
Michael mencium kedua pipi putrinya bergantian. "Jaga dirimu baik-baik. Jika terjadi sesuatu, gunakan saja pukulan mu yang kuat ya" kata Michael dengan nada bicara seolah pada anak kecil.
Salia tersenyum geli mendengar ucapan ayahnya yang terkesan seperti bicara pada anak kecil. Meina juga tersenyum.
Tama memutar kedua bola mata nya. "Tenang saja, Papa mertua. Salia aman bersama ku"
Michael mendelik tajam pada Tama. "Karena itu lah aku khawatir" gerutu Michael. Meina menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dan jika pria itu macam-macam, jangan segan memukul nya" bisik Michael di telinga Salia. Salia mendelik Tama kemudian mengangguk pada ayah nya.
Salia pun beralih pada Meina. Meina memeluk erat putrinya. "Mama akan sangat merindukan kamu, selama kamu di Perancis, kamu harus mejaga dirimu baik-baik ya dan dengarkan ucapan suami mu"
Salia melepaskan pelukannya dan menatap Meina. "Aku akan menjaga diriku baik-baik, Ma.. Sampai jumpa, Ma Pa"
Tama dan Salia pun memasuki mobil mereka. Selama di perjalanan, mereka sama-sama terdiam. Tama mengotak-atik ponselnya begitu pun dengan Salia. Sementara sopir mengemudikan mobil.
Tiba-tiba, kepala Salia terlelap ke bahu Tama. Tama terkejut. Dia melirik Salia yang ternyata tertidur. Tama tersenyum kemudian merangkul tubuh Salia agar lebih merapat pada nya.
Tama membelai lembut rambut Salia. Pandangan nya tertuju pada perut rata Salia. Perlahan tangan nya bergerak menyentuh perut Salia. Di dalam sana ada bayinya.
Tama tersenyum dan berharap anaknya bisa lahir dengan selamat dan menjadi anak yang kuat serta menjadi anak yang terbaik diantara yang terbaik.
♡♥♡♥♡♥♡
Perlahan kedua mata Salia terbuka. Dia terkejut mendapati dirinya tengah berada di dalam jet. Disamping nya ada Tama yang terlihat tidur begitu lelapnya.
Salia menghela nafas berat. Dia melihat keluar jendela jet yang tertutup tirai. Semuanya gelap. Jadi sudah malam. Dia tidak mengira akan tidur selama itu.
Salia bangkit, tapi sebuah tangan memegang pergelangan tangan nya. Salia menoleh ternyata Tama sudah terbangun. Dia menatap Salia penuh arti.
"Mau kemana? "
"Ke kamar mandi "
Salia melepaskan tangan Tama kemudian pergi ke kamar mandi di jet tersebut.
Tama melihat keluar jendela. Dia menghela nafas panjang. Beberapa menit kemudian, Salia kembali duduk ke samping Tama.
Tama memperhatikan Salia. Salia merendahkan tempat duduk nya sehingga seperti bangku jemur. Salia pun berbaring dan membelakangi Tama. Dia tidak bisa tidur. Dia tidak nyaman dengan posisinya yang sekarang.
Dia ingin berbalik, tapi tidak mau melihat Tama. Belum lagi dia benar-benar merasa sangat lapar.
Terdengar perut Salia berbunyi. Tama yang sedang membaca majalah menoleh kearah Salia yang sedang berbaring membelakangi Tama.
__ADS_1
"Kamu lapar? Kenapa gak bilang? "
♡♥♡♥♡♥♡
Tama dan Salia duduk berdampingan di depan mereka tersedia banyak makanan. Salia melihat ada jus jeruk kesukaan nya. Dari tadi dia kehausan karena sama sekali belum meminum apapun.
Tama mengambil segelas jus jeruk itu kemudian meminumnya. Salia melihat itu merasa semakin haus.
Tama melirik Salia. Dia memberikan jus jeruk yang baru saja dia minum. Salia mengalihkan pandangannya.
Tama mengambil jus jeruk baru dan memberikan nya pada Salia. Salia menerimanya kemudian meminum jus tersebut hingga kandas.
"Kalo kamu mau apa-apa, bilang aja sama aku, jangan malu" kata Tama.
"Aku gak malu" gerutu Salia.
"Lalu kenapa gak bilang? " tanya Tama.
"Aku gak mau aja kamu jadi besar rasa karena aku keliatan butuh sama kamu " jawab Salia.
"Bicaramu lembut tapi cukup menyakitkan, aku gak bakalan mikir kalo kamu butuh aku, aku cuma gak mau aja kesehatan kamu terganggu. Apalagi sekarang kamu lagi mengandung anak aku" jawab Tama.
Salia terlihat sedih. Dia menatap pantulan dirinya di meja kaca hitam itu. Kini dirinya sudah menjadi seorang istri dan sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu. Padahal dia sama sekali belum siap untuk itu.
Pelayan menghampiri Salia kemudian mengambilkan Salia makanan dan memberikan nya pada Salia.
Salia pun memakan makanan nya dengan pelan. Begitu pun dengan Tama. Tama memakan makanan nya.
Baru saja beberapa suap, Salia merasa sangat mual. Dia pun segera bergegas ke kamar mandi dan memuntahkan semua makanan yang baru saja dia telan.
Tama menghampiri nya. Dia membantu Salia membersihkan sisa muntahannya. Salia memegang perutnya.
"Kenapa perutmu? Kamu mau istirahat saja? " tanya Tama.
Salia menggeleng. "Aku butuh obat "
"Obat apa? " tanya Tama.
"Obat tidur"
"Kamu gak boleh minum obat tidur, kamu kan lagi hamil. Gimana kalo terjadi sesuatu sama bayi kita? " kata Tama panjang lebar.
"Aku gak bisa tidur kalo gak minum obat" gerutu Salia.
__ADS_1
"Aku bisa kok bikin kamu tidur " kata Tama.
Salia menatap Tama penuh kecurigaan dan kewaspadaan.
"Kenapa kamu malah liatin aku kayak gitu? " gerutu Tama.
"Kamu gak lagi ngerencanain sesuatu kan? " tanya Salia menyelidik.
"Ngerencanain sesuatu gimana? Kamu mau tidur gak sih? " tanya Tama.
"Kamu jangan macam-macam saat aku tidur ya, awas" kata Salia kesal.
"Macam-macam gimana, kamu kan udah aku macam-macamin" kata Tama sambil tersenyum nakal.
Salia mendengus kesal kemudian berlalu. Tama masih tersenyum kemudian menyusul Salia.
♡♥♡♥♡♥♡
Salia merebahkan tubuhnya ke ranjang. Tama menyusul tidur di samping Salia. Salia membelakangi Tama. Tama memeluk nya dari belakang.
Salia merasa cukup nyaman. Apalagi saat Tama membelai lembut perut nya.
"Sleeping baby..
Sleeping honey..
Sweet nice dream..
Sweet nice dream..
Wake up tomorrow to activity..
Sweet nice dream..
Love you.. Lagrimas..
Perlahan namun pasti, Salia memejamkan matanya dan napasnya sudah teratur. Tama mencium rambut Salia.
"Kamu juga Lagrimas buat aku, Salia..."
♡♥♡♥♡♥♡
By
__ADS_1
Ucu Irna Marhamah