
Dunia Abyss, Daratan Kosong.
Saat ini terdapat seorang pria yang tengah duduk di sebuah kursi yang terbentuk dari akar berwarna hitam. Dia bernama Riu, dia memiliki sebutan Sang Penghancur karena suka menghancurkan apa yang dilihatnya. Sepak terjangnya yang selalu mengacau dimana-mana membuat dia dibenci oleh banyak orang. Segala cara telah dilakukan, tapi tidak ada yang mampu menghentikannya.
Kelakuannya itu menjadikannya sebagai buronan yang paling dicari di dunia Abyss. Tidak ada seorang pun yang mampu menaklukannya, sebab Riu akan mencari terlebih dahulu orang yang mencarinya lalu membunuhnya. Pada akhirnya mereka semua membuat kesepakatan mengesampingkan segala permasalahan pribadi dan bersatu untuk menghabisi si psikopat sinting tersebut.
Daratan kosong tiba-tiba terasa sedikit berguncang. Riu melirik ke sebuah kerikil yang terlihat bergerak, “Akhirnya….” Gumamnya.
Getaran itu semakin lama semakin terasa hingga sebuah suara gemuruh langkah kaki terdengar jelas di telinga. Namun, tak lama kemudian suara gemuruh itu berhenti yang membuat kesunyian menyertai tempat tersebut.
Tanpa menoleh ke belakang pun Riu sudah tau, jika di belakangnya saat ini terdapat banyak sekali kultivator yang sama sekali tidak menyembunyikan aura pembunuh mereka.
Riu tersenyum sejenak lalu berdiri dari kursinya, kursi tersebut hancur menjadi sekumpulan kapas berwarna hitam yang terbang tertiup angin. Riu membalikan badannya hingga sosoknya terlihat jelas di mata semua orang, sosok yang menyebabkan kekacauan dimana-mana, sosok yang membuat mereka bermimpi buruk, sosok yang tidak akan mereka lupakan sepanjang masa.
Riu sang penghancur, orang yang tidak mempunyai ambisi ataupun tujuan hidup, kehidupannya selalu mengikuti bisikan hati. Kehancuran yang selalu dia dambakan, kesenangan yang selalu membuat nyawa bergelimpangan, baginya kekacauan adalah hiasan, nyawa adalah pemanis, darah adalah penyegar.
Riu merenggangkan tubuhnya mencoba untuk merilekskan otot-ototnya yang terasa kaku, “Hoammmmm… hampir saja aku mati kebosanan…”
Tatapan mereka seakan-akan dapat mencabik orang, tapi dengan gagahnya Riu menatap mereka semua tanpa merasa takut sedikitpun. Daratan yang awalnya kosong tanpa adanya kehidupan sekarang dipenuhi oleh manusia yang membentang luas seisi daratan.
“Itu mata bisa santai sedikit gak? Mau kucabut bola mata kalian?"
Mereka semua yang mendengar itu tersentak, mereka lupa bahwa yang akan mereka hadapi nanti merupakan orang terkuat di seluruh dunia Abyss.
Mereka yang lemah tentu langsung menunduk takut, tapi bagi mereka yang kuat terutama para pemimpin tentu saja hanya menganggap ucapan Riu sebagai angin lalu, sebab mereka sudah mengenal Riu lebih baik daripada siapapun dan juga harga diri mereka dipertaruhkan dalam hal ini.
Riu tersenyum puas, tapi tak lama kemudian ekspresi wajahnya berubah menjadi serius, "Jadi ini pilihan kalian?"
Salah satu pemimpin musuh menyahuti, “Kau tidak memberi kami pilihan lain, andai saja kau tidak bertingkah maka kami juga tidak akan menempuh jalan ini, Riu!”
Riu yang mendengar ucapan itu cekikikan, “Ya ya ya… terserah kau mau ngoceh apa," Matanya menyapu ke depan, "Dan untuk apa juga kalian membawa semut-semut lemah seperti ini?" Tangan Riu menunjuk ke depan lalu melanjutkan perkataannya, "Apa kalian pikir hanya dengan jumlah kalian semua bisa mengalahkanku?”
Hening, melihat kepercayaan diri yang Riu tunjukan membuat mereka sedikit ragu, tapi jika dipikir-pikir lagi tidakkah kepercayaan diri yang berlebihan itu merupakan kesombongan? Sekuat apapun seekor gajah jika dihadapkan dengan koloni semut pada akhirnya akan kalah juga.
