ku gemetar.
"Demi Tuhan! Ada seseorang di belakang mu tadi. Dia pria berwajah Indonesia tapi cukup tampan dengan setelan yang rapi"
"Bastian, cukup.. Aku akan pergi "
Aku pun meminta pelayan restoran untuk membungkus makanan pesanan ku.
Aku pun segera kembali ke apartemen. Aku benar-benar ketakutan.
Berkali-kali aku menengok kearah spion. Siapa tahu pria yang di maksud Bastian mengikuti ku. Namun tidak ada yang aneh.
Tapi aku tetap takut. Aku menghubungi Grace untuk tinggal di apartemen ku untuk sementara menemani ku.
♡♥♡♥♡♥♡
By
__ADS_1
Ucu Irna Marhamah