
Perlahan kedua mata Salia terbuka. Dia mendapati Grace sedang berdandan. Di meja rias nya.
"Kau mau kemana? "
"Aku harus bekerja di rumah sakit"
"Tadinya aku mau mengajakmu berlibur" kata Salia dengan nada kecewa.
"Yah.. Gimana ya.. Abis aku gak boleh mangkir dari tugasku.. Oh ya.. Mungkin besok kita bisa berlibur "
"Benarkah? "
"Iya, Salia sayang "
Salia tersenyum. Dia bangkit dari ranjang menuju kamar mandi.
Grace hanya tersenyum sambil menggeleng.
♡♥♡♥♡♥♡
Tama sedang menelepon seseorang.
"Kau saja yang mengurus perusahaan ku di Indonesia.. Aku akan cukup lama disini, jadi aku percayakan semuanya kepada mu"
Tama mengakhiri panggilan nya. Kemudian dia memakai jas hitam nya. Dia keluar dari apartemen nya. Namun dia mendengar pintu apartemen Salia terbuka. Dia pun kembali memasuki apartemen nya.
Salia dan Grace keluar dari apartemen .
"Jadi sekarang kau mau kemana? " tanya Grace.
"Aku mau keluar.. Jalan-jalan.. Daripada di apartemen terus.. Aku takut pria yang semalam akan mengintai ku lagi "
Grace menepuk bahu Salia. "Hati-hati ya.. Aku mau berangkat.. Sampai jumpa "
"Iya, Sampai jumpa "
Grace berlalu meninggalkan Salia.
Sementara itu, Tama mengintip dari dalam apartemen nya.
Salia berlalu ke parkiran. Dia tidak menyadari Tama mengikuti nya.
Salia mengemudi. Dia merapatkan jaketnya yang tebal. Karena New York mulai menitikkan salju nya.
Salia melihat spion. Dia terkejut menyadari ada sport hitam yang mengikuti nya. Dia menautkan alisnya.
Antara takut dan kesal. Dia kembali memperhatikan jalan Raya.
Tama tersenyum melihat mobil Salia berhenti di depan kedai kopi.
Tama melihat Salia keluar dari mobil nya memasuki kedai kopi itu.
Tama memakai jas kotak-kotak nya, syal dan kacamata hitam. Dia keluar dari mobil memasuki kedai. Pandangan nya di edarkan ke seluruh penjuru kedai.
__ADS_1
Dia tidak menemukan Salia. Tama berjalan gontai sambil manik abu-abu nya bergerak mencari Salia.
Dia menemukan nya! Salia sedang berbicara dengan pelayan wanita. Salia sesekali tersenyum. Dia pun berlalu ke ruang VVIP.
"Ruangan VVIP? Apa tidak salah? Dia tidak pernah memakai fasilitas istimewa.. Tapi kali ini dia minum kopi saja harus di VVIP? " batin Tama merasa heran.
Tama melangkahkan kakinya menuju ruangan tersebut. Di dalam kosong. Tidak ada Salia ataupun orang lain.
Tama pun masuk. Tiba-tiba, sebuah pistol tertodong ke kepalanya.
Ternyata Salia bersembunyi di balik pintu. Dia menodongkan pistol ke bagian belakang kepala Tama.
Tama cukup terkejut. Dia menaikkan masker nya.
"Jangan bergerak! "
Tama menurut. Salia berjalan maju ke depan Tama tanpa menurunkan pistol nya.
Salia menatap Tama dengan tajam. Dia tidak bisa melihat dengan jelas wajah Tama. Karena Tama memakai masker.
"Siapa kau? Kenapa kau mengintai ku? "
Tama tersenyum di balik maskernya.
"Tindakan cukup bagus untuk ukuran seorang dokter pembantu polisi "
Deg
"Dengar, aku tidak punya masalah dengan siapa pun, termasuk dirimu.. Jadi.. Lebih baik kau jangan ganggu aku.. Atau aku akan melaporkan mu pada polisi " ancam Salia.
"Laporkan saja, tidak ada bukti kan? "
Deg
Benar juga...
Salia bingung harus bagaimana menghadapi orang asing yang mengaku mengintai nya itu.
"Berhenti mengganggu ku, atau aku akan menembak mu! " ancam Salia.
"Tembak saja" kata Tama sambil maju. Salia terpundur.
Mana mungkin dia menembak orang. Yang ada dia yang bisa masuk penjara.
"Tembak" tantang Tama sambil terus mendekat. Salia mundur.
"Jangan mendekat!! "
"Aku tahu kau tidak bisa menembak ku, tugas mu mengobati luka bukan membuat luka"
Salia menggeleng. "Aku bisa sangat liar dan mencakarmu lalu mematahkan lehermu! Dan menghabisi mu!! " teriak Salia panik.
Tama tersenyum di balik maser nya. "Liar? Coba kita lihat seliar apa diri mu, cantik "
__ADS_1
Tama semakin dekat. Salia terpojok ke dinding. Dia menendang dada Tama. Dengan gesit Tama menghindarinya.
Salia menyerang Tama. Tama menangkap tangan Salia yang membawa pistol. Dia berhasil menyingkirkan pistol itu dari tangan Salia.
Tama mendorong Salia cukup keras ke sofa yang berada disana. Tama menindihnya. Salia berontak. Namun apa daya tubuh Tama begitu besar dan berat menimpa nya.
"Hhh.. Tolooong!!! "
Tama membekap mulut Salia. "Jangan berteriak, pistol mu ada padaku.. Bagaimana jika aku benar-benar menembak kepala cantik mu? "
Seketika Salia bungkam. Dia menatap tajam manik abu-abu milik Tama. Sungguh mata yang Indah meski terkesan tajam.
"Bagus, aku lebih suka melihat mu diam" kata Tama. Tama pun melepaskan bekapannya.
"Apa salah ku sehingga kau mau mengintai ku? " geram Salia.
"Kesalahan mu karena kau anak nya Michael.. Pria gila itu telah menghabisi adikku dan aku akan menghabisi mu karena itu.. Tapi setelah ku pikir-pikir, kau lebih pantas jadi milikku daripada menjadi korban pisau ku"
Deg
"Jika kau punya urusan dengan papa, selesaikan dengan papa! Aku tidak ada sangkut pautnya dengan itu! "
"Lalu, kenapa ayahmu membunuh adikku yang juga tidak ada sangkut pautnya dengan persaingan bisnis kami? "
"Itu urusan kalian! Aku tidak mau tahu!! "
Tama menatap manik hazel terang milik Salia yang begitu menyejukkan dan membuat nya tenggelam.
"Apa kau keberatan? " tanya Tama.
"Iya!! Sangat keberatan! Menyingkir dariku! "
"Tidak akan.. Bukankah nanti kita juga akan seperti ini?"
Deg
"Apa maksudmu!! Sialan!! "
"Jangan berteriak padaku! "
"Kalau begitu menyingkir dariku! "
Tama pun bangkit dari Salia. Dia berlalu sambil membawa pistol milik Salia.
"Aku suka pistol ini, akan ku jadikan kenang-kenangan " kata Tama kemudian pergi.
"Ah! Sialan!! "
♡♥♡♥♡♥♡
By
Ucu Irna Marhamah
__ADS_1