La'grimas

La'grimas
36


__ADS_3


Salia tengah menonton film negeri yang sering di juluki sebagai negeri romantis itu. Namun menurutnya tidak ada film yang membuatnya tertarik selain film Indonesia.



Wah, sungguh Cinta tanah air ya..



Tiba-tiba, televisi nya mati. Salia terhenyak. Dia melihat ke sekeliling.



Dengan pelan, dia beranjak dari duduknya kemudian berjalan menuju ruang perlistrikan. Dia melihat stop kontak listrik yang berada di off.



Salia menekannya agar menjadi on. Televisi pun kembali menyala.



Salia kembali duduk dan menonton televisi. Tiba-tiba terdengar suara menggeram. Salia terkejut. Dia melihat ke sekeliling.



Tidak ada apapun di sekitar nya.



Salia meningkatkan volume televisi nya untuk menyamarkan suara yang mungkin berasal dari halusinasi nya saja.



Namun makin keras volume televisi, makin jelas pula suara geraman itu.



Bulu kuduk Salia mulai meremang. Dia menelan saliva nya. Dia berpikir apa mungkin hantu masih berkeliaran pagi-pagi begini?



Salia tidak  bodoh dan tidak mau meniru artis-artis film horor yang penasaran mau mencari asal suara geraman itu. Dia memilih diam.



Namun geraman itu semakin terdengar jelas. Salia gemetar ketakutan. Dia berlari ke kamar tanpa terlebih dahulu mematikan televisi.



Salia bersembunyi di bawah selimut. Dia benar-benar ketakutan. Televisi di ruang keluarga tiba-tiba padam. Salia yang mendengar geraman itu ketakutan sekali.



Sekarang bukan hanya geraman. Tapi juga langkah kaki yang terseret-seret menuju ke kamar dimana Salia bersembunyi.



Jantung Salia berdetak begitu cepat nya. Dia bisa berkelahi namun bagaimana jika makhluk diluar sana membawa senjata? Misalnya kuku yang panjang, taring yang runcing, atau membawa belati? 



Terdengar goresan pada pintu kamar. Salia menggeleng. Dia benar-benar tidak kuat lagi. Ingin rasanya dia berteriak sekeras mungkin menyalurkan ketakutan nya yang saat ini sedang melanda dirinya.



"Meisaliaaaa"



Deg



Itu suara serak seorang wanita yang memanggil namanya. Salia menelan salivanya.



"Si.. Siapa?" tanya Salia pelan.



"Meisaliaaa"



Salia menggeleng ketakutan. "Tuhan tolong aku, aku benar-benar takut.. Selamatkan diriku"



"Meisaliaaa.. Datanglah kemari.. "



"Tidak!!! Jangan ganggu aku!!! " teriak Salia ketakutan.



"Meisaliaaa... "

__ADS_1



"Berhenti memanggil nama ku!! Kau siapa? "



"Nama ku.. Adinda.. Aku kemari untuk mengajakmu ikut bersamaku"



Salia tercengang saat mendengar cakaran pada pintu kamar terdengar semakin menjadi-jadi. Salia membelalak. Dia gemetar ketakutan.



Braakkk



Pintu terbuka. Salia sampai kesulitan bernapas. Dia menahan napas sebisa mungkin.



Tangan dingin menyentuh kepala nya yang terbungkus selimut.



"Jangan.. " gumam Salia.



"Salia? "



Deg



Suara itu?



Salia membuka selimutnya dan mendongkak menatap manik abu-abu yang kini menatap nya heran.



Siapa lagi kalau bukan Tama. Tama dengan kemeja putih dan sebuket besar bunga Mawar merah muda dan kuning di tangannya.



"Ta.. Tama"




Tama heran. Namun dia merasa senang saat Salia memeluknya duluan. Tama membalas pelukan Salia dan membelai lembut rambut Salia.



"Aku takut.. Kenapa kamu lama? Kamu janji akan pergi sebentar dan akan kembali.. Dasar alis tebal kamu malah ingkar janji " gerutu Salia dengan air mata bercucuran membasahi kedua pipinya yang mulus.



