La'grimas

La'grimas
37


__ADS_3


Salia memasak untuk makan siang. Tama juga membantu nya. Mereka terlihat sangat kompak.



"Aku mau bawa dulu bahan masakan yang kemarin kita beli" kata Salia kemudian berlalu.



"Biar aku saja, kamu aduk aja sup nya" kata Tama.



Salia mengangguk dan kembali mengaduk sup nya. Tama berlalu.



Tiba-tiba Salia mendengar suara geraman itu lagi. Salia melihat ke sekeliling. Bulu kuduknya merinding lagi.



Tiba-tiba sesosok wanita muncul di luar jendela di depan Salia menyeringai menakutkan pada nya.



Tama mengambil 2 tas belanjaan di sofa yang lupa tidak Salia masukkan ke lemari es.



Tiba-tiba..



Duagsssssssgghhh



Terdengar ledakkan dari dapur di susul teriakan keras Salia.



Tama terbelalak melihat asap yang mengepul dari pintu dapur.



"Salia!!!!! "



Tama segera berlari ke dapur. Dia takut terjadi sesuatu dengan Salia.



Tama melihat banyak api dan asap yang mengepul. Dia mencari Salia ke setiap sudut ruangan.



"Salia? Salia kamu dimana? Sayang? "



Terdengar batuk-batuk yang samar. Tama melihat ke arah meja.



"Salia? " Tama berjongkok untuk menongolkan kepala nya ke kolong meja mematikan Salia nya berada disana.



Ternyata benar, Salia bersembunyi di bawah meja. Tama membantu Salia untuk keluar dari kolong meja tersebut.



Tama membawa Salia ke ruang tengah. Dia mengusap keringat yang membasahi dahi istrinya itu.



"Kenapa kompornya bisa meledak? " tanya Tama.



"Aku melihatnya.. Aku melihat wanita itu.. Dia melemparkan sesuatu ke kompor dan aku segera bersembunyi ke bawah meja dan terjadi lah ledakan besar. Aku benar-benar takut.. Wanita itu menakutkan dia tersenyum menyeringai kepadaku.. Dia memiliki mata yang Indah.. Biru terang berambut coklat.. "



Tama tercengang. Dia membelai lembut kepala Salia. "Tenangkan dirimu.. Kita akan pindah ke hotel.. Ku pikir honeymoon kita akan berjalan mulus"



"Apa kau punya mansion di Perancis? Ku rasa di mansion lebih aman" kata Salia.



"Aku punya.. Tapi ada banyak pelayan dan penjaga.. Bukankah kita kemari untuk berbulan madu? Tidak boleh ada yang menganggu kita" kata Tama.



Salia berdiri dan menatap Tama dengan tajam. "Tidak boleh ada yang mengganggu? Lalu wanita itu? Aku merasa terganggu, Aryatama.. Aku benar-benar muak tinggal disini! Aku menyesal menuruti mu!! " pekik Salia sambil menutup kedua telinganya karena shock atas kejadian yang barusan terjadi di dapur.



Tama menautkan alisnya. Dia tahu saat ini Salia sedang kesal, takut dan mungkin kepribadian gandanya yang satu lagi mulai mucul. Tama akan berusaha sabar.


__ADS_1


"Lalu kau mau apa? " tanya Tama dingin.



"Pulang ke Indonesia.. Lagian untuk apa kita disini? Berbulan madu? Kau sudah melakukan nya dan bukankah saat ini aku sedang mengandung anakmu! " teriak Salia.



Tama mengepalkan tangannya geram. Namun mau apa? Dia memukul istri tercinta nya? Hanya karena istrinya itu bipolar?



"Baiklah, kita akan pulang ke Indonesia besok " kata Tama kemudian berbalik meninggalkan Salia.



"Aku mau sekarang! " kata Salia penuh penekanan.



Langkah Tama terhenti. Dia berbalik dan menatap Salia dengan tajam.



"Berhenti memperlihatkan kepribadian mu yang buruk padaku!! Aku tidak bisa mengendalikan amarahku jika sampai kau menentangku, Danuarga! " geram Tama.



Deg



Salia terhenyak. Baru kali ini Tama membentaknya seperti itu.



