La'grimas

La'grimas
15


__ADS_3




Salia menelepon Michael dan dia menceritakan semuanya pada Michael.



".. Kenapa semua ini bisa terjadi? Aku takut Papa"



"Papa akan mengirim orang untuk menjaga mu, dia Vitor dan Sean, tunggu saja ya"



"Tapi Pa.. Apa semuanya akan baik-baik saja?"



"Iya.. "



Salia mengakhiri panggilan nya. Dia menghela napas berat.



"Ya Tuhan.. "



Terdengar pintu apartemen diketuk. Salia menoleh kearah pintu.



"Salia? "



Itu suara Grace. Salia pun bergegas membuka pintu.



"Kau kembali? " tanya Salia.



"Iya, ada yang ketinggalan " kata Grace sambil memasuki kamar.



Salia menghela napas panjang.



Grace kembali ke ruang tengah. Dia melihat  Salia begitu resah.



"Ada apa, Salia? Apa terjadi sesuatu? " tanya Grace.



Salia pun menceritakan semuanya pada Grace.



"Lalu dimana Vitor dan Sean? "



"Mereka masih di perjalanan "



"Semoga mereka cepat kembali. Oh ya, aku harus kembali ke rumah sakit. Lebih baik kau ikut saja dengan ku" kata Grace.



Salia tampak berpikir. "Apa boleh? "



"Tentu saja, bukankah kau juga seorang dokter? Rumah Sakit Umum pasti akan menyambut baik dirimu"



Salia mengangguk.



♡♥♡♥♡♥♡



Salia menunggu Grace di ruangan Grace. Dia mengotak-atik ponsel nya. Hari sudah sore, tapi Grace masih bertugas.



Tiba-tiba ponsel nya bergetar. Salia melihat layar. Tidak tertera nama ataupun nomor disana.



Salia mengangkat panggilan itu.



"Hai, bagaimana kabarmu? Apa kau sudah makan siang?"



Deg



Salia mengenali suara itu. Dia si pengintai.



"Ke.. Kenapa kau menghubungi ku.. Da.. Dari mana kau tahu nomor ku? "

__ADS_1



"Kenapa kau bertanya.. Bukankah kau milikku? "



Deg



"Jangan macam-macam "



"Aku tidak macam-macam.. Tenang saja.. Semuanya dalam kendali ku"



"Itu yang ku khawatirkan.. Berhenti mengganggu ku" kata Salia kemudian mengakhiri percakapan yang tidak ada gunanya itu.



Ponsel nya kembali bergetar. Dia segera mengangkat nya dan membentak si penelepon.



"Berhenti mengganggu ku!!! "



"Ini kami, Nn. Danuarga.. "



Deg



"Ah? Emm.. Sean.. Maaf.. Ku kira kau pengintai tadi"



"Kami sudah berada di apartemen mu.. Tapi kau tidak ada di dalam "



"Wah, kalian cepat sekali.. Aku sedang di rumah sakit umum.. Kemarilah akan ku kirim alamat nya "



"Baik, Nn. "



Salia menghela napas lega.



Tanpa dia sadari, Tama memperhatikan nya.



♡♥♡♥♡♥♡




"Kalian akan menunggu diluar kan? " tanya Salia.



"Tentu Nn"



Salia mengangguk. Saat melewati apartemen Tama, Tama keluar dari apartemen. Dia menatap  tajam pada kedua bodyguard Salia.



Salia menoleh kearah pria berjas hitam yang tersenyum manis padanya. Dia merasa tidak asing dengan wajah Tama. Dia merasa pernah bertemu dengan Tama.



"Selamat malam, Nn" sapa Tama.



Salia tersenyum ramah. "Selamat malam"



"Apa anda dr. Meisalia? "



Salia terkejut. "Darimana kau tahu? "



"Apa kau lupa? Kau pernah merawatku.. Aku korban tembakan.. Kau yang mengoperasi ku"



Salia terlihat berpikir.



"Aku ini pasien mu, yang keras kepala.."



"Ah ya, aku ingat.. Yang tertembak 17 peluru itu kan? Berarti kau orang Indonesia? Setidaknya ada seseorang yang ku kenal disini"



Tama tersenyum. Vitor dan Sean mendelik curiga pada Tama.



"Aku lupa ingin bertanya nama mu.. Namaku Meisalia Michelle" kata Salia sambil mengulurkan tangannya.


__ADS_1


Tama tersenyum ramah. Dia akan menerima uluran tangan Salia. Tapi di halangi Vitor.



"Nn. Salia.. Tn. Besar Danuarga meminta kami menjaga jarak anda dengan orang asing" kata Vitor.



"Apa? Tapi dia hanya pasien ku "



"Maaf, kami harus menjalankan perintahnya, silakan anda masuk dan beristirahat.. Ini sudah malam"



Salia pun menurut. "Maaf ya.. Terimakasih telah menyapa" kata Salia pada Tama. Tama tersenyum.



Salia memasuki apartemen.



♡♥♡♥♡♥♡



Hari dimana Salia bertugas pun telah tiba. Dia pergi ke kantor kepolisian New York.



Dia di sambut baik oleh anggota kepolisian. Salia tidak melihat  Refa.



"Dimana Refa, pak Johnson? "



"Dia sedang bertugas bersama Dealova "



Deg



"Ku pikir dia sudah kembali.. Apa mungkin mereka.. "



Hati Salia berguncang.



"Aku sempat berpikir jika sebaiknya Dea juga masuk team Refa.. Dia sangat berbakat.. Mereka cocok seperti sepasang kekasih "



Deg



Salia menghela napas panjang. Seperti nya sia-sia saja 4 tahun terakhir ini usaha nya untuk move on dari Refaldo. Nyatanya dia masih mencintai sahabat kecil nya itu.



Namun kali ini dia harus benar-benar move on.



"Oh ya, kenapa kau bisa mengenal Refa? Padahal dia kan selama ini tinggal di sini.. Dan kau juga asli penduduk Indonesia " tanya Johnson.



"Kami pernah bertetangga disini waktu kami kecil. Jadi kami saling mengenal " jawab Salia.



"Itu artinya kau sudah mengenal wilayah ini kan? "



"Tidak juga, aku kembali ke Indonesia saat usia ku sekitar 6 tahun "



"Jika ada hal yang tidak kau mengerti, atau sesuatu yang janggal, kau bisa menanyakan nya pada Refa.. Dia ahli nya.. Polisi hebat seperti ibu nya "



Salia tersenyum kemudian mengangguk. "Iya , pak"



"Baiklah.. Jika tidak ada yang mati mencurigakan, kau tidak ada pekerjaan.. Namun jika banyak mayat, kau harus lembur"



"Tidak masalah bagiku, pak"



"Bagus"



Johnson pun berlalu. Salia menatap langi yang cerah di pagi ini.



♡♥♡♥♡♥♡




By



Ucu Irna Marhamah 

__ADS_1


__ADS_2