Tama tersenyum mendengar kekesalan Salia. Tama mencium pucuk kepala Salia. Salia melepaskan pelukannya kemudian menatap Tama.



"Kamu kenapa sampe nangis gini? " tanya Tama sambil mengusap air mata yang terus menerus mengalir di kedua pipi Salia.



"Aku di teror" jawab Salia cepat.



Deg



Tama tercengang. "Apa? Siapa yang berani menerormu? "



"Aku tidak tahu.. Dia hanya menggeram dan dia bilang dia ingin membawa ku pergi... " Salia kembali menangis.



Tama mengepalkan tangannya tanda saat ini dia tengah marah.



"Tidak boleh ada yang membawa mu pergi dari ku" geram Tama.



"Aku ingat, dia.. Dia bilang.. Namanya.. Adinda" kata Salia.


__ADS_1


Deg



Tama tercengang. Salia menatap Tama. "Apa.. Kamu.. Kenal sama dia? "



Tama mengangguk. "Iya, dia mantan pacarku dulu.. Tapi sudah lama kita gak ketemu.



Salia menyentuh tengkuknya karena masih merasa merinding.



Tama tersenyum untuk menghibur Salia agar melupakan    apa yang dialaminya tadi yang pasti membuatnya terguncang.



Tama memberikan buket bunga yang sedari tadi di pegangnya. Salia menerima buket bunga tersebut.



"Aku tahu kamu suka tulip merah.. Cuma disini jarang ada toko bunga yang menjual bunga tulip.. Jadi aku beli bunga Mawar saja.. Gapapa ya"



Salia tersenyum kemudian menghirup aroma dari bunga Mawar pemberian suami nya itu.



"Terimakasih, Tama" kata Salia. Tama tersenyum dan membelai lembut rambut Salia. Salia menundukkan kepalanya menyembunyikan rona pipinya.



Selama ini belum pernah ada pria yang memberikan bunga secara langsung kecuali Refa dan Tama. Salia memang menyukai sesuatu yang romantis.



Bukannya para pria tidak melirik Salia, hanya saja mereka kadang memberikannya dengan tidak langsung. Melihat Michael yang posesif pada putrinya membuat mereka tidak ingin berurusan dengan keluarga Danuarga.



"Maafin aku" kata Tama tiba-tiba.



Salia menatap Tama. "Kenapa? "



"Atas semuanya.. Aku sudah.. Menyakiti mu, tapi kamu.. Kamu dengan baik berusaha bersikap seorang istri untuk ku" jawab Tama kemudian tertunduk.



Salia mengingat kembali masa sulitnya setelah Tama menyakiti nya begitu dalam. Dia juga tertunduk.



"Tapi.. " Salia menjeda ucapan nya.



Tama menatap Salia.



"Bagiku.. Ini bukan salahmu, Tama.. Tapi.. Ini salah tante Cecil.. Kamu mengira kalo Papa yang menyakiti adik kamu yang gak tahu apa-apa.. Jadinya kamu juga membalaskan dendam mu sama aku.. Secara pribadi, aku minta maaf.. Atas kesalahan keluarga Danuarga" kata Salia.



Tama memegang kedua lengan Salia. "Tapi kamu gak salah.. Aku yang salah telah melibatkan kamu.. Tapi aku.. Aku Cinta banget sama kamu setelah 4 tahun belakangan ini menguntit mu"



Salia menunduk.



Tama menangkup wajah Salia dan mengangkatnya agar menatap dirinya.



"Aku berjanji, akan menjadi suami yang bertanggung jawab dan akan membahagiakan mu.. Karena aku sangat mencintai mu" kata Tama kemudian mengarahkan telapak tangan Salia menuju dadanya.



"Aku mencintai mu.. Lagrimas"



♡♥♡♥♡♥♡




By

__ADS_1



Ucu Irna Marhamah


__ADS_2