Tama berlalu meninggalkan Salia. Salia menghela nafas berat.



"Kenapa aku memiliki kepribadian ganda? Apa ini karena.. Aku anak kembar? Jangan -jangan nyawa kakak kembarku bersemayam didalam diriku.. " gumam Salia.



♡♥♡♥♡♥♡



Tama kembali dari kantor sore hari nya. Dia melihat Salia menyediakan banyak makanan untuk menyambut kedatangan Tama.



"Selamat sore, Tama.. Kamu udah makan siang? " tanya Salia dengan lembut meski ekspresi wajahnya tidak selembut perkataan nya.




Tama duduk di salah satu kursi. Dia meminum air putih yang tersedia dimeja. Salia ikut duduk di samping Tama.



"Lihat, aku membuat opor ayam.. Kamu suka kan? " tanya Salia.



Tama tersenyum. "Darimana kau tahu makanan kesukaan ku itu opor ayam? "



"Kamu pikir cuma kamu yang bisa mata-matain aku? " gerutu Salia sambil memperlihatkan ekspresi menggemaskan.



Tama tersenyum kemudian dia membelai lembut rambut Salia.



"Pasti ibuku yang memberitahu mu, iya kan? " tanya Tama.



Salia tersenyum dengan kedua pipi merona karena ketahuan.



"Tadi Ibu nelepon, nanyain keadaan kita.. Lalu aku nanyain makanan kesukaan kamu biar kamu betah makan di rumah, ya meski masakan aku gak seenak masakan kamu" jawab Salia.



Tama tersenyum. "Masakan kamu enak kok, sayang "



Mereka pun memakan makanan mereka.



"Maafin aku" kata Salia pelan. Tama menatap Salia.



"Kenapa? " tanya Tama.


__ADS_1


"Tadi aku marah-marah gak jelas sama kamu.. Aku masih mau kok honeymoon di sini.. Cuma aku takut aja kalo aku sendiri.. Aku mau kita pindah aja ke hotel" kata Salia.



Tama membelai lembut rambut Salia. "Gapapa.. Aku ngerti.. Malam ini juga kita akan pindah ya sayang "



"Makasih" Salia memeluk Tama dengan eratnya. Tama terkejut dengan pelukan Salia yang refleks.



Tama pun membalas pelukan Salia.



"Maafin aku juga, aku udah bentak kamu tadi.. Aku bukanlah orang yang bisa mengendalikan amarahku dengan baik.. Aku cukup temperamen.. Jadi ku mohon.. Jangan buat aku marah " kata Tama.



"Iya"



♡♥♡♥♡♥♡



Salia memasuki mobil bersama Tama. Mobil yang mereka tumpangi pun melaju meninggalkan gedung apartemen.



Tanpa mereka sadari, sosok wanita tadi berdiri di balkon kamar mereka menatap kepergian pengantin baru itu.



Selama di perjalanan, mereka saling terdiam. Salia juga terlihat berpikir keras. Dia bukanlah pemikir seperti ilmuan. Dia seorang dokter yang memerlukan teori untuk melakukan sesuatu.



Tak terasa, mobil yang mereka tumpangi pun sudah sampai di sebuah hotel mewah.



Tama menyuruh pegawai hotel untuk membawa barang-barang bawaan mereka.



Mereka berdua memasuki lift, sementara pegawai menggunakan lift khusus pegawai.



Selama di dalam lift, pikiran mereka berdua bercampur aduk.



"Salia"



Salia menoleh dan menatap Tama yang juga tengah menatap intens dirinya.



"Kau pernah bilang kalau kau akan melakukan tugas mu sebagai istri kan? Dan ya, ku akui kai sungguh istri yang berbakti meskipun kau sering berubah-ubah kepribadian.. "



Salia mengerutkan dahinya. Tidak mengerti kemana arah pembicaraan Tama.



"Lalu? " tanya Salia.



"Kau tahu kan tujuan kita kemari untuk berbulan madu? "



Salia mulai mengerti kemana arah pembicaraan Tama.



"Layani aku, kita telah melewatkan malam pertama kita, bukan? "






♡♥♡♥♡♥♡






By

__ADS_1



Ucu Irna Marhamah


__ADS_2