La'grimas

La'grimas
29


__ADS_3


Semua orang panik karena Cecillia menyandera hakim.



"Tidak adil bagiku yang tersiksa di rumah sakit jiwa itu sementara kau dan jalang itu bahagia!! Memiliki anak!! Kau tidak mengerti perasaan ku!! " teriak Cecil pada Michael.



"Letakkan senjata itu, Cecil. Jangan sampai kau membahayakan nyawa orang lain" kata Michael.



Refa mencari celah. Namun Cecil menodongkan pistolnya ke setiap arah.



"Aku akan membantai kalian disini.. Dimulai dari kau" kata Cecil sambil menodongkan pistolnya kearah Meina.



Michael bergerak cepat menarik Meina.



Dor!



"Aaa!!!! "



"Tolooong!! "



"Aaaa!!! "



"Selamatkan nyawa kalian!! "



Salia berlari, namun Cecil sudah membidik nya. Tama yang melihat  itu melompat dan menyergap Salia dari belakang.



Mereka berguling ke lantai. Salia yang berada diatas tubuh Tama terkejut. Namun Tama membekap mulut Salia. Mereka tersembunyi di balik meja.



Salia bangkit. Tama juga. Mereka melirik ke samping mereka ternyata ada Michael dan Meina juga disana. Mereka saling medesis untuk tidak mengeluarkan suara sedikit pun.



"Haloo? Kalian bersembunyi? " kata Salia sambil tertawa gila.



Refa bergerak menyelamatkan Hakim. Terjadi rebutan Hakim antara Cecillia dan Refa.



"Lepaskan tua bangka itu, bocah!! " bentak Cecillia.



"Kau yang lepaskan dia! "



Dor!



Refa meringis saat peluru menembus lengannya.



"Sudah ku peringatkan" kata Cecil.



Refa meringkus Cecil dengan sekuat tenaga. Hakim segera berlindung.



"Maaf, anggap saja aku lupa kalau kau wanita " kata Refa kemudian memukul tengkuk Cecil. Cecil pun tak sadarkan diri.



Salia berlari dari persembunyiannya. Dia menghampiri Refa. Tama memutar bola matanya.



"Astaga, Refa! Lenganmu! "



"Tidak apa-apa.. Sidang harus di lanjutkan"



Cecil di bawa ke rumah sakit jiwa oleh kedua perawat tadi.



Sidang di mulai kembali.



"Baiklah, dengan ini.. Ku nyatakan kalau Tn. Michael sama sekali tidak bersalah" kata Hakim sambil mengetukkan Palu nya 3x.



"Izin berbicara, yang mulia" kata Michael.


__ADS_1


"Ya, silakan"



"Saya merasa di rugikan karena pihak penuduh telah mencemarkan nama baik saya sekeluarga.. Saya ingin dia dihukum seberat-beratnya " kata Michael sambil menunjuk Tama.



Tama menautkan alisnya.



"Sesuai dengan peraturan, apabila seseorang telah mencemarkan nama baik orang lain, maka dia akan di denda sebesar Rp 300.000.000 kepada yang di rugikan"



Michael mengepalkan tangannya. "Saya mau dia di penjarakan "



"Sesuai dengan peraturan" kata hakim kemudian mengetukkan Palu nya 3x.



"Tenang saja, Tn. Danuarga, akan ku transfer uang nya ke rekeningmu" kata Tama dengan nada meledek.



Michael menautkan alisnya.



"Sidang selesai, dan sidang resmi di tutup "



Hakim mengetukkan palu nya 3x.



♡♥♡♥♡♥♡



Salia membantu Refa berjalan. "Terimakasih Refa, kau sudah membantu kami "



"Sama-sama, terimakasih juga mau membantu ku berjalan, padahal tanganku yang sakit, bukan kaki ku"



Salia hanya tersenyum.



Tama menghampiri mereka. "Tunggu "



Langkah mereka berdua terhenti kemudian berbalik melihat  Tama.




Alex pun menurut. Dia mengambil alih Refa dari Salia.



