
Meisalia*
Aku benar-benar terkejut mendengar nya. Peneror itu ada disini?
Aku butuh Papa dan Tama untuk menolongku. Aku beranjak dari ranjang.
"Jangan coba pergi dari sini, dia sudah di depan kamar ini "
Deg
Suara itu kembali terdengar. Aku menelan saliva ku.
"Dari mana kau tahu? " tanyaku.
"Ikuti kata-kata ku.. Sekarang ambil pistol mu"
Terakhir kali ucapan nya benar. Tidak ada alasan untuk tidak mendengar instruksi nya.
Aku mengambil pistol yang biasa aku bawa.
"Sekarang bagaimana? " tanya ku.
"Dengar kan aku.. Masuk ke lemari untuk bersembunyi "
Aku pun menurut. Aku memasuki lemari sambil bersiap siaga.
"Meisaaaa"
Itu suara hantu nya. Aku gemeter ketakutan.
"Jangan takut Salia.. Aku disini " kata kepribadian ku.
Jujur aku merasa aman dengan kata-kata nya.
"Aku akan membawamu ke dunia ku.. " suara itu semakin terdengar jelas.
Pintu kamar terdengar di buka. Aku menelan saliva ku gugup.
"Lihat dia lewat lubang lemari ini" kata kepribadian ku.
Aku menurut. Aku mengintip lewat lubang -lubang lemari.
Deg
Aku melihat nya. Hantu itu. Dia menelisik ruangan kamar yang ku tempati.
"Aku pernah meledakkan dapurmu.. Sekarang aku ingin meledakkan kepalamu.. "
Aku gemetar ketakutan.
"Tenang Salia.. Dia bukan hantu.. Lihat kaki nya" kata kepribadian ku.
Aku melihat kakinya napak dan bahkan ada bayangan nya.
Dia bukan hantu nya Adinda. Lalu.. Siapa dia kenapa dia mirip Adinda.
"Salia.. Dia memakai topeng. Jangan bertindak gegabah.. Aku akan memikirkan cara untuk mengalahkan dia" kata kepribadian ku.
Aku berpikir. Apa ini benar-benar nyata? Kepribadian ganda? Hantu?
Grackkk
Aku terhenyak saat lemari tempat aku sembunyi di cakar dari luar.
Aku melihat sepasang mata melotot menatap ku dari luar. Aku terbelalak. Pistol ku terjatuh ke bawah.
__ADS_1
"Keluar.. Salia.. Aku mau melihat mu.. "
Aku panik. "Bagaimana ini.. " kataku mengajak kepribadian ku berbicara.
"Keluaaaarrr"
Aku ketakutan. Dengan keras, aku membuka pintu lemari hingga membentur hantu gadungan itu dan hantu itu pun tersungkur.
Aku keluar dan entah keberanian dari mana, aku menarik bagian depan gaun sialan yang dia pakai.
"Berani sekali kau mengangguku.. Mengganggu Putri dari keluarga Danuarga, cari mati? " geram ku.
Sungguh aku tidak berniat bicara seperti itu.
Kedua tanganku bergerak dan mencakar wajah nya.
Demi Tuhan, itu bukan kehendakku, kedua tanganku bergerak refleks seolah ada yang menggerakkan.
Topeng yang dia pakai pun koyak. Aku bisa melihat wajah nya. Tapi aku tidak mengenali nya.
Tiba-tiba, wanita itu mendorong ku dan memukulku. Aku tidak diam dan aku menghajarnya juga.
"Kau harus mati" geram wanita itu.
"Kau yang harus mati!!! " teriak ku dan menendang perutnya hingga tersungkur.
"Papaaaa!!! Tamaaaa!!!!! " teriak ku kencang berharap kedua pria itu menolongku.
Wanita itu mengambil sesuatu dari kantungnya. Ternyata pistol. Dia mengarahkan pistol nya ke wajahku.
"Ucapkan salam terakhirmu dan selamat bertemu dengan Adinda di neraka" kata wanita itu.
Aku membelalak.
Tiba-tiba tubuhku bergerak lari kearah wanita itu.
"Apa yang akan kau lakukan! " bentak wanita itu.
Aku tidak berhenti lari dan sama sekali tidak gemetar padahal jelas aku sangat ketakutan.
Aku menubruk wanita itu hingga kami terlempar keluar jendela sampai kaca jendelanya pecah.
Dan wanita itu terkapar dengan aku berada diatas tubuhnya.
