
Lift berbunyi menandakan mereka sudah sampai di lantai yang di tuju. Tama keluar dari dalam lift. Sementara Salia masih berdiri terpaku karena ucapan Tama.
Beberapa detik kemudian, dia pun bergegas menyusul Tama.
"Tama tunggu" kata Salia. Tama menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap Salia.
"Emm.. Itu.. Aku.. Kau tahu.. Aku.. "
Tama mengerutkan keningnya melihat Salia yang terlihat salah tingkah itu.
"Kenapa, sayang? " tanya Tama.
Salia semakin gugup dibuatnya. "Aku.. Apa.. Itu.. "
"Permisi"
Petugas hotel menghampiri mereka berdua. "Mari akan saya antar menuju kamar hotel"
Tama mengangguk kemudian menarik pinggang Salia untuk menyusul petugas hotel yang sudah berlalu lebih dulu.
Mereka pun sampai di kamar hotel. Petugas itu pergi. Salia duduk di tepi ranjang. Dia tidak berani melihat Tama.
Tama mengunci pintu kamar. Dia berbalik menatap istrinya yang duduk sambil kepala tertunduk.
Tama membuka jas nya dan dasi yang melingkar di lehernya. Salia melirik Tama yang menghampiri nya sambi melempar jas nya sembarangan arah. Salia menelan salivanya.
Tama semakin dekat. Salia mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Aku mandi dulu, setelah itu giliran mu" kata Tama.
" Ba.. Baik" jawab Salia gugup.
Tama berlalu ke kamar mandi. Salia menghela napas lega. Dia melihat ke sekeliling.
Salia melihat laptop yang di bawa Tama dari apartemen. Dia membuka laptop itu kemudian membuka google untuk mencari sesuatu.
Dia mengetik nama Adinda di kolom pencarian. Muncullah foto gadis cantik yang Salia lihat di depan dapurnya.
Adinda Chelsea Guntara seorang model cantik yang meninggal dunia karena overdosis meminum obat terlarang di apartemen nya.
Salia tercengang membaca artikel tersebut.
Adinda meninggal diduga karena putusnya hubungan dia dengan seorang pengusaha sukses Aryatama Arbano Adiwijaya
Salia semakin terkejut. "Jadi selama ini.. Wanita itu.. Hantu? Aku di teror hantu? "
Ckleekk
Pintu kamar mandi terbuka. Salia segera menutup laptop tersebut dan segera bangkit dari ranjang.
Dia melihat Tama keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang nya.
Salia mengalihkan pandangannya. Tama tersenyum. Dia mendekati Salia dengan rambut basahnya.
__ADS_1
"Mandilah, aku tidak sabar melihatmu..."
"Tidak perlu di perjelas.. Aku akan segera mandi" kata Salia cepat. Dia segera memasuki kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, dia terlihat masih shock karena artikel tadi. Dia menggeleng cepat dan berpikir mungkin itu hanya halusinasi.
Namun ledakkan gas tadi bukan halusinasi kan?
♡♥♡♥♡♥♡
Salia keluar dari kamar mandi. Dia meggunakan piyama hitam polkadot putih.
Salia melihat Tama yang hanya mengenakan boxer tengah meminum kopi di tepi ranjang sambil melihat majalah-majalah. Dia belum menyadari keberadaan Salia.
Salia jadi salah tingkah. Dia belum bisa melakukan tugasnya sebagai seorang istri, namun mana mungkin juga dia mengabaikan keinginan Tama yang sekarang sudah menjadi suaminya.
Tama menoleh melihat Salia yang berdiri di dekatnya. Salia mengalihkan pandangannya.
Tama memperhatikan Salia dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Kenapa kamu memakai pakaian?" tanya Tama.
Salia terhenyak. "A.. Apa? " Salia jadi gugup lagi. "Pertanyaan macam apa itu? " batin Salia.
"Kamu mau tidur? Tidak lihat aku sudah meminum kopi? " tanya Tama.