Tama menghampiri Salia. Dia berdiri berhadapan dengan Salia.



Tama sangat merindukan Salia. Ingin sekali saat itu juga dia memeluk Salia dengan erat untuk menyalurkan rasa rindu nya.



"Kenapa kau menegurku? " tanya Salia sambil melipat tangannya di depan dada.



Tama tersenyum sinis. "Kukira kau akan mengajukan kasus saat kita di apartemen Grace"



Salia menautkan alisnya. "Kenapa aku harus mengajukannya? Aku yakin itu memang tujuan mu, tapi aku mampu melewati masalahku sendiri meski pun setelah kejadian itu "



Tama menautkan alisnya. Dia tidak mengira Salia akan sekuat ini.



Salia tersenyum manis. "Permisi" dia berlalu, tapi Tama menarik lengan Salia. Salia terhuyung sebentar. Namun dia bisa menjaga keseimbangan.



"Lepaskan " gerutu Salia.



"Tidak akan, dengar.. Aku yakin kau akan menjadi milikku, dan apa ini" Tama mengelap lipstik serta eye liner di kelopak mata Salia.



"Apa-apaan kau! " Salia menepis tangan Tama.



"Dandananmu terlalu menor, kau lebih cantik seperti biasanya.. Kau takut jika nanti tidak akan ada pria yang mau menikahimu karena.. " Tama menggantungkan kalimatnya kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Salia. ".. Kau sudah tidak perawan" bisik Tama.



Salia mendorong dada Tama. Kedua matanya sudah berlinangan air mata.



"Ehm"


__ADS_1


Meina menghampiri mereka.



Salia mengalihkan pandangannya menyembunyikan bendungan air mata nya.



Tama tersenyum santun pada Meina. "Selamat siang Ny. Danuarga"



"Siang.. Apa yang kau lakukan pada putriku? " tanya Meina menyelidik.



"Kami hanya sedikit berbincang "



"Ma, aku harus menolong Refa, duluan ya" kata Salia kemudian berlalu. Namun langkahnya terhenti. Dia menoleh pada Tama.



"Ngomong-ngomong, tulip yang Indah.. Aku suka.. Tapi hanya pada tulip nya " kata Salia kemudian melanjutkan langkahnya.



Meina tersenyum geli.



"Ny. Kenapa ucapan putrimu itu begitu pedas? " gerutu Tama.



"Jika saja kau tidak melakukan kesalahan itu, mungkin dia akan menerimamu apa adanya" kata Meina.



"Maafkan aku"



"Apa kau sudah minta maaf padanya? " tanya Meina.



"Yang ada di malah menyudutkan ku lagi"



Meina tersenyum. "Tidak apa-apa, aku yakin dia akan luluh.. Bunga-bunga yang kau kirim juga mendapat sambutan baik darinya, Tama"



"Benarkah? "



"Iya, aku akan membantumu"



"Terimakasih, tapi kenapa Ny. Mau membantuku? " tanya Tama.



"Karena aku yakin cinta mu pada Meisa sama dengan cinta Michael pada ku atau mungkin cinta mu lebih besar" jawab Meina.



Tama tersenyum. "Terimakasih, Ny. Danuarga "



"Tidak secepat itu " kata Michael yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.



Tama menautkan alisnya. Michael menarik kerah baju Tama.



"Mike, jangan di depan umum" kata Meina.



"Jika dalam satu bulan ini kau tidak bisa mendapatkan hati putriku, pergi jauh dari hidupnya" ancam Michael.



"Mike" Meina menarik lengan Michael.



"Jangan membela pria itu, Meina. Aku yakin masih banyak pria yang lebih baik yang mau menerima Meisa" kata Michael kemudian berlalu sambil menarik pinggang Meina posesif.



Tama tersenyum. "Setidaknya ada calon ibu mertua yang mendukungku.. Jika tanpa bantuan nya, aku tidak akan bisa mengirimkan bunga dan tidak akan bisa melihat Salia dari jarak dekat "



♡♥♡♥♡♥♡







By



Ucu Irna Marhamah

__ADS_1


__ADS_2