“Jangan sombong kau Riu! Meskipun kau itu sangat kuat, tapi kau sendiri saja tidak akan bisa melawan kami semua!” Teriak salah satu orang yang entah siapa diikuti dengan suara teriakan yang lainnya sambil mengangkat senjata.
“Biar kuberi tahu satu hal. Kekuatan yang kumiliki bukanlah sesuatu yang dapat kalian ukur, kekuatanku bukan seperti sebuah kotak yang memiliki sudut sebagai hambatan, bukan pula seperti sebuah garis yang selalu memiliki ujung..."
Riu mengepalkan tangannya lalu melanjutkan perkataannya, "Kekuatanku ini layaknya sebuah lingkaran yang tak memiliki ujung ataupun sudut dan akan terus melebar tanpa ada yang bisa menghentikan! Aku bukanlah seseorang yang dapat kalian kalahkan hanya dengan bermodalkan jumlah kalian semua!"
Tidak bisa dipungkiri lagi jika kesombongan pada diri Riu melebihi siapapun, kepercayaan dirinya itu selalu dapat menggetarkan hati seseorang.
Melihat semua orang yang terpana akan perkataanya membuat Riu cekikikan, "Hahaha, lihatlah ekspresi kalian sekarang... eh, tapi ada baiknya juga kalian berkumpul di sini, jadi sang penghancur ini tidak perlu repot-repot mencari kalian, tinggal sekali injak langsung kelar… hahaha!”
"Ka-kau terlalu sombong Riu! Orang sombong selalu berakhir mengerikan, apa kau tahu hal itu?!"
Tawa Riu berhenti, pandangannya mengarah ke depan dengan tajam, “Cukup sudah basa basinya, bukannya kita sudah harus memulai pesta ini?"
Riu menunjuk pedangnya ke depan, "Sini maju satu per satu atau maju semua sekaligus juga boleh...” Mata Riu berubah menjadi hitam diikuti dengan pedangnya yang mengeluarkan asap hitam.
“Akan kutunjukan pada kalian bagaimana cara mempreteli tubuh dengan benar!” Riu menyeringai seperti psikopat.
Ritme detak jantung mereka meningkat dengan sangat cepat, mereka semua mengambil nafas dalam-dalam, tangan mereka menggenggam erat senjata sekuat tenaga, hanya tinggal menunggu sebuah intruksi serangan maka mereka akan melangkah maju ke medan kematian.
Salah satu pemimpin musuh mengangkat pedangnya ke atas, diikuti dengan para pemimpin lainnya, “Harrrrrrgggghhhhhh… Serang dia!!!”
Bak air bah, mereka semua secara serentak melesat maju ke arah Riu dengan sangat cepat.
“Hahaha, sini kalian para semut!” Teriak Riu seraya melesat maju ke arah kerumunan musuh di depannya.
Pertempuran besar itu tak terhindarkan lagi, ledakan demi ledakan, tebasan demi tebasan terdengar jelas di telinga semua orang di sana. Pertarungan maha dahsyat itu membuat tanah bergetar hebat, langit pun menjadi gelap karenanya, jika dilihat dari langit maka pertarungan itu seperti sebuah meteor jatuh yang memborbardir semua hal di sekitarnya.
Riu seolah tidak mendengar apapun, dia terus menerjang musuh di sekelilingnya, tidak peduli musuh itu memohon ampun atau sampai menangis darah sekalipun dia tidak akan pernah melepaskan mereka, semakin mereka berteriak, maka semakin semangatlah dia membunuh mereka semua.
__ADS_1
“Serang dia!! Jangan kasih celah sedikitpun!" Teriak salah satu pemimpin musuh dengan sangat keras.
“Celah apanya?! Yang ada Dia yang tidak memberikan celah pada kita sama sekali sialan!” Pemimpin yang lain menyahutinya dengan kesal, sebab dia sendiri kewalahan menghindari serangan Riu yang nyasar ke sana sini.
"Kalian berdua! berhenti berdebat dan fokus-" Ucapannya terhenti, sebab serangan Riu mengenai kedua orang tersebut dan langsung menghancurkan tubuh mereka seketika, tentu saja melihat pemandangan mengerikan seperti itu membuatnya merinding bukan main.