"Kopi? Kenapa malam -malam gini kamu minum kopi? " tanya Salia dengan polosnya.
Tama berdiri menghampiri Salia. Salia terpundur. Tama mencekal kedua lengan Salia.
"Tama" gumam Salia.
"Apa, sayang? " tanya Tama.
"Aku.. Aku takut.. " gumam Salia.
"Aku tidak akan menyakiti mu, aku akan bermain lembut, sayang.. Tapi kau juga jangan menolakku" kata Tama.
Mereka saling menatap. "Aku baru menyadari kau memiliki mata yang Indah" kata Tama.
Salia mengalihkan pandangannya lagi. Namun Tama menarik dagu Salia.
"Jangan mengalihkan tatapanmu dari ku.. Aku mau kau menatap ku.. Dengan cinta.. " kata Tama sambil mendekatkan wajahnya.
Salia menutup matanya. Dia merasakan bibir Tama meyetuh bibirnya dengan lembut dan begitu hangat.
Ciuman itu berubah jadi lumatan-lumatan. Tanpa sadar, Salia terbuai dengan perlakuan suaminya itu.
Salia memeluk erat tengkuk Tama. Tama memeluk pinggang ramping Salia.
Desahan nakal keluar dari bibir Salia. Tama senang mendengar desahan Salia karena perbuatan nya. Salia pun dengan ragu membalas ciuman Tama.
Tama duduk di tepi rajang dan otomatis Salia duduk di pangkuannya.
__ADS_1
Tama meremas bokong Salia dengan gemas. Tangannya yang lain membuka kancing piyama yang dikenakan Salia.
Piyama itu pun lolos memperlihatkan bra hitam berenda nya.
Tama menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Otomatis Salia menindih tubuh Tama.
Ciuman mereka masih tetap berlangsung. Tama menurunkan celana Salia. Kini Salia hanya mengenakan bra dan cd hitam berenda nya.
Salia melepaskan ciumannya. Dia menatap Tama yang berada di bawahnya. Tama terlihat begitu tampan dan hot.
Kedua pipi Salia merona. Jantungnya juga berdetak semakin cepat. Apa mungkin dia menyukai Tama.
Salia akan beranjak dari atas tubuh Tama. Tapi Tama menahan pinggangnya.
"Mau kemana? " tanya Tama.
"Aku.. Aku.. Aku malu.. " kata Salia sambil menunduk. Tama duduk dan menatap Salia yang masih duduk di pangkuannya.
Tama mencubit kedua pipi Salia. "Kamu tidak perlu malu, aku kan suami mu" bisik Tama serak.
Salia menyingkirkan kedua tangan Tama dari pipinya. "Sakit tahu " gerutu Salia.
Tama menyentuh payudara Salia. Salia. Salia memegang tangan Tama. Tama menatap Salia.
"Seperti nya benda kesukaan ku ini membesar.. Terakhir kali, dia masih pas di tangan ku, sekarang tidak muat di tangan ku" goda Tama.
"Tama" gerutu Salia. Tama terkekeh. Dia mendekatkan wajahnya ke leher Salia kemudian menghisap leher Salia.
Tubuh Salia merasa tersengat listrik dengan perlakuan Tama. Tama membuka pengait bra Salia dan bra itu pun lolos memperlihatkan payudara nya yang cukup besar.
Tama meremas pelan payudara Salia. "Hhhh... " desah Salia pelan. Tama tersenyum disela kegiatan nya membuat karya di leher Salia.
Tama berbalik menindih Salia dan menopang berat badannya dengan kedua tangan. Karena dia tidak ingin menyakiti Salia dan bayinya.
Salia menatap Tama. Sungguh Tama sangat tampan bahkan mungkin menurut nya, Tama lebih tampan di bandingkan Refaldo yang notabenenya bule.
"Panggil namaku ya" kata Tama.
"Tama.. " kata Salia.
"Jangan sekarang "
"Kapan? "
"Nanti.. Saat aku memasuki mu"
♡♥♡♥♡♥♡
By
Ucu Irna Marhamah
__ADS_1