La'grimas

La'grimas
58


__ADS_3



Setelah Yoona menceritakan semuanya, Salia benar-benar di buat bingung dengan cerita yang tidak logis itu.



Salia setengah percaya setengah tidak percaya. Karena selama ini dia hidup di dunia nyata yang segalanya bisa terlihat, tersentuh dan bisa di mengerti.



Druckless..



Naga..



Dunia lain..



Rasanya perut Salia bergejolak. Salia menyentuh perutnya.



"Oh ya, berapa usia kandungan mu? " tanya Yoona.



"Sekarang menginjak 6 bulan" kata Salia.



"Semoga kau sehat selalu "



"Terimakasih "



Yoona mengangguk.



Salia melirik Renata yang berdiri di belakang Yoona.



"Seperti nya dia berkata jujur. Kurasa dia juga bukan orang jahat.. Maaf aku salah sangka" kata Renata sambil tertawa renyah.



Salia menghela napas dalam-dalam.



"Ayo kita makan siang.. Ada tempat makan di sini" kata Yoona.



"Apa? Tempat makan? Di rumah sakit ini? " tanya Salia.



"Iya, Ryuuga sengaja membangun tempat makan khusus di rumah sakit ini.. Siapa pun boleh makan disana, dokter, perawat, bahkan pasien" jawab Yoona.



"Ayo" kata Yoona. Salia mengangguk.



♡♥♡♥♡♥♡



Salia dan Yoona pesan makanan. Mereka pun berbincang-bincang menghilang ka kebosanan menunggu pesanan mereka datang.



"Ini pesanannya, selamat menikmati" kata pelayan dengan bahasa Jepang sambil menyajikan makanan ke atas meja.



"Arigatou gozaimasu " kata Yoona.



Pelayan itu membungkukkan badannya kemudian berlalu.



"Wah.. Ini seperti makanan restoran ya" kata Salia.



"Iya, ayo dimakan" kata Yoona.



Salia mengangguk mereka pun memakan makanan pesanan mereka.



"Yoona? Kau tidak menghubungiku" kata seseorang.



Yoona dan Salia menoleh. Ternyata seorang pria tampan berdiri di sana dengan tatapan elang itu.



"Oh, maaf sayang, ku pikir kau masih bersama dokter Shikaku" kata Yoona.



"Aku sudah selesai, ku pikir kita akan kembali" kata pria tampan itu.



"Ah jangan terburu-buru, Gerald. Duduklah dan kenalkan dia rekan ku, Meisalia Adiwijaya" kata Yoona.


__ADS_1


Pria bernama Gerald menoleh kearah Salia. Dia pun mengulurkan tangannya. Salia menerima uluran tangan Gerald.



Salia terkejut merasakan dingin nya tangan Gerald. Salia berpikir kalau tangan yang dingin dan pucat itu milik mayat.



"Geraldo " kata Gerald.



"Salia, senang bertemu dengan mu" kata Salia kemudian menarik kembali tangan nya. Gerald mengangguk menanggapi ucapan Salia.



Yoona yang bisa membaca pikiran Salia hanya tersenyum. Gerald pun duduk di samping Yoona.



"Sayang, kau membuat rekan ku ketakutan, gunakan aura manusia mu" bisik Yoona.



"Biarkan saja" jawab Gerald.



"Gerald adalah calon suami ku, sebentar lagi kami akan menikah, kami harap Salia-san dan Tama-san hadir ke acara sederhana kami" kata Yoona.



"Ah? Emm.. Iya.. Iya tentu.. Kapan pernikahan nya? " tanya Salia.



"3 bulan lagi.. Kami akan mengirimkan undangan pada kalian.. Dimana rumah kalian? " tanya Yoona.



"Akan ku kirim alamat nya nanti ya" kata Salia sambil tersenyum hangat.



"Sayang " Tiba-tiba Tama menghampiri mereka.



"Wah Ryuuga benar-benar perhatian pada rumah sakit nya ya.. Ada restoran segala" kata Tama pada Salia.



"Eh.. Sayang.. Kenalkan ini rekan baru ku, Yoona dan itu Gerald calon suaminya " kata Salia.



"Oh hai" Tama menyalami Gerald dan Yoona bergantian.



"Tn. Adiwijaya, silakan duduk dulu dan pesan sesuatu" kata Yoona.



"Emm baiklah, kamu pesen apa sayang? " tanya Tama pada Salia.




"Sayang, kamu juga belum pesan sesuatu " kata Yoona pada Gerald.



Tama dan Gerald memanggil pelayan berbarengan. Membuat Yoona dan Salia tertawa geli.



Mereka pun memakan makanan mereka.



Selesai makan, mereka berbincang-bincang ringan. Tama merasa aneh pada kedua orang di depan nya.



"Mereka tidak seperti manusia.. Pria itu tatapan nya tajam seperti ular dan yang wanita terlihat aneh.. Dia seperti membaca pikiran ku.. " batin Tama.



Yoona melirik Tama. Tama mengalihkan pandangannya kearah Salia yang tertawa menanggapi Yoona.



"Dia menyadari kemampuan ku, apa dia mempercayai dunia lain? " batin Yoona yang masih menatap Tama.



"Salia"



Salia melihat Renata berdiri di belakang Gerald.



"Wanita druckless ini membaca pikiran kalian.. Ku rasa lebih baik kalian pergi" kata Renata.



Tiba-tiba, Gerald bergerak dan memukul udara di belakangnya sampai-sampai kursinya jatuh. Ternyata Gerald memukul Renata sampai terjungkal.



"Aaarrgghhh! " ringis Renata.



Salia terkejut dan berdiri. "Ah? Renata! " teriak Salia.



Gerald menatap Salia. Tatapan semua orang tertuju pada mereka.



"Kau melihatnya? " tanya Gerald.

__ADS_1



Salia menautkan alisnya. "Dia.. Saudariku.. Kenapa kau menyakiti nya? " geram Salia.



Tama yang tidak mengerti dengan apa yang di bicara kan mereka berdua terlihat bingung.



Sementara Yoona yang tidak bisa melihat Renata juga tampak bingung.



Renata bangkit dan tiba-tiba menyerang Gerald dengan sangat cepat.



Gerald terpelanting ke dinding hingga dinding nya retak.



Yoona tercengang.



Tama terperanjat.



Salia terbelalak.



Author tertawa jahat.. (Plak)



"Gerald " gumam Yoona.



Semua orang berlarian keluar.



Renata mencekik Gerald. "Jangan pikir aku kalah darimu hanya karena kau siluman naga.. " geram Renata.



Gerald berubah jadi naga. Tama dan Salia yang melihat itu terbelalak.



"Astaga" Salia terkulai di pelukan Tama.



"Ma.. Makhluk apa itu " gumam Tama dengan bahasa Indonesia.



Gerald yang berubah jadi naga ungu itu melilit tubuh Renata. Renata berusaha melepaskan diri.



"Jangan sakiti Renata!!! Hentikan dia Yoona!! " teriak Salia.



"Tapi aku tidak bisa melihat Renata" gumam Yoona. Namun Yoona melompat dan berubah jadi naga merah dan dengan wujud naga, Yoona bisa melihat Renata.



"Gerald hentikan! " Yoona menarik ekor Gerald. Renata pun terlepas dan terjatuh ke lantai.



Salia berlari ingin membantu Renata,tapi Tama menarik tangan Salia.



"Kita pergi" kata Tama.



"Tapi Renata"



"Lihat mereka siluman! " bentak Tama yang terlihat begitu cemas.



Tama menarik Salia dan menggendong nya ala bridal. Tama berlari sambil menggendong Salia.



"Tama! Kita harus menolong Renata dari amukan Gerald ku mohon! " teriak Salia.



"Bukankah kepribadian ganda mu itu hantu! Biarkan saja! Aku mau kau selamat! " bentak Tama kesal.



Salia tebelalak. Dia tidak mengira Tama mengetahui itu. Salia mengeratkan pelukannya.



Tama membuka pintu mobil dan memasukkan Salia kemudian dia pun duduk di kursi kemudi dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumah sakit Immamura.



♡♥♡♥♡♥♡







By

__ADS_1



Ucu Irna Marhamah


__ADS_2