
Aryatama*
Aku segera keluar dari mobilku. Ku lihat asap membumbung ke angkasa dari salah satu ruangan rumah sakit Danuarga.
Aku mendapatkan telepon dari Refa kalau terjadi sesuatu pada Salia.
Aku segera memasuki rumah sakit Danuarga.
Aku mencari keberadaan Salia. Ku lihat dia berada di ruang tunggu bersama Refa, Megan, Marc, Meina dan Michael.
"Salia" gumam ku akan menghampiri Salia. Namun yang kurasakan adalah pukulan Marc pada pipiku.
Uh sakit sekali.
"Masih berani kau muncul huh! Kakakku hampir mati karena jalangmu, sialan!! " teriak Marc di wajahku.
Dan sekali lagi aku merasakan nyeri pada perutku saat Marc meninju perutku.
"Hentikan, Marc" kata Michael menarik lengan putranya.
"Aku harus memberikan pria bedebah ini pelajaran, Pa!! " geram Marc sambil berusaha menjangkau ku.
"Ku bilang hentikan!! " bentak Michael sambil mendorong Marc menjauh dariku. Michael menarik bagian depan kemeja ku.
"Sekali lagi kau hampir menghilangkan nyawa putriku, cepat bawa dia dari Refa" geram Michael di wajah ku seraya berbisik.
Aku menghampiri Salia. Salia memeluk ku dengan erat. "Aku takut" tangis Salia.
Aku mengangguk kemudian mencium puncak kepala Salia.
"Ada aku.. Ayo pulang" kataku sambil mengangkat tubuhnya.
Aku menatap Refa. "Terimakasih, Refa" kata ku.
Refa mengangguk.
♡♥♡♥♡♥♡
Selama di perjalanan, Salia menangis sesegukan. Aku berusaha menenangkannya. Namun dia makin gemetar.
Aku pun terpaksa membiarkan dia menangis seperti itu.
Sesampainya di mansion, ibuku memberondong ku dengan berbagai pertanyaan. Dan jawaban ku membuatnya marah.
Berkali-kali ibuku memaki diriku. Aku pun hanya pasrah dan mengaku salah.
♡♥♡♥♡♥♡
3 minggu setelah kejadian itu, aku tidak ke kantor selama itu karena aku harus mengawasi Salia dengan diriku sendiri.
Om Adi yang bertugas mengurus perusahaan.
Kini usia kandungan Salia menginjak usia 5 bulan. Aku melihat perut istriku itu sedikit membuncit.
Salia juga tampaknya begitu manja padaku. Aku sangat senang kala dia menerima ku dengan baik.
Terakhir kali aku merasa takut karena si Mela mau menghabisi istriku. Tapi aku bersyukur ternyata Salia baik-baik saja berkat kepribadian ganda nya..
Alias hantu saudari kembarnya. Aku juga yang tidak percaya hantu jadi tahu kalau hantu itu ternyata ada.
Apalagi saat wanita yang bernama Renata itu mencekikku. Aku bukan takut aku hanya terkejut.
"Ini kopinya"
__ADS_1
Lamunanku buyar saat istri tercinta ku memberikan secangkir kopi.
Aku tersenyum kearahnya dan aku menerima kopi itu. Salia duduk di samping ku dan menatapku yang menyesap kopi buatannya.
Aku menoleh kearah nya yang tersenyum manis sambil menatap ku.
Aku bingung dengan tindakannya yang tidak biasa.
Aku menyimpan kopi ku ke meja kemudian menarik tubuh istriku ke pangkuan ku.
"Kamu mau ngomong sesuatu? " tanya ku.
Salia tersenyum malu dengan pipi nya yang merona merah. Aku semakin gemas melihat nya.
Salia menyentuh wajahku. Sepasang hazelnya menatapku membuatku terbuai dengan keindahan matanya itu.
"Kau tampan" kata nya tiba-tiba. Entah kenapa aku merasa malu dengan ucapannya itu. Kenapa dia tiba-tiba begini berkata begitu?
Aku pun tersenyum. "Aku tahu" kataku. Dia tertawa.
Tiba-tiba Salia mencium bibirku. Aku terkejut. Salia melumat bibir ku. Membuatku ON.
Aku pun membalas ciumannya dan mendorong tengkuknya agar ciuman kami semakin dalam.
Aku menyesap bagian bawah bibir Salia. Dan Salia menyesap bagian atas bibir ku.
Salia memeluk tengkukku. Lama kami berciuman. Salia melepaskan ciumannya dengan napas terengah-engah.
Dia menatap ku penuh hasrat. Wah.. Aku suka ekspresi nya yang jarang seperti ini.
"Tama.. Aku mencintaimu "
Aku terbelalak.
Salia..
Mencintai ku..
?
Benarkah?
Apa Refa benar-benar sudah hilang dari hatinya?
Aku menang?
Aku memenangkan hati Salia.
"Sa.. Salia.. " gumam ku.
Salia tersenyum.
"Katakan lagi" kata ku pelan.
"Aku mencintai mu. Aryatama Arbano Adiwijaya " kata Salia memperjelas ucapan nya.
Jantungku berdetak begitu cepatnya seolah aku ini baru selesai berlari maraton.
"Terimakasih " kata ku sambil memeluk erat Salia.
Salia membalas pelukanku. Aku sangat bahagia..
__ADS_1
Sangat sangat bahagia..
"Terimakasih, Salia.. Aku mencintaimu.. Sangat mencintai mu" kata ku.
♡♥♡♥♡♥♡
Aku dan Salia sedang makan malam di mansion. Kami memang sama sekali tidak berniat untuk keluar dari mansion.
Aku selalu merasa cemas apabila Salia dibawa keluar mansion. Aku mengkhawatirkan dia dan anak kami.
Salia juga mengerti keadaan. Aku sangat bersyukur memiliki istri pengertian seperti Salia.
Selesai makan malam, kami pun memutuskan untuk tidur. Aku memeluk perut istriku dari belakang.
Selama masa kehamilan, Salia tidak pernah rewel seperti wanita hamil pada umumnya.
Mungkin karena dia seorang dokter, dia bisa mengatasi nya sendiri.
"Tama" panggilnya.
"Apa sayang? "
"Kamu mau memberikan nama apa untuk kedua anak kita? " tanya Salia.
"Entahlah.. Aku tidak tahu.. Apakah bayi kita perempuan atau laki-laki " jawab ku.
Aku memang penasaran ingin mengetahui jenis kelamin anak kami. Tapi Salia tidak mau cek. Dia bilang biarkan jadi kejutan.
"Aku merasa kalau bayi-bayiku ini.. Laki-laki dan perempuan " kata Salia dengan polosnya.
"Kamu tahu dari mana? " tanya ku.
"Karena aku merasa bayi-bayiku ini akur" jawab Salia.
"Memangnya kau yakin? " tanyaku.
"Iya.. Biasanya anak perempuan dengan anak laki-laki jarang bertengkar " jawab Salia.
"Lalu kamu sama Marc belum pernah bertengkar? " tanya ku.
Sia terkekeh. "Dia kan cerewet seperti permpuan " kata Salia membela diri.
"Kamu sama Renata saja sama perempuan.. Tapi ku dengar kamu gak pernah bertengkar sama dia" kataku.
"Itu karena kak Renata memang kakak yang baik " kata Salia pelan.
"Ya sudah, ayo kita tidur.. Ini sudah malam" kata ku.
Salia mengangguk kemudian berbalik memeluk ku.
"Happy nice dream "
"You too"
♡♥♡♥♡♥♡
By
Ucu Irna Marhamah
__ADS_1