Darah mengalir dimana-mana. "Katakan!!! Siapa yang menyuruhmu!!! " teriak ku di wajahnya.
"Dia.. Dia akan datang.. Dan me.. Mengambil suami mu.. " itu kata -kata terakhirnya karena dia tela meninggal.
Aku bangkit dari tubuhnya dan menatap kedua tangan ku yang berlumuran darah.
Ya Tuhan
Aku telah membunuh seseorang. Bagaimana ini?
"Kau tidak membunuh nya. Itu hanya pembelaan dirimu.. Membunuh dia.. Atau kau yang terbunuh "
Aku menghela nafas panjang. "Katakan siapa dirimu? " tanya ku dingin.
"Aku adalah... Kakakmu"
♡♥♡♥♡♥♡
Aku menatap pantulan diriku di cermin. Pantulan ku itu tersenyum menyeringai.
"Kenapa kau tersenyum? Apa ada yang lucu? " tanya ku menggerutu.
__ADS_1
"Iya.. Kau begitu manis Salia"
Aku membuang muka kearah lain. Kulihat dia berusaha keluar dari cermin.
Aku terkejut dan mundur. Aku benar-benar ketakutan.
Bagaimana jika dia ingin menyakiti ku dan mengambil alih tubuh ku seperti di film-film?
Dia keluar dari cermin dan menghampiri ku. Dia memegang kedua tanganku.
"Aku kakakmu.. Aku lahir duluan sebelum kamu" kata dia.
"Bukankah kamu meninggal waktu kamu masih janin? Kenapa kamu bisa jadi seusia ku? " tanya ku heran.
Dia mengeratkan pegangannya pada tanganku. "Setiap raga entah itu bayi, remaja, dewasa atau orang tua, memiliki nyawa yang usianya sama yaitu sepertiku. Ragaku memang mati sebelum waktu nya lahir. Namun nyawaku masih terkurung di dalam perut Mama. Aku pun lahir sebelum kamu.. Beberapa menit kemudian, kamu lahir. Aku lahir dengan usia seperti ini dan tanpa raga. Setiap hari aku berada di dalam tubuhmu.. Menjagamu.." kata nya.
"Siapa namamu? " tanya ku.
"Panggil aku Renata"
Aku pun mengangguk. Dia tersenyum kemudian memelukku.
Aku terkejut. Pelukan yang dingin namun terasa begitu hangat. Aku perlahan membalas pelukan nya.
"Jadi.. Kau yang membuat ku marah-marah tidak jelas pada Tama waktu itu? " tanyaku memastikan.
"Iya" dia melepaskan pelukannya dan menatap ku. "Itu karena aku sangat kesal pada suami brensekmu.. Jika aku jadi kamu, aku bakalan cicang dia yang udah berani merenggut kesucian kamu dan membuat kamu berpisah dengan Refa.. Tapi kamu malah berbuat baik sama dia " kata Renata dengan ekspresi lucu.
Aku tertawa. "Kamu kalo marah kayak Mama" kata ku.
Dia hanya tersenyum geli.
"Tapi mulai sekarang kamu jangan bikin aku marah-marah lagi ya.. Kasian orang yang kena marah " kataku.
Renata tersenyum kemudian mengangguk. "Iya, maafin aku ya.. Aku gak akan mengendalikan tubuh kamu lagi kecuali kalo dalam keadaan bahaya seperti tadi.. Lagian aku jarang berada di dalam tubuh kamu.. Aku janji ga akan diam di tubuhmu lagi.. Aku akan ada di sekitar mu mulai sekarang lagian aku bosan" katanya.
"Bosan kenapa? " tanyaku.
"Soalnya tubuh kamu sering di sentuh Tama.. Aku jadi makin kesel sama si Tama "
Aku yakin kedua pipi ku sudah memerah karena rasanya panas sekali.
"Tapi tenang saja, setiap dia mau menyentuh mu, aku sudah keluar dari tubuhmu" katanya.
Krekkk
Pintu kamar terbuka. Aku dan Renata menoleh ternyata Papa.
Dia terbelalak melihat keadaan ku. Aku melirik Renata.
"Apa Papa gak ngeliat kamu? " batin ku.
"Cuma kamu dan orang berkemampuan khusus yang bisa melihatku" jawab Renata.
"Meisa! " Papa memegang kedua lengan ku dan melihat sekujur tubuhku yang di penuhi bercak darah.
"Apa yang terjadi?! "
♡♥♡♥♡♥♡
By
__ADS_1
Ucu Irna Marhamah