Siang berganti malam, pertempuran antara aliansi kultivator melawan satu mahluk brutal bernama Riu masih belum berhenti. Pertempuran itu semakin lama semakin besar, mereka berpindah-pindah tempat dengan sangat cepat, langit pun tak luput menjadi tempat pertempuran mereka, bahkan awan-awan sampai terlihat berlubang akibat terkena imbas pertempuran mereka.
Perasaan takut mulai menyelimuti mereka karena kebanyakan dari teman mereka mati akibat kehabisan darah, sebab Riu dengan sengaja tidak menyerang titik vital dan menargetkan kaki, tangan, serta bagian perut yang membuat mereka pendarahan hebat.
Dengan tangan kanan yang menggenggam sebilah pedang, Riu membabat semua musuh di hadapannya tanpa ragu sedikitpun, sedangkan tangan kirinya mengeluarkan jurus-jurus yang daya hancurnya sangatlah besar.
Sebuah serangan mendarat mulus dipunggung Riu, hal ini membuatnya murka. Riu mengalirkan Qi ke pedangnya lalu menebaskan pedangnya memutar 360 derajat hingga membuat tubuh musuh yang berada dalam jarak serangannya terbelah menjadi 2 bagian.
Auranya meluap-luap, nafasnya memburu hebat yang membuat semua musuh tidak ada yang berani mendekatinya, “Kalian semut-semut sialan, kupastikan semua urat saraf di tubuh kalian putus-… bukan, akan kubongkar tubuh kalian semua!” Riu menciptakan bom Qi di tangannya.
Badan mereka bergetar hebat seraya menelan ludah saat mata mereka melihat ke arah bom Qi di tangan Riu yang semakin lama semakin besar hingga menutupi cahaya bulan.
Keheningan tercipta, keputusasaan, ketidakberdayaan, serta ketakutan menyelimuti hati membuat mereka tidak mampu lagi untuk berdiri, senjata yang mereka genggam sangat erat sebelumya perlahan-lahan terlepas dan terjatuh, tubuh mereka seperti kehilangan seluruh energi dan menyisakan jiwa saja.
“Ji-jika ini mimpi, kuharap bangunkanlah diriku saat ini juga.”
Riu tertawa kecil, “Sayangnya ini bukanlah mimpi.”
Dentingan suara senjata yang berjatuhan terdengar menggema, keringat membanjiri seluruh tubuh, air mata keputusasaan menetes jatuh dari pelupuk mata. Mulut mereka hanya bisa menganga, jangankan berbicara, sekedar bersuara pun mereka sudah tidak mampu lagi.
“Kenapa diam?” Riu tersenyum sinis, “Akan kuhitung sampai 10, jadi mulailah berlari hingga kalian menyadari bahwa kematian adalah sesuatu yang tak bisa dihindari, hahaha!”
“Satu…”
“Dua…”
“Tiga…”
Riu yang melihat orang kocar kacir tidak bisa menyembunyikan perasaannya, “Sepuluh!”
Mereka menoleh ke belakang ternyata Bom Qi tersebut sedang menuju ke arah mereka dengan cepat.
“La-langsung sepuluh?!”
“Ternyata kita hanya dipermainkan olehnya, ha-ha-ha....”
Keinginan untuk hidup yang awalnya masih tersisa kini telah lenyap dan hanya menyisakan keputusasaan. Mereka hanya bisa pasrah ketika Bom Qi tersebut meledak dan menghancurkan seluruh tubuh mereka hingga tak tersisa meskipun sekedar abu jasad.
Kawah yang sangat lebar nan dalam terbentuk akibat ledakan itu serta menewaskan begitu banyak kultivator. Tak terhitung lagi berapa banyak dari mereka yang sampai terhempas ke udara karena tidak kuat menahan tekanan angin setelah ledakan bom Qi tersebut.
“I-ini kesempatan kita! Dia pasti menggunakan banyak Qi-nya untuk mengeluarkan jurus sehebat itu, serang dia!”
Sungguh tidak ada bedanya antara Riu dalam kondisi prima ataupun kehabisan Qi, tampang sangarnya saja sudah menjadi momok menakutkan bagi mereka, apalagi saat Riu tersenyum, jantung mereka seolah-olah berhenti berdetak. Namun, nasi sudah menjadi bubur, sudah tidak ada lagi kata mundur, mungkin itulah gambaran situasi mereka saat ini.
“Serang!!!”
