
Salia terhenyak saat bibir Tama menyentuh bibirnya dengan lembut. Semua orang bertepuk tangan.
Kedua pipi Salia merona karena malu. Salia mendorong dada Tama.
Tama mengeringai mesum. Salia mendengus kesal.
Setelah janji suci terucap, Salia dan Tama duduk di kursi pelaminan.
Sama sekali tidak ada yang berniat memulai pembicaraan diantara mereka.
Salia meminum jus yang di berikan pelayan nya. Sementara Tama menolak karena dia tidak ingin minum sesuatu.
Refa dan Dea menghampiri mereka berdua. Salia pun bangkit. Tama juga.
"Selamat, semoga kalian bahagia selamanya " kata Dea sambil menyalami Tama dan Salia.
"Terimakasih " kata Salia. Dia melirik Refa.
"Semoga kau bahagia, Meisa" kata Refa sambil memeluk erat Salia.
Dea tesenyum sambil membelai lembut punggung Refa. Tama menautkan alisnya kesal. Dia menarik lengan Refa.
"Terimakasih, Refaldo, dan semoga kalian berdua cepat menyusul kami" kata Tama dengan nada sarkas.
Refa menatap Tama dengan tajam. Salia mengalihkan pandangannya.
Refa mendekatkan wajahnya ke telinga Tama. "Jangan biarkan sahabat kecilku menderita karena mu lagi"
Tama tersenyum. "Tentu, aku akan mengingat itu "
"Ayo, Dealov" kata Refa. Dea mengangguk dan mereka berdua pun berlalu.
Marchel dan Bastian menghampiri mereka.
"Selamat Meisa" kata Bastian sambil memeluk Salia. Salia tersenyum dan membalas pelukan Bastian.
Tama terlihat kesal dan mendekati mereka, tapi Marc menghalangi Tama.
"Jangan coba memisahkan mereka, mereka sepupu.. Mungkin kau bisa memisahkan kak Meisa dari Refa, tapi tidak dengan Bastian" geram Marc.
Tama tersenyum sinis. "Kau pikir aku tidak tahu tentang hubungan keluarga Danuarga yang rumit? Cecil, adiknya Michael ayahmu itu mencintai Michael, bisa saja Bastian juga mencintai Salia kan? " tanya Tama.
Marc menautkan alisnya. "Itu tidak mungkin terjadi, aku tahu kau sangat mencintai kakakku dan asal kau tahu, kakakku tidak akan pernah mencintai mu sampai kapanpun" kata Marc kemudian berlalu.
Tama mengepalkan tangannya geram dengan sikap adik ipar nya itu.
Bastian melepaskan pelukannya kemudian berbicara sebentar dengan Salia lalu pergi menyusul Marc.
Tiba-tiba, Tama menarik pingang Salia dengan posesif. Salia tekejut dengan tindakan Tama.
"Tama, kau ini apa-apaan " gerutu Salia kesal.
"Memangnya kenapa? Kau kan istriku sekarang, jadi aku mau menunjukkan hak ku atas dirimu" jawab Tama.
"Ini memalukan, lepaskan aku Tama " gerutu Salia.
__ADS_1
"Kenapa harus malu? Aku tampan dan baik, kau tidak perlu malu "
"Baik? Demi Tuhan kau benar-benar tidak sadar diri ya"
"Tidak apa-apa setidaknya kau mengakui kalau aku ini tampan"
"Siapa bilang? " gerutu Salia.
"Kau hanya protes atas kebaikan ku, bukan ketampanan ku kan? " jawab Tama sambil tersenyum percaya diri.
Salia mendengus kesal. Megan dan Mykha menghampiri mereka berdua.
"Wah, pasangan romantis ini" goda Mykha.
Salia tersipu malu. Tama tersenyum bahagia mendengar itu.
"Selamat ya" kata Megan dan Mykha berbarengan sambil menyalami sepasang pengantin baru itu.
"Terimakasih " kata Tama sambil tersenyum ramah tanpa melepaskan tangannya dari pinggang Salia.
"Tante " Salia memeluk erat bibi tersayang nya itu. Otomatis dirinya terlepas dari Tama. Tama tahu isi pikiran Salia yang cerdik itu.
"Tante, Meisa kangen sama Tante" kata Salia.
