La'grimas

La'grimas
20


__ADS_3


Salia melihat bekas sayatan di lehernya. Dia menghela napas berat. Baru pertama kali nya dia bekerja di kepolisian bagian otopsi, tapi dia sudah mendapatkan masalah serumit ini bahkan hampir membahayakan nyawanya.



Terdengar langkah kaki menuju apartemen nya di susul suara ketukan pada pintu apartemen.



Salia pun membuka pintu. Pagi ini dia sudah kedatangan tamu.



Salia terkejut mendapati Tama yang berdiri di depan pintu.



"Hai, bagaimana kabarmu? "



"Emm.. Sedikit lebih baik.. Mari masuk.. Aku sudah menyiapkan roti untuk sarapan " kata Salia sambil menatap kedua manik abu-abu milik Tama.



"Wah.. Apa tidak merepotkan?"



"Tidak apa-apa, ayo masuk"



Tama tersenyum. Dia pun menurut kemudian sarapan bersama Salia.



Sebenarnya Salia masih curiga kepada Tama. Dia yakin sekali kalau Tama itu memang penguntit yang selama ini mengintai nya. Salia masih menatap kedua mata Tama.



"Orang-orang semalam sudah di tangkap oleh orang-orang ku, jadi kau tidak perlu khawatir lagi " kata Tama.



"Apa? Benarkah? " tanya Salia. Dia tidak mengira Tama bekerja cepat di bandingkan para polisi.



"Iya, mereka adalah suruhan pria yang telah memperkosa gadis yang mayatnya kau otopsi kemarin. Dia tidak mau polisi menangkap nya" kata Tama.



Deg



Salia tercengang. "Darimana kau tahu? "



Deg



Tama keceplosan.



"Orang-orang ku menyelidikinya "



Salia masih terlihat curiga.. Namun dia memilih untuk ber-oh ria. Mungkin orang-orang Tama sama kuatnya dengan orang-orang Michael, ayahnya karena mereka berdua sama-sama pengusaha kan?



"Oh ya, aku selalu lupa.. Siapa namamu? " tanya Salia.



Tama tersenyum. "Apa perlu kau tahu? "



"Tentu, karena aku harus memanggil mu apa? "



"Panggil saja aku kakak"



"Emm baiklah "



♡♥♡♥♡♥♡



Salia memasuki ruang otopsi. Dia menghela napas panjang. Saat ini ada beberapa mayat yang harus dia otopsi.



Meskipun kemarin terjadi kekerasan padanya, dia tidak mau absen dari tugas nya.



Meskipun hari sudah larut, dia nekat sendirian di kamar otopsi. Terdengar langkah kaki menuju ruangan itu.



Salia menoleh kearah pintu. Terdengar langkah itu terhenti di depan pintu. Dia mengerutkan dahinya. Biasanya seseorang akan mengetuk pintu jika sudah berdiri di depan.



Namun orang yang kali ini sepertinya malah berdiri mematung disana. Salia bisa melihat sepasang sepatu itu dari sela bawah pintu.


__ADS_1


Tiba-tiba, terjadi tembakan. Salia terkejut. Dia bertiarap dan bersembunyi di bawah meja otopsi.



Ternyata orang itu pembunuh bayaran yang mungkin saja di suruh penguntit nya atau disuruh oleh tersangka pemerkosa mayat yang kemarin dia otopsi.



Pintu yang di penuhi lubang bekas peluru itu di dobrak hingga hancur.



Salia terkejut.



Pria berbaju serba hitam itu dengan topeng memasuki ruang otopsi.



Salia gemetar ketakutan. Bukan karena apa-apa. Jika saja pembunuh bayaran itu tidak membawa senjata, mungkin dia masih mampu untuk bertahan melawan nya.



Pria itu tersenyum melihat ke bawah meja otopsi. Dia menonjolkan kepala nya ke kolong.



"Aaa!!! " Salia berteriak dan Refleks menendang wajah bertopeng itu.



Salia mengangkat meja itu dan melemparnya ke si pembunuh. Salia pun berlari namun pria itu melancarkan lagi tembakan nya.



Salia bersembunyi di balik tiang besar yang cukup menyembunyikan tubuh nya.



"Keluarlah gadis cantik "



Salia ketakutan. Pria itu semakin dekat dan menjambak rambut Salia.



"Aaa!!! Lepaskan aku!! '' Salia berontak. Tiba-tiba pria itu menyudutkan nya ke dinding.



Salia berontak.



"Hentikan otopsi itu.. Atau aku menghabisi mu, sayang " ancam pria bertopeng itu.



Salia menatap tajam pada pria itu. Jadi dia bukan penguntit nya. Tapi suruhan tersangka kasus nya.




"Hukum tegak dan kau pun mati"



Deg



Salia belum mau mati. Dia berontak dan tiba-tiba pria itu menamparnya hingga Salia tersungkur jatuh. Darah mengalir dari hidung nya.



"Aku akan memperlakukan mu sama seperti mayat yang kau otopsi " kata pria itu sambil mendekat kemudian menarik jas putih yang di pakai Salia.



"Jangan kurang ajar!! "



Pria itu mendorong Salia lagi hingga tersungkur lagi.



"Tolooong!! Seseorang tolong aku!!! "



Plak



Salia tersungkur lagi. Dia menyentuh pipi nya yang sudah memerah.



"Sekarang katakan! Mana pilihan mu, mati seperti mayat yang kau otopsi atau berhenti mengotopsi mayat itu! "



"Bunuh saja aku! "



Pria itu melayangkan pukulannya. Salia menutup kepala nya dengan kedua tangan.



Namun tidak terasa apa-apa. Salia mendongkak.



Deg


__ADS_1


Dia terkejut mendapati seorang pria bermasker menahan pukulan pria bertopeng itu.



Pria bermasker itu penguntit nya.



Sedang apa dia disini? Apa dia juga mau menghabisi Salia?



"Jangan sentuh milik ku!! " bentak pria bermasker itu. Terjadi perkelahian di antara mereka.



Salia segera mengambil benda tumpul yang bisa digunakan untuk memukul. Salia mengambil linggis besar.



Dengan kekuatan penuh, dia memukul kepala pria bertopeng. Pria bertopeng itu tersungkur. Namun dia bangkit dan menendang perut Salia hingga Salia tersungkur dan meringis.



Pria bermasker yang tak lain adalah Tama itu tercengang melihat Salia tersungkur dan terlihat sesak.



Asmanya kambuh. Dia sesak. Salia menyentuh dadanya. Salia menggapai tas nya kemudian mencari inhaler dan menghisap nya.



Tama semakin marah. Dia menghajar pria bertopeng habis-habisan.



"Sialan kau! Menyakiti milikku!! Rasakan ini!! " Tama terus menghajarnya hingga pria bertopeng itu tidak sadarkan diri.



Napas Tama terengah. Dia menoleh kearah Salia.



Salia terpundur sambil duduk. Dia ngesot untuk menjauhi Tama. Tama berjalan menghampiri nya.



Salia semakin panik.



"Jangan mendekat! "



"Aku tidak akan menyakiti mu"



"Kau penguntit!! "



"Percayalah, kau terluka.. Ayo" Tama mengangkat tubuh Salia dan membawa nya ke mobil nya. Mobil yang berbeda tentu nya.



Salia tetap waspada. Dia terus memandangi Tama dengan tajam.



"Jangan menatap ku terus, aku jadi grogi" kata Tama tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan Raya.



Salia terkejut. Dia mengalihkan pandangannya.



Mereka sampai di apartemen Salia. Tama menggendong Salia dengan bridal.



Mereka memasuki apartemen Salia. Tama mengambil obat P3K dari nakas kemudian mengobati luka di dahi dan pipi Salia.



Salia menatap kedua manik abu-abu milik Tama. Salia yakin penguntit itu adalah tetangga nya.



"Kenapa kau membantuku? Kau bilang kau ingin menghabisi ku karena kau penguntit dan kau ingin membalaskan dendam mu padaku karena ayahku telah membunuh adikmu"



Tama tersenyum di balik maskernya. "Kau ingat itu? Lalu apa kau ingat saat aku bilang aku mencintai mu? Aku ingin memiliki mu? "



Deg



Salia terkejut dan ingat itu.



"Aku mencintai mu, Salia.. "



♡♥♡♥♡♥♡





By

__ADS_1



Ucu Irna Marhamah


__ADS_2