La'grimas

La'grimas
26


__ADS_3



Refa memasuki kamar rawat Salia. Awalnya dia harus berdebat dulu dengan keempat penjaga di depan kamar rawat Salia. Namun dengan meyakinkan mereka, Refa bisa masuk juga. Meskipun hampir saja mereka berempat mau menghajar nya.



"Lain kali aku harus membuat mereka pingsan dulu untuk menemui Salia" gerutu Refa.



Didalam ada Michael dan Meina yang sedang berbicara dengan Salia. Mungkin mereka berdua sedang berusaha menghibur anak mereka.



"Permisi"



Michael dan Meina menoleh. Mereka terkejut melihat keberadaan Refa.



"Refa? Kau disini? Kapan kau ke Indonesia? " tanya Michael.



"Kemarin.. Aku ingin menangani kasusnya Meisa.. Aku akan menangkap Aryatama untuk mu" kata Refa pada Michael dan Salia.



Michael dan Meina saling pandang.



"Ku rasa itu tidak perlu.. Aku sendiri yang akan mengatasi nya, Refa.. Kau boleh kembali ke Amerika.. Meisa membutuhkan ketenangan dan terapi mental" kata Michael.



Refa menatap Salia yang juga menatap dirinya.



"Papa, Mama.. Biarkan Refa disini.. Tapi Refa, aku tetap tidak mau kau mengurus kasus itu" kata Salia.



Michael dan Meina pun berlalu meninggalkan mereka berdua.



Refa duduk di kursi di samping ranjang yang di tempati Salia.



"Sudah minum obat? " tanya Refa.



Salia mengangguk.



"Terimakasih telah mengirimkan tulip merah untuk ku" kata Salia.



"Oh iya, aku membawa tulip merah ini untuk mu" kata Refa sambil memberikan setangkai bunga tulip merah pada Salia.



Salia mengerutkan dahinya. "Bukankah tadi.. Sudah mengirimkan sebuket bunga tulip untuk ku? "



"Tidak apa-apa.. Ini dariku, terima yaa" kata Refa.



Salia mengerutkan dahinya. Dia berpikir kalau sebuket bunga itu dari Refa. Tapi Refa baru saja memberinya sebuket bunga.



"Terimakasih " kata Salia sambil menerima bunga itu. Refa tersenyum sendu.



"Aku berjanji akan memberikan pelajaran pada Aryatama " kata Refa.



"Terserah saja, aku bosan memperingatkan mu" kata Salia.


__ADS_1


Refa tersenyum. Dia membelai lembut rambut Salia kemudian berlalu.



Salia menghela napas berat.



Di menatap langit-langit kamar rawat. "Kapan aku keluar dari tempat ini? Aku mau seperti dulu menjadi dokter lagi "



♡♥♡♥♡♥♡



Hari mulai malam. Salia sudah terlelap dalam mimpi indahnya. Tidak ada yang menemani kecuali keempat penjaga di depan kamar rawat nya.



"Kasihan Nn. Meisa, di usianya yang masih muda harus mengalami syok berat dan harus menjalani terapi" kata salah satu penjaga.



"Iya, padahal dia sangat baik"



"Dan juga penyayang tidak seperti ayahnya yang kejam"



Seseorang berjas hitam dan bertopeng hitam menghampiri mereka.



"Siapa kau!! " bentak salah satu penjaga.



Tanpa basa-basi, pria bertopeng itu menyemprotkan gas pada mereka berempat. Mereka berempat sempat terbatuk-batuk kemudian tak sadar kan diri.



Pria misterius itu memasuki kamar rawat Salia. Langkahnya terhenti melihat  Salia bergulir dari tidurnya.



Dengan pelan-pelan, dia menghampiri ranjang rawat Salia. Sejenak pria itu menatap wajah Salia yang tenang.




Tiba-tiba lampu seluruh rumah sakit padam. Pria itu terkejut. Dia menatap ke sekeliling. Semuanya gelap hanya ada cahaya bulan yang sedikit menerangi ruangan tersebut.



Pria itu melangkahkan kakinya akan pergi. Namun, sebuah tangan kecil menggenggam pergelangan tangannya.



Pria itu menoleh dan melihat  samar-samar hazel terang itu tengah menatap nya ketakutan.



"Ja.. Jangan tinggalkan aku.. Aku takut kegelapan " kata Salia gemetar.



Pria itu pun duduk di samping ranjang Salia. Refleks Salia memeluk nya dengan erat karena ketakutan.



"Aku takut gelap.. Jangan tinggalkan aku.. "



Pria itu pun membalas pelukan Salia. Dia berusaha menenangkan Salia dengan belaian lembut nya.



Salia menangis ketakutan karena dia memang pobhia kegelapan seperti Meina, ibunya. Salia menggenggam erat tangan pria itu. Meina merasa ada gelang logam yang melingkar di pergelangan tangan pria itu. Dia ingat Refa yang memakai gelang tersebut.



Lampu pun terang kembali. Salia terkejut melihat seseorang yang dia peluk. Pria bertopeng itu melepaskan pelukannya.



Dia beranjak dan berlalu pergi.



"Tunggu! Kau siapa? " tanya Salia.

__ADS_1



Langkah pria itu terhenti. Dia menoleh kearah Salia namun kemudian dia melangkahkan kakinya meninggalkan Salia dalam kebingungan.



"Apa dia memang Refa? "



♡♥♡♥♡♥♡



Pagi-pagi sekali, Meina pergi ke rumah sakit karena mendengar kabar bahwa ada penyusup yang membuat keempat penjaga kamar Salia pingsan semua.



Dengan langkah besar, dan perasaan campur aduk, Meina terlihat cemas. Di tangannya tampak satu parsel buah-buahan yang segar.



Namun saat di depan pintu kamar rawat putrinya, dia terkejut melihat keempat penjaga kamar rawat Salia sudah sadar di rawat oleh beberapa perawat.



"Astaga! Apa yang terjadi? "



Tanpa mau bertanya dulu, Meina segera memasuki kamar rawat putrinya dan dia melihat Salia sedang di suapi bubur oleh perawat.




Meina menghela napas lega. Dia menghampiri Salia dan mengambil alih tugas suster.



"Biar saya saja, Sus" kata Meina.



Suster itu mengangguk kemudian memberikan mangkuk berisikan bubur itu pada Meina. Meina pun menyuapi Salia dengan penuh kasih sayang.



Selesai menyuapi Salia, Meina memberikan Salia obat agar cepat sembuh.



"Mama pagi-pagi sekali kemari ?"



"Iya, Mama khawatir sama kamu, besok kamu udah bisa pulang "



Salia terlihat bahagia. "Benarkah? "



"Iya sayang, makanya kamu harus cepet sembuh ya" kata Meina. Salia tersenyum. "Baik, dok"



Meina tertawa. Salia memang memiliki wajah yang mirip dengan Michael namun sikap dan sifatnya sangat mirip dengan dirinya.



"Meisa, apa semalam tidak ada sesuatu atau seseorang yang mengganggu mu? "



Salia menghela napas berat. "Ada.. Tapi aku tidak tahu dia siapa.. Dia memakai gelang yang biasanya di pakai Refa.. Gelang logam. Tapi aku juga tidak yakin"



"Refa? Jika iya Refa kemari, kenapa dia harus membius para penjaga?  Jika iya pun, Refa kan polisi mana mungkin dia melakukan hal seperti itu? Aku yakin.. Yang melakukannya bukan Refa.. Tapi.. "



♡♥♡♥♡♥♡





By


__ADS_1


Ucu Irna Marhamah


__ADS_2