La'grimas

La'grimas
19


__ADS_3



Salia akan menyetop taksi, tapi mobil Refa berhenti di depan nya.



"Ayo, kuantarkan kau" kata Refa.



Salia melirik Dea yang duduk di samping Refa. Dea merasa tidak enak.



"Aku akan pindah ke belakang " kata Dea.



"Tidak perlu" kata Salia kemudian memasuki mobil. Dia duduk di kursi belakang.



Refa memegang tangan Dea untuk menenangkan hati Dea. Salia yang melihat  itu semakin sesak.



Mobil pun melaju dengan kecepatan standar. Sementara mobil sport hitam milik Tama mengikuti mobil polisi yang di kendarai Refa.



Refa melirik spion. "Kenapa sport hitam itu terus menerus menyusul mobil ini? "



Salia terkejut. Dia menoleh ke belakang. Dia tercengang melihat pengemudi pria itu mengenakan masker dan topi hitam.



"Pengintai" gumam Salia.



"Apa? " tanya Refa.



"Bisa saja dia orang yang mengintai ku.. Refa cepat bawa mobil nya!! Aku takut "



"Iya"



Refa membawa mobil dengan kecepatan cukup tinggi. Namun di depan ada polisi lalu lintas menyetop mobil yang di tumpangi Refa.



"Kenapa sebagai seorang polisi, kau membawa mobil dengan kecepatan rata-rata? " gerutu polisi lalu lintas itu.



"Maaf, tapi kami di kejar oleh pengintai " kata Salia.



"Mana pengintai nya? " gerutu polisi lalu lintas itu. Mereka bertiga menoleh ke belakang. Namun tidak ada mobil sport yang tadi mengikuti mereka.



"Jangan berhalusinasi, ini memang sudah malam mungkin kalian harus segera pulang dan beristirahat" gerutu polisi lalu lintas itu.



Refa pun melajukan kembali mobilnya. Baru saja beberapa mil, mobil mereka di cegat oleh 3 mobil. Dan beberapa orang bertubuh kekar keluar dari mobil itu.



Mereka menggedor mobil kepolisian.



"Keluar!! "



"Refa! Jangan! Mereka pasti salah satu dari pengintai itu! " kata Salia.



Namun salah satu dari mereka ada yang membawa kapak dan menghancurkan bagian depan mobil.



"Aaa!!! " Salia dan Dea berteriak.



"Keluar atau ku hancurkan mobil ini!! " bentak nya.



"Aku keluar saja, kalian tunggu disini" kata Refa. Refa keluar. Dia terlihat berbicara dengan mereka.



Dea dan Salia tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.



Namun terjadilah perkelahian.



"Apa-apaan mereka! " Salia membuka pintu mobil. Namun Dea manahan nya.



"Jangan! Refa melarang kita " kata Dea.


__ADS_1


"Aku tidak akan membiarkan sahabat ku dalam bahaya, lebih baik kau yang diam disini.. Dan telepon polisi " kata Salia sambil keluar.



Dea terkesima dengan pembelaan Salia. Terlihat Salia begitu peduli pada Refa. Sedangkan dirinya hanya memikirkan cinta.



Salia ikut melawan dengan pistol yang selalu dia bawa. Pistol pemberian Michael untuk berjaga-jaga.



"Jangan bergerak!! " ancam Salia.



Mereka pun berhenti berkelahi. Refa dan Salia beradu punggung.



"Darimana pistol itu? " tanya Refa.



"Kau tidak perlu tahu" jawab Salia.



"Kenapa kalian diam, dia hanya seorang dokter.. Karena dokter tidak bisa berkelahi " kata salah satu dari mereka.



Salia mengepalkan tangannya. Salah satu dari mereka maju. Salia pun melawan mereka. Dia memang sedikit menguasai ilmu bela diri.



Dea keluar dari mobil. Dia ikut berkelahi. Bahkan dia terlihat sangat ahli.



Namun karena jumlah mereka lebih banyak, Salia dan Dea berhasil di ringkus dan di jadikan sanderaan.



"Jangan bergerak! Atau kami akan menghabisi salah satu dari kedua gadis ini" kata salah satu dari mereka.



"Lepaskan mereka sialan!! " bentak Refa.



Yang menyandera menyayat leher Salia dan Dea.



"Refa!!!! " teriak Salia dan Dea berbarengan. Refa kebingungan harus menyelamatkan yang mana. Namun dengan cepat, Refa menembak kedua orang yang menyandera Salia dan Dea.



Dia berlari kearah Salia. Karena Salia mengeluarkan banyak darah.



"Meisa"




Dan....



Dor!!!



Bruk



Refa terbelalak, Dea tumbang di hadapan nya.



"Dea!!! " Refa beralih memeluk Dea. Salia tercengang melihat pembelaan Dea untuk Refa.



"Dea.. " gumam nya.



"Inilah akibatnya jika para polisi ikut campur dalam kasus bunuh diri nya gadis yang baru saja kalian otopsi"



Deg



Jadi mereka suruhan orang yang telah melecehkan mayat yang mereka otopsi. Bukan suruhan orang yang mengintai Salia.



"Sekarang, matilah kalian bersama-sama!! "



Refa menghalangi tubuh Dea dan Salia dengan tubuhnya.



Dor



Dor



Dor

__ADS_1



Dor



Terdengar tembakkan yang memekakkan telinga. Refa menggeleng. Dia tidak apa-apa.



Kedua mata Refa terbuka. Semua orang -orang jahat itu terkapar tak bernyawa.



Siapa yang melakukan nya?



Dia merasakan pergerakan di samping nya. Ternyata pria itu. Dia mengangkat tubuh Salia ke pangkuannya.



Refa sesak melihat  betapa perhatian nya pria itu pada Salia.



Salia juga sesak melihat  Refa yang memeluk Dea.



Pria yang tidak lain adalah Tama membuka jas nya dan memakaikan nya pada Salia.



Salia menatap mata Tama. Sesuatu terlintas di ingatan Salia.



Deg



Deg



Deg



Mata abu-abu itu..



Pengintai itu..



Tetangga apartemen nya sendiri..



Tanpa sadar, Salia menyentuh pipi Tama. Tama menatap Salia.



"Kenapa? " tanya Salia.



"Karena aku mencintai mu" jawab Tama enteng.



Deg



Salia dan Refa yang mendengar itu benar-benar terkejut.



"Jack! Cepat panggil ambulans!! " teriak Tama.



"Ambulans sedang menuju kemari" jawab Jack, pemimpin dari pengawal nya.



"Jangan banyak bergerak, banyak sekali darah nya " kata Tama.



Tama memeluk Salia.



Refa mengeratkan pelukannya pada Dea. Dia merasa sudah tidak ada gunanya lagi memperjuangkan perasaan nya pada Salia.



Salia sudah memiliki pria yang jauh lebih baik dari dirinya.



Mungkin ada beberapa film yang menceritakan tentang cinta seorang antara sahabat dan akhirnya mereka menikah. Tapi tidak dengan kisah Refa dan Salia.



Mungkin.. Hanya Tuhan yang tahu..



♡♥♡♥♡♥♡





By

__ADS_1



Ucu Irna Marhamah


__ADS_2