La'grimas

La'grimas
6


__ADS_3



Salia melamun di ruangan dokter Risa. Dia sedih mengingat Refa bersama gadis itu. Apa dia memang pacar Refa atau bukan. Dia benar-benar sakit hati.



Padahal dia mencintai Refa setulus hati sejak kecil. Namun ternyata Refa bersama gadis tadi di belakangnya.



"Salia"



Dr. Risa memasuki ruangan nya.



"Ah? Iya, dok? "



"Saya ada rapat kedokteran bersama komunitas pencegahan kanker. Selama saya tidak ada, kamu yang bertanggung jawab ya"



"Emm.. Iya, baiklah, semoga lancar dok" kata Salia.



"Terimakasih, sampai jumpa " wanita paruh baya itu pergi meninggalkan Salia di ruangan nya.



"Refa.. Kau jahat.. Tapi.. Aku juga tidak bisa memaksakan perasaan Refa.. Hmm.. Aku akan mengalah.. "



Megan mengetuk pintu ruangan dokter Risa. Salia menoleh ke arah pintu.



"Masuk"



"Ah, sudah ku duga kamu berada disini, oh ya tumben kamu nggak menengok pasien-pasien mu? " tanya Megan seraya duduk di sofa berdampingan dengan Salia.



"Hmm.. Aku sedang merasa kurang baik hari ini"



"Masalah apa, ceritakan saja"



"Kurasa tidak perlu.. Baiklah.. Aku akan pergi mengecek keadaan para pasien" kata Salia kemudian berlalu meninggalkan Megan.



"Ada apa dengan nya? Apa terjadi sesuatu? "



♡♥♡♥♡♥♡



Meisa berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Tiba-tiba, beberapa suster mendorong brangkar. Terlihat seseorang berjas diatas brangkar itu meringis kesakitan. Belum lagi darah mengalir di sepanjang lantai yang di lewati brangkar.



"Hhh.. Kasian orang itu " Salia segera menyusul brangkar itu.



Dia ikut masuk ke UGD.



"Tidak ada dokter Michael yang bisa mengoperasi pasien ini " kata dokter Dila.



"Iya, biasanya dialah yang mampu mengoperasi tanpa kesalahan sedikitpun" kata dokter Sinta.



"Papa? " gumam Salia.



Dokter Dila dan dokter Sinta menoleh. "Ah? Suster Salia, kau kan putrinya dokter Michael? Kemarilah, kurasa kau bisa mengatasinya karena aku dokter gigi dan dokter Dila seorang dokter mata, kami tidak ahli di bidang ini " kata dokter Sinta.



"Apa? Aku? Tapi kan aku magang. Bukankah perawat yang magang di larang melakukan operasi" gerutu Salia.



"Tapi, jika kau berhasil dalam operasi ini, rumah sakit ini akan serta merta mengangkatmu menjadi dokter tetap" kata dokter Dila.



"Apa seinstan itu? " batin Salia.



"Aku tidak yakin" kata Salia.

__ADS_1



"Tapi kami yakin karena kau putrinya dokter Michael " kata dokter Dila.



"Tentu dia ahli nya.. Dia kan psikopat " batin Salia.



"Emm baiklah "



Salia melihat pria muda yang terbaring di atas ranjang rumah sakit itu meringis namun tubuh nya nyaris tak bergerak sama sekali.



Salia menelan air liurnya sendiri.



"Kenapa dia di penuhi darah seperti ini? " tanya Salia.



"Dia korban penembakan, banyak sekali peluru yang bersarang di tubuh nya" jawab salah satu perawat.



Salia menelan salia nya. "Baiklah.. Kita mulai operasi nya "



♡♥♡♥♡♥♡



Perlahan mata pria itu terbuka. Dia melihat ke sekeliling. Terlihat seorang suster cantik sedang membereskan meja di samping ranjang rawat nya.



Pria itu merasakan sakit di sekujur tubuh nya. Mungkin efek operasi dan luka yang di timbulkan oleh peluru musuh nya.



"Suster" panggil nya pelan.



Salia menoleh dan segera menghampiri pria tampan itu.



"Ah? Iya? Ada apa, Tn? "



"Berapa peluru yang bersarang di tubuhku? "




Deg



Bahkan pria itu merasa sakit saat jantung nya berdetak.



"Satu inci saja peluru itu lebih menembusmu, maka.. Maaf" kata Salia.



"Tidak masalah.. Dunia bisnis memang di penuhi darah" gumam pria itu.



Deg



Salia menatap kedua manik abu-abu pria itu.



"Apa? "



"Tidak ada.. Lupakan"



Salia tampak berpikir. Pria tampan melirik tidak suka pada Salia.



"Kenapa kau masih disini? " gerutu nya.



"Ah? Maaf.. Ku pikir kau butuh sesuatu "



Salia pun berlalu meninggalkan pria tampan itu.



"Ah sialan, 17 peluru? Aku harus membalas pria tua itu " geram pria itu.

__ADS_1



♡♥♡♥♡♥♡



Salia berjalan gontai menuju ruang para perawat berkumpul.



"Hei, Salia, kau hebat bisa mengoperasi pasien itu " kata rekan nya.



"Ah terimakasih.. Itu juga berkat bantuan kalian semua " kata Salia merendah.



"Ah, jangan merendahkan diri seperti itu. Kau memang berbakat seperti Tn. Michael "



"Terimakasih "



"Dokter Wira ingin menemui mu, Salia" kata Megan.



"Ku kira dokter Wira ikut rapat"



"Tidak, ayo kita temui" kata Megan.



Salia mengangguk. "Baiklah.. Ayo temani aku"



Mereka memasuki ruang dr. Wira.



"Permisi"



Dr. Wira menoleh. "Hai, Salia.. Megan.. Ayo masuk"



Mereka masuk dan duduk berhadapan dengan dr. Wira.



"Oh aku terpukau dengan praktek operasi mu, Salia.. Sudah ku duga kau berbakat seperti ayahmu.. Ku harap kau akan bekerja tetap disini dan menjadi dokter.. Di rumah sakit mu sendiri " kata Dr. Wira di akhiri dengan bisikan.



"Milik Tn. John Danuarga " kata Salia membenarkan.



"Ah kau selalu mengalihkan pembicaraan dengan baik.. Baiklah mulai sekarang kau akan menjadi dokter magang disini ya meskipun kau belum memiliki gelar kedokteran "



"Terimakasih.. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik, dok"



"Iya, silakan kalian bisa kembali bertugas" kata Wira.



"Baiklah.. Permisi.. "



Mereka berdua pun berlalu.



"Wah, hebat sekali kau Salia.. Aku bangga padamu" kata Megan.



"Terimakasih, Megan"



"Uhhh.. Aku ingin juga seperti mu.. Mulai sekarang aku akan berusaha keras seperti ibuku"



"Iya, aku yakin tante Mykha akan selalu mendukung mu" kata Salia.



Ya, Megan adalah anak nya Mykha.. Kalian penasaran siapa ayahnya?



♡♥♡♥♡♥♡



By


__ADS_1


Ucu Irna Marhamah


__ADS_2