"Tante juga kangen sama kamu, lama ya kita tidak ketemu dan ketemu pun sekarang kamu udah nikah" kata Mykha sambil membelai lembut rambut Salia.
"Ehm"
Mereka menoleh, ternyata Vanessa bersama Darren dan Carren. Mereka mendelik tajam pada Mykha dan Megan.
Mykha mengalihkan pandangannya. Dia menarik tangan Megan.
"Ayo pergi" bisik Mykha. Megan mengernyit heran. Padahal dia ingin menyapa istri dari pamannya itu.
"Kami harus segera pergi ke luar negeri, selamat ya dan semoga kalian berdua hidup bahagia" kata Mykha.
"Tapi Tante kok cepet banget " kata Salia.
"Kita pasti ketemu lagi ya, sayang. Sampai jumpa " kata Mykha kemudian berlalu bersama Megan.
Vanessa menghampiri kedua mempelai itu.
"Hai, Salia sayang kau terlihat begitu cantik " kata Vanessa sambil memeluk Salia.
Salia tersenyum kemudian membalas pelukan bibinya itu.
"Terimakasih, Tante Vanessa" kata Salia.
Darren dan Carren juga memberikan ucapan selamat.
Francesca menghampiri pasangan pengantin baru itu. Dia menatap Salia.
"Ini ibuku" kata Tama pada Salia. Salia tersenyum canggung. Francesca tersenyum bijak kemudian menangkup wajah Salia.
"Kamu sangat cantik, sayang.. Ibu harap kamu bahagia dengan putra ibu, ya meski kau tahu dia mudah marah dan kepala batu" kata mertuanya itu yang membuat Tama memundurkan tubuhnya.
__ADS_1
Selesai acara pernikahan, Tama memerintahkan semua pengawal nya untuk menyiapkan beberapa mobil.
Salia yang baru saja keluar dari mansion orang tua nya terkejut melihat kesibukan Tama.
"Hei, alis tebal, kenapa dengan mobil-mobil mu? " tanya Salia dengan gaya angkuhnya.
Tama tersenyum. Setidaknya Salia mau mengajak Tama bicara meski dengan gaya dan nada yang sama sekali tidak ada romantis -romantis nya sedikit pun.
"Alis tebal? " tanya Tama dengan kening berkerut.
"Iya, alismu kan tebal. Apa aku salah memanggilmu seperti itu?" gerutu Salia.
"Tidak, dan aku akan memanggilmu pesek"
Salia terbelalak. "Pesek? Aku tidak pesek, menyebalkan kau" gerutu Salia.
Tanpa mereka sadari, Meina memperhatikan pertengkaran kecil antara mereka berdua. Dia sesekali tersenyum.
"Kau mau menjawab pertanyaan ku atau tidak? " gerutu Salia.
"Oh kau mulai peduli padaku ya?" goda Tama.
"Jangan besar rasa, aku bertanya karena aku merasa kalau tindakan mu ini akan merugikan ku" gerutu Salia.
Tama tersenyum. "Kita hanya akan pergi untuk berbulan madu"
Deg
Salia terbelalak. "Apa? Bulan madu? Tidak.. Tidak.. Aku tidak mau pergi dari mansion keluarga ku"
"Salia"
Salia dan Tama terkejut kemudian menoleh. Ternyata Meina.
"Apa salahnya kalian berbulan madu, sayang.. Kalian sudah menikah dan seharusnya kalian lebih banyak menghabiskan waktu berdua " kata Meina.
"Tapi, bagaimana jika dia macam-macam padaku, Ma" gerutu Salia.
Meina tersenyum geli. "Macam-macam nya kan udah kelewatan tuh janin kamu hasilnya "
"Oh, Mama baik sekali dan Mama benar sekali" kata Tama kemudian menarik pinggang Salia dengan posesif.
Salia mendengus kesal. "Mama, yang anak Mama itu siapa sih, aku apa si alis tebal ini"
Meina tertawa. "Alis tebal? Panggilan sayangmu sungguh tidak romantis, Meisa"
Tama tersenyum geli. Beberapa pelayan keluar dari mansion. Mereka membawa banyak koper dan barang-barang lainnya.
"Ayo sayang kita akan pergi ke Perancis"
"Apa! Perancis?? "
♡♥♡♥♡♥♡
By
__ADS_1
Ucu Irna Marhamah