Pertempuran terus berlanjut hingga tak terasa 3 hari telah berlalu, terlihat jika aliansi kultivator yang menyerang Riu hanya tersisa setengah dari jumlah sebelumnya. Sedangkan Riu sendiri masih dengan brutalnya membabat semua musuh di depannya tanpa merasa lelah sedikitpun, tapi segera menghentikan serangannya ketika melihat para pemimpin musuh yang menyerangnya memilih mundur.
“Hei, apa yang kalian lakukan di sana? Malah sembunyi di belakang? Apa kalian takut dengan sang penghancur ini hah?” Teriak Riu lantang hingga dapat terdengar oleh semua orang di sana.
Semakin lama perasaan takut mulai menggoyahkan hati mereka setelah melihat dengan mata kepala mereka sendiri kekuatan dan kebrutalan yang Riu tunjukan, apalagi melihat tampang Riu sekarang yang bermandikan darah menambah kesan mengerikan tersendiri bagi mereka.
“Lihatlah pemimpin-pemimpin kalian para semut-semut bodoh, semua pemimpin kalian sangatlah pengecut, hahahaha!” Riu yang memang memiliki mulut super pedas mencoba memprovokasi.
Mereka semua menoleh ke belakang untuk memastikan apa yang diucapkan Riu benar atau tidak, tapi nampaknya apa yang diucapkan Riu adalah kebenaran, karena saat ini pemimpin mereka berada di belakang seperti pecundang, bahkan dari jarak jauh sekalipun mereka dapat dengan jelas melihat ekspresi ketakutan yang tergambar di wajah para pemimpin mereka.
“Sial, dia sangat kuat, aku tidak menyangka jika dia sekuat ini!”
__ADS_1
“Ck, jika kita mundur maka usaha kita akan sia-sia, kita sudah mengorbankan banyak kultivator hanya untuk membunuh manusia gila itu, bahkan seluruh anggota sekteku sudah lenyap akibat ledakan kemarin!”
“Sial sial sial! kekuatan psikopat sinting itu berada di tingkatan berbeda dengan kita!”
Mereka berdiskusi untuk menentukan apa mereka akan kembali menyerang Riu ataukah mereka memilih mundur. Mereka semua tentu sekali ingin membunuh Riu, tapi kekuatan Riu sungguh di luar nalar mereka semua.
Riu melemparkan pedangnya ke arah para pemimpin musuh hingga membuat mereka berhamburan. Debu-debu yang bertebaran perlahan tersapu oleh angin dan mulai menunjukan Riu yang entah bagaimana sudah berada di tengah-tengah mereka seraya menenteng pedang yang dia lemparkan sebelumnya.
Tatapan mata Riu yang sangat menusuk membuat mereka menggigil ketakutan. Saat kaki Riu melangkah maju secara serempak mereka semua melangkah mundur, begitu juga seterusnya hingga membuat jarak mereka dengan Riu tidak berubah sama sekali.
Riu yang melihat itu tertawa keras, "Hei… hei, kenapa? takut? ingin mundur?"
Ingin sekali mereka berkata iya tetapi tidak mungkin Riu akan melepaskan mereka setelah perbuatan mereka kepadanya. Pilihan mereka hanya satu yaitu membunuh atau dibunuh, karena jika Riu memenangkan pertempuran ini maka keluarga mereka akan menjadi target pembantaiannya.
“Ti-tidak ada pilihan lagi, se-serang!”
“Hahahaha, sini kalian!”
Pertempuran itu berlangsung sangat sengit, setiap Riu mengayunkan pedangnya ratusan nyawa melayang. Teriakan amarah, jeritan rasa sakit, tangisan menyayat hati yang menggema, darah bagaikan air yang mengalir, bagian tubuh para kultivator yang bertebaran menambah kesan brutal dalam pertempuran tersebut.
Pertempuran dahsyat itu mencapai puncaknya setelah 7 hari bertempur mati-matian dan hanya menyisakan 5 kultivator dan Riu seorang diri. Para kultivator yang masih hidup nampak terluka parah dan juga telah kehabisan tenaga, begitu juga Riu yang telah kehilangan salah satu penglihatannya, bahkan satu tangannya telah putus, nampaknya pertempuran yang berlangsung berhari-hari itu cukup untuk membuat kedua belah pihak mencapai batas.
