
Salia duduk melamun di tepi ranjang. Seharian penuh ini dia mengurung diri di dalam kamarnya. Sementara orang-orang rumah sibuk membuat dekorasi untuk pernikahannya 3 hari lagi.
Salia masih ragu. Apa Tama benar-benar serius mau bertanggung jawab? Bagaimana jika Tama malah menjadikan Salia sebagai boneka seks nya. Itu menakutkan.
Salia tidak percaya begitu saja pada Tama yang berulang kali menyatakan perasaan cinta nya pada Salia. Bisa saja pria itu hanya ingin memiliki Salia sesaat lalu membuangnya.
Pintu kamar di ketuk. "Siapa? "
"Ini aku, Refa"
Salia terlihat sedih. "Pergilah, aku sedang mau sendiri "
"Bukan aku yang ingin menemuimu" kata Refa dengan ekspresi sedih sambil menatap pintu kamar Salia.
Tama berdiri sambil berpangku tangan di belakang nya. Refa melirik Tama. Tama menggerakkan kepalanya memberi kode agar Refa berusaha.
"Siapa? " tanya Salia.
Refa melirik Tama. "Calon suamimu" jawab Refa.
Salia menautkan alisnya. "Pergilah kalian" kata Salia.
Refa membuka pintu kamar Salia. Salia menoleh. Refa tersenyum getir melihat keadaan Salia.
"Boleh aku masuk? "
"Tidak, pergi"
Tama yang bersembunyi di dekat ambang pintu kamar Salia melirik punggung Refa. Terlihat Refa tak bergeming sedikitpun.
Salia kembali berbalik membelakangi Refa. "Aku tidak butuh apapun atau siapapun.. Jadi ku mohon pergi"
Pintu kamar terdengar di tutup pelan. Kedua tangan Salia meremas kuat ujung roknya. Dia sangat kesal dan perasaannya campur aduk mungkin karena efek hamil muda.
Terdengar pintu di buka lagi.
"Pergi, Refa!! " teriak Salia.
"Ehmm"
Suara berat itu?
Salia berbalik ternyata Tama. Salia menautkan alisnya. Dia ingin bangkit dan membentak Tama. Tapi dia merasa lelah untuk melakukan itu karena ujung-ujungnya pasti Tama yang keras kepala itu akan tetap kukuh berada disana.
Salia berbalik membelakangi Tama. Pintu kamar Salia ditutup oleh Tama. Dia bergerak menghampiri Salia.
__ADS_1
Tama duduk di samping Salia. Salia bisa mencium aroma maskulin yang khas dari tubuh Tama.
Tidak ada yang berniat membuka suara. Mereka saling terdiam sehingga suasana menjadi sunyi.
Salia menatap aquarium kecil di meja dekat jendela kamarnya. Sedari tadi, itulah yang dia lihat.
Kedua ikan hias di dalamnya tampak bergerak-gerak bermain didalam air.
"Pisces" kata Tama tiba-tiba.
Salia menautkan alisnya tanpa mau menoleh sedikitpun atau sekedar menanggapi ucapan kecil Tama.
"Pisces adalah zodiak ku.. Aku tipikal pria yang romantis, tapi entah kenapa gadis seperti mu tidak bisa melihat keromantisan ku"
Salia tetap diam. Dia menghela napas dalam-dalam membuang segala kekesalan nya.
"Kau tahu? Sebentar lagi kita akan menikah, ku harap kau bisa menerima ku sebagai suami mu, dan lakukan tugasmu sebagai seorang istri, aku tidak mau mendengar alasan apapun dari mu" kata Tama sambil menatap lekat wajah Salia.
"Sepertinya tidak ada gunanya aku disini.. Senang berbicara padamu" kata Tama kemudian bangkit dan berlalu.
"Egois! "
Tama yang baru menyentuh knop pintu mengerutkan dahinya mendengar geraman Salia. Dia menoleh menatap punggung Salia.
Tama mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar calon istri nya. Dia menghampiri Salia dan menatap kedua manik hazel terang milik Salia.
Tersirat luka yang mendalam di balik itu semua. Tama tahu dia memang egois. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Tapi itulah cinta menurut nya yang membutakan hati dan akal pikiran nya.
"Aku lelah dengan semua ini, kau tiba-tiba datang, mengambil semuanya.. Awalnya Hatiku.. Hak ku lalu.. Harga diri ku.. Dan sekarang statusku! " Salia mendorong dada Tama.
"Dan karena itu aku mau bertanggung jawab atas kesalahan ku"
"Dan aku tidak butuh itu! Aku hanya ingin kau pergi dari hidupku!!! "
"Tidak akan! Kau milikku! Hanya milikku! " bentak Tama kesal sambil mengguncangkan tubuh Salia.
Pandangan Tama tertuju pada testpack yang tersimpan diatas nakas. Tama terbelalak. Dia melepaskan cengkramannya kemudian mengambil testpack tersebut.
Salia terkejut dan merasa ceroboh karena menyimpan benda itu disana.
Tama melihat 2 gurat merah di benda tersebut. Salia segera merebutnya.
"Jangan sentuh barangku! Pergi! "
__ADS_1
Tama menatap tidak percaya pada Salia. "Kau tidak bilang padaku? "
Salia membuang muka kearah lain. Tiba-tiba Tama memeluk nya dengan erat. Salia terhenyak.
"Aku bahagia "
Salia berontak. "Lepaskan aku! "
Tama menatap Salia. "Harusnya kau memberitahu ku"
"Kenapa aku harus memberitahu mu, kau bukan siapa-siapa bagiku"
"Aku ayah dari anakmu"
"Ini anakku sendiri! "
"Anak ku, anak kita"
"Ini anakku saja! "
"Tidak akan ada anak itu tanpa kejadian malam itu, Salia "
Salia terdiam. Dia terlihat sedih apabila mengingat detik-detik malam itu. Malam kehilangannya.
Tama memeluk Salia lagi. Air mata Salia menetes. Dia benci dirinya. Benci kejadian malam itu. Benci semua yang menimpanya.
"Aku mencintai mu" Tama mencium pucuk kepala Salia.
"Lepaskan aku, Tama" Salia mendorong Tama. Tama menatap Salia.
"Aku jadi tidak sabar untuk segera menikah dengan mu, kelak anak kita akan menjadi penerus keluarga Adiwijaya, keluarga terkuat di dunia bisnis"
Salia menautkan alisnya. "Aku tidak akan membiarkan anakku menjadi jajahanmu, cam kan itu.. Ini anakku yang akan ku didik sesuai ajaran keluarga Danuarga, tanpa paksaan dan anak ku akan menemukan jalannya sendiri "
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu.. Apapun maumu" Tama kembali memeluk Salia.
Salia tidak berontak. Tidak juga membalas pelukan Tama.
Refa yang melihat itu merasa cemburu. Dia pun berlalu meninggalkan mereka berdua.
♡♥♡♥♡♥♡
By
__ADS_1
Ucu Irna Marhamah