
Langit mulai gelap
Mobil Tama terhenti di depan rumah sakit Immamura. Salia dan Tama keluar dari mobil.
Tama menggenggam tangan Salia kemudian memasuki rumah sakit.
Masih ada beberapa perawat dan petugas rumah sakit yang berlalu lalang.
"Suster.. Apa Tn. Immamura masih ada di ruang pribadi nya? " tanya Tama pada salah satu perawat yang berpapasan dengan mereka.
"Iya.. Ryuuga-sama masih berada di ruangan nya " jawab perawat itu.
"Terimakasih " kata Tama sambil berjalan tanpa melepaskan genggaman tangannya dari Salia.
"Kamu jalan nya pelan banget sih, buruan dong.. Entar kalo Renata kenapa-napa gimana" gerutu Salia.
"Kamu lagi hamil, sayang.. Mana mungkin aku menyeret kamu cuma demi hantu yang hampir membunuhku" gerutu Tama.
"Hey, yang kau bicarakan itu kakak iparmu" gerutu Salia.
Tama memutar bola mata nya kesal mendengar ke cerewetan istri tercinta nya itu.
Mereka sampai di ruangan Ryuuga. Tama mengetuk pintu ruangan tersebut.
Pintu pun di buka. Ryuuga menatap Tama dan Salia.
"Wah jadi kalian benar-benar kemari? " tanya Ryuuga.
"Kami ingin melihat tempat makan mu" kata Tama.
Salia mengangguk cepat cepat. Ryuga menghela napas berat kemudian mengangguk.
"Mari, lewat sini " kata Ryuuga sambil berlalu di susul Tama dan Salia.
"Semoga Gerald dan Yoona sudah membereskan semuanya " batin Ryuuga.
Mereka pun memasuki tempat makan. Disana ada Gerald dan Yoona yang sedang berbicara.
Salia bisa melihat Renata. "Renata!! " Salia melambaikan tangannya sambil tersenyum pada Renata.
Gerald, Yoona dan Renata menoleh. Renata tersenyum melihat keberadaan Salia. Dia juga melambaikan tangannya.
Ryuuga mengerutkan keningnya. "Renata? " tanya Ryuuga.
"Ah.. Emm.. Maksudku.. Emm.. Yoona " kata Salia sambil melambaikan tangannya pada Yoona.
Yoona tersenyum kaku sambil melambaikan tangannya pada Salia.
Ryuuga tampak bingung. Namun dia tampak tidak ambil pusing.
Tama terkekeh sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Baiklah, Tama-sama dan Salia-sama.. Aku ke ruangan ku dulu ya.. Jika kalian mau sesuatu ada aku dan ada pelayan di tempat makan ini" kata Ryuuga.
"Iya terimakasih, Ryuuga-sama" kata Tama. Ryuuga tersenyum kemudian berlalu.
Salia dan Tama menghela napas lega. Namun lagi-lagi ekspresi mereka menegang saat Gerald dan Yoona menghampiri mereka berdua.
Tama bergegas ke depan Salia menghalangi Salia dari kedua siluman naga di depan nya..
Keringat dingin mengalir dari dahi Tama.
"Berhenti disana.. Kalian tidak bisa menyakiti siapapun lagi" kata Tama berusaha memberanikan diri.
Langkah Gerald dan Yoona terhenti. Mereka berdua saling pandang.
"Kami tidak berniat menyakiti siapapun.. " kata Yoona.
"Jangan berbohong, aku tahu kalian siluman naga" kata Tama.
__ADS_1
Gerald dan Yoona saling pandang.
"Apa yang kau bicarakan, Tama-sama? " tanya Yoona.
"Ryuuga bisa memanipulasi kami tapi kalian tidak" kata Tama sambil menunjuk leher Gerald yang ada sedikit sisik menempel disana.
Yoona menghela napas dalam-dalam. "Baiklah.. Terserah.. Tapi yang jelas kami tidak jahat " kata Yoona.
"Apa buktinya? " tanya Tama cepat.
"Kami akan membantu Renata" jawab Yoona.
Tama dan Salia saling pandang.
"Membantu?? Memangnya apa yang terjadi dengan Renata? " tanya Salia.
"Dia ingin pergi ke dunia nya.. Karena ini bukan dunia untuk Renata" jawab Yoona.
Salia terlihat sedih. Tama merangkul istrinya.
Tiba-tiba,Renata menampakkan dirinya. Untuk pertama kali nya, Tama bisa melihat Renata.
Renata menatap Tama dengan tajam. Tama menautkan alisnya.
"Renata, kau akan pergi? " tanya Salia.
Renata tersenyum sendu dan menatap adiknya kemudian mengangguk.
"Ta.. Tapi.. " Salia tidak melanjutkan kata-katanya karena dia tertunduk sedih.
"Semakin lama aku disini, maka aku semakin sedih.. Aku sayang kalian.. Tapi.. Aku tidak bisa selamanya berada di dunia yang bukan untuk ku" kata Renata.
Salia menghela napas berat.
Yoona terlihat sedih. Sebagai tipe pembaca pikiran, Yoona bisa merasakan kesesakkan dimana-mana.
"Aku bisa membantu nya agar bisa tinggal dimana pun dia berada" kata Gerald baru kali ini dia mengeluarkan suara nya.
"Renata bisa tinggal di mana pun, kalian dia menjadi.... Druckless seperti kami" jawab Gerald.
Yang mendengar itu terbelalak.
"Aku bukan naga" kata Renata cepat.
"Kau hanya butuh sebuah raga untuk wadahmu.. Itu tidak sulit.. Bagaimana? " kata Gerald di akhiri pertanyaan.
Renata tampak berpikir. "Aku tidak yakin.. " gumam Renata.
Salia memegang bahu Renata.
"Ikuti saja kata hatimu" kata Salia.
"Baiklah.. Aku.. Aku mau menjadi druckless" kata Renata.
Salia memeluk Renata.
♡♥♡♥♡♥♡
Mansion tua itu terlihat menyeramkan jika di lihat dari luar.
Itu mansion milik ibunya Yoona yang turun temurun di wariskan kepada keturunan nya.
Yoona dan Gerald membawa Salia, Tama dan arwah Renata ke mansion tersebut.
Renata duduk di tengah lingkaran merah yang di kelilingi oleh 12 buah lilin.
Tama dan Salia duduk di kejauhan memperhatikan kegiatan mereka.
Gerald dan Yoona berdiri di luar lingkaran. Mereka mengeluarkan cahaya hitam dari telapak tangan mereka.
__ADS_1
Salia memeluk Tama karena cemas. Tama merangkul Salia berusaha mengurangi kecemasan Salia.
Cahaya hitam itu membentuk sebuah naga hitam bermata kuning terang.
"Ta.. Tama.. Apa.. Apa itu" gumam Salia.
"Suttsss.. Tenanglah" kata Tama.
Naga hitam itu merasuk ke arwah Renata.
"Aaaaaaaarrgggghhhhh!!!! " teriak Renata kencang.
"Re.. Renata" gumam Salia.
Yoona dan Gerald masih fokus dengan mantra dan kekuatan mereka.
Naga hitam itu sepenuhnya hilang seolah di telan oleh Renata.
Renata pun terkulai lemas. Salia bergegas menghampiri Renata.
"Kak.. Kakak" Salia menyentuh pipi Renata.
Tama menghampiri Yoona. "Apa hantu itu baik-baik saja? " tanya Tama.
"Dia bukan hantu lagi, dia sekarang adalah seorang druckless" kata Yoona.
Mata Renata terbuka. Sepasang hazel terang itu menatap hazel yang serupa dengan nya.
"Kakak" Salia memeluk erat Renata.
Renata terkekeh dengan tingkah Salia yang manja dan kekanakan.
Renata membalas pelukan Salia.
"Emm.. Apa kalian berdua berniat menemui mertua? " tanya Tama.
Renata dan Salia menoleh ke arah Tama. Kemudian mereka berdua saling pandang dan tertawa.
"Tentu saja, sayang.. Kita buktikan pada dunia kalau Putri sulung keluarga Danuarga masih hidup " kata Salia.
"Tapi.. Bagaimana dengan dunia? Publik pasti akan heran dengan keberadaan kakak mu" kata Tama.
Salia menatap Renata.
"Tenang saja.. Papa Mike pasti bisa mengatasinya.. Papa Mike adalah Papa terkuat yang paling aku sayang " kata Salia pelan.
Yoona menyentuh bahu Renata dan Salia.
"Selamat berbahagia.. Alu bahagia untuk kalian berdua" kata Yoona.
"Terimakasih, dr. Yoona" kata Salia.
"Ini sudah malam.. Kurasa lebih baik kalian bertiga tinggal saja disini" kata Yoona.
Salia menatap ke sekeliling. Dia tampak merinding dengan suasana mansion tersebut.
"Tidak perlu takut, disini tidak ada hantu, hanya ada kami berdua" kata Yoona sambil menyentuh tangan Gerald.
Gerald merangkul Yoona.
"Hmm.. Bukankah mereka juga hantu? " batin Tama.
Yoona tertawa. "Aku bisa mendengar pikiranmu, Aryatama-sama " kata Yoona.
"Ah aku bahkan lupa kau bisa membaca pikiran ku" kata Tama.
♡♥♡♥♡♥♡
By
__ADS_1
Ucu Irna Marhamah