Riu berdiri tepat di atas tumpukan mayat yang membukit sehingga membuat dirinya terlihat seolah-olah sang kematian itu sendiri, kehilangan satu lengan dan satu mata tidak membuatnya menyerah atau goyah, kegigihanlah yang membuatnya masih bertahan hingga saat ini.
Namun, kegigihan saja tidak cukup untuk membuatnya lolos dari situasi hidup dan mati saat ini dan Riu sadar akan hal itu, bahkan tangannya bergetar saat mengangkat pedang, tentu saja mereka semua menyadari jika dia hanya memaksakan diri saja.
“Kau sudah tamat, Riu! Jadi menyerahlah dan biarkan kami membunuhmu!” Teriak salah satu dari mereka diikuti gelak tawa kultivator lainnya.
Riu melirik ke bawah sambil menaikan salah satu alis matanya, “Kau itu… ngoceh apa sih? bikin telinga sakit saja, jika kau mampu kemarilah dan bunuhlah sang penghancur in-“ Riu batuk darah, hampir saja dia roboh karena luka-lukanya, tapi tentu saja dia tidak akan pernah mengizinkan dirinya untuk tumbang.
Melihat Riu yang terlihat tak berdaya membuat mereka tersenyum, “Ini kesempatan kita! bunuh dia!”
Mereka langsung melesat maju menyerang Riu.
“Ah… sial….” Riu hanya diam tak bergeming saat pedang, tombak, serta pusaka lainnya menembus tubuhnya.
Seringai lebar terukir di wajah mereka, karena mereka pikir bahwa Riu telah tamat. Namun, tiba-tiba saja Riu mendongakan kepalanya yang membuat mereka seketika bergerak menjauh.
“A-apa dia mempunyai sembilan nyawa?! bagaimana dia masih bisa bergerak dengan semua senjata yang menancap di tubuhnya itu!?”
Mereka terkejut bukan main saat melihat Riu menatap kosong ke arah mereka, “Ukh... sudah kubilang..." Tangan Riu menunjuk ke depan lalu melanjutkan perkataannya, "Semut-semut seperti kalian tidak akan pernah bisa membunuhku…”
Riu yang mulai kehilangan kesadarannya dengan gilanya menggigit lidahnya sendiri, “Apa kalian tahu alasan mengapa diriku masih bisa berdiri sampai sekarang?” Tanya Riu dengan suara pelan tetapi dapat terdengar jelas di telinga mereka.
Riu menancapkan pedangnya ke tubuh mayat lalu menggenggamnya dengan erat, “Tidak ada satupun dari kalian yang bisa menyabut nyawaku, tidak akan pernah! karena akulah sang penghancur!”
Tubuh Riu memancarkan cahaya terang hingga membuat mata mereka semua silau lalu meledak yang membuat mereka semua terpental keras bersama dengan mayat-mayat yang berhamburan tak tentu arah, tapi tidak ada satupun dari mereka yang mati akibat ledakan tersebut.
“Sial! Dimana dia? Apa dia sudah mati?!”
“Entahlah, tapi aku sama sekali tidak merasakan tanda-tanda kehidupannya lagi.”
“Hah... hanya untuk membunuh 1 orang saja kita hampir saja punah."
“Dari begitu banyak orang yang kita bawa pada akhirnya yang tersisa hanya kita berlima, memang sebuah ide gila untuk mengatasi orang gila."
“Pada akhirnya sampai mati dia tetap tidak merelakan dirinya terbunuh dan lebih memilih meledakan diri, walaupun aku membencinya tetapi aku sungguh kagum dengan pendiriannya."
Riu menghilang setelah ledakan itu dan hanya menyisakan pedangnya yang telah patah menjadi 2 bagian. Tumpukan mayat yang menggunung akhirnya dibakar karena jika dibiarkan terlalu lama akan membusuk yang pada akhirnya akan menimbulkan penyakit dan juga tidak mungkin bagi mereka untuk menguburkan mereka satu per satu, bisa-bisa memakan waktu berbulan-bulan lamanya.
Riu berhasil mengukir sejarah sebagai Legenda Sang Penghancur dan menciptakan sebuah trauma yang mendalam bagi mereka yang masih hidup.
Mereka yang masih hidup menandatangani perjanjian untuk menutupi segala sesuatu yang berhubungan dengan Riu dan bagi siapapun yang pernah menjalin ikatan dengannya akan dimusnahkan, hal ini semua dilakukan untuk memutuskan rantai-rantai yang akan menjadi penerus Riu selanjutnya