
Tama sama sekali tidak berniat mengubah rencana nya untuk kembali ke Indonesia.
Michael dan Meina berkunjung ke kamar penginapan Tama dan Salia.
"Pa, Ma.. Kita akan kembali ke Indonesia.. Malam ini" kata Tama.
Michael dan Meina melirik Salia yang mengedikkan bahunya, mereka pun saling pandang kemudian menatap Tama.
"Tanpa basa-basi? Kita kembali ke Indonesia? " tanya Meina.
"Iya, Ma" jawab Tama pendek.
"Apa ini tentang perusahaan mu? " tanya Michael.
"Iya, selain itu kan Salia sedang mengandung.. Aku mau kedua anakku lahir di negara kita " jawab Tama.
"Kedua anak? " tanya Meina.
"Iya, Ma.. Aku sedang mengandung anak kembar" kata Salia.
Meina tersenyum kemudian memeluk putrinya itu. "Selamat, sayang "
"Makasih Ma" kata Salia sambil membalas pelukan ibunya.
Tama tersenyum kemudian berlalu mengambil barang-barang nya.
Michael menghampiri menantu ter- cinta nya itu.
"Apa terjadi sesuatu? Sampai-sampai kau mau kembali dengan cepat? " tanya Michael.
Tama menatap Michael. "Iya, musuhku mengincar ku dan bisa jadi mereka mengincar Salia juga.. Aku tidak bisa lama-lama disini.. Aku tidak punya wilayah kekuasaan disini " jawab Tama jujur.
Michael menautkan alisnya. "Siapa yang berani mengusik keluarga anakku, tak kan ku biarkan.. Aku setuju jika kita kembali malam ini juga " kata Michael.
Tama mengangguk. Michael menepuk bahu Tama.
"Ku lihat tanggung jawab mu sebagai ayah memang ada.. Aku percaya kan Salia padamu.. " kata Michael..
Tama tersenyum mendengar ucapan bijak mertua ter- sayang nya itu. Seolah tidak pernah ada cek cok diantara mereka.
"Aku akan berusaha.. Bukankah aku sudah bilang padamu kalau aku begitu mencintai putrimu yang cantik itu? " tanya Tama.
Michael tersenyum. "Kau benar.. Aku ingat.. "
"Mungkin Tuhan memang mengirimkan mu kepada putriku dengan cara yang unik dan kurasa kau bisa membuat putriku melupakan obsesinya terhadap Refaldo" batin Michael.
♡♥♡♥♡♥♡
Hari mulai malam..
Salia melelapkan kepalanya di bahu Tama. Dia tertidur selama jet pribadi itu membawa mereka ke Indonesia.
__ADS_1
Meina tersenyum melihat kemesraan Putri nya dengan Tama. Tama terlihat memainkan ponselnya dengan sebelah tangan melingkar di pinggang Salia.
"Sudah ku bilang Meisa bisa melupakan Refa" kata Michael.
"Iya, tapi dengan cara yang sulit dan menyakitkan.. Lama sekali" kata Meina.
Michael merangkul Meina. "Jangan khawatir, Tama bisa membuat Putri kita melupakan Refa dan dia akan mencintai Tama seperti seharusnya " kata Michael.
Meina melelapkan kepalanya ke dada bidang Michael.
"Semoga saja.. " gumam Meina.
♡♥♡♥♡♥♡
Hari mulai pagi..
Perlahan sepasang mata kecil itu terbuka memperlihatkan manik hazelnya.
Beberapa kali mata itu mengerjap.
Salia mendapati dirinya berada di kamar nya di Indonesia.
Sejak kapan?
"Tama? " Salia memanggil nama suaminya.
Merasa tidak di respon, dia bangkit mencari keberadaan suaminya itu.
"Tama? " Salia tidak menemukan siapa pun. Dia melihat beberapa bodyguard berdiri diluar mansion.
Mereka menjaga ketat mansion Adiwijaya.
"Sayang"
Salia terhenyak kemudian menoleh ternyata Francesca diatas kursi roda nya.
Salia menghampiri nya. "Ibu? "
"Aryatama pergi ke kantor nya pagi-pagi sekali. Dia pasti ingin memeriksa keadaan disana " kata Francesca.
"Aku akan mengajak Ibu berjalan-jalan di sekitar mansion ini" kata Salia sambil mendorong kursi roda Francesca untuk berkeliling di dekat mansion.
"Jangan sekalipun kamu keluar dari mansion ini, keluarga kita sedang mengalami masalah, makanya Tama mengajakmu kembali dengan buru-buru dari Paris" kata Ny. Adiwijaya.
"Iya, aku mengerti " kata Salia yang sebenarnya terkejut dengan ucapan mertuanya itu.
Mereka melewati halaman belakang dimana terdapat banyak dinding kaca yang tebal.
Salia melirik pantulan bayangannya di dinding kaca tebal tersebut. Matanya bergerak dan bibirnya tersenyum. Padahal Salia tidak melakukan itu.
Tak lain dan tak bukan itu adalah Renata, kepribadian ganda nya. Atau kakak kembarnya.
__ADS_1
Renata keluar dari kaca dan berjalan beriringan dengan Salia.
"Kenapa kau baru muncul lagi? Kemana kau selama ini? " batin Salia.
"Seperti yang kau tahu, aku pergi dari tubuhmu dan ya.. Aku sedikit berkeliling" jawab Renata.
Salia memutar kedua bola matanya bosan.
"Kenapa kau bertanya? Kau merindukan ku ya? " goda Renata.
Salia tersenyum geli. "Aku tidak merindukan mu, aku hanya takut terjadi sesuatu padaku.. Hanya kau yang bisa melindungi ku selain ayah dan suamiku" batin Salia.
Renata tersenyum. "Aku tahu kau merindukan ku, tidak akan ada yang bisa membohongiku, Salia.. Sekalipun itu dirimu" goda Renata.
"Baiklah -baiklah aku merindukan mu.. Kakakku yang cantik " batin Salia.
Renata tertawa. "Terimakasih, adikku sayang.. " kata Renata.
Salia tersenyum.
"Sayang? Kenapa kamu diam aja? " tanya Ny. Adiwijaya.
"Ah? Emm.. Hehe.. Maaf bu.. Aku lagi melamun" kata Salia.
"Jangan melamun sayang, Ibu memang gak bisa bercanda seperti Ny. Danuarga" kata Francesca sambil tertawa.
Salia terkekeh. "Mama juga jarang bercanda.. Mama malah sering marah-marah kalo Marcello nakal" kata Salia sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mengingatkan kejahilan adik tampannya itu.
Ny. Adiwijaya tertawa. Renata terlihat melamun. Salia menatap Renata.
"Kenapa kamu malah terlihat sedih? " tanya Salia.
"Aku pernah memeluk ayah, tapi tidak pernah memeluk ibu" jawab Renata.
"Kalo kamu mau, ayo kita ke mansion Mama" kata Salia.
"Benarkah? Apa boleh? " tanya Renata.
"Iya kak, tentu saja"
Renata menatap Salia. "Kau memanggil ku apa? "
"Aku memanggilmu kakak.. Karena kau memang kakakku" jawab Salia.
"Aku menyayangi mu.. Salia" kata Renata sambil memeluk erat Salia.
Salia tersenyum geli.
♡♥♡♥♡♥♡
By
__ADS_1
Ucu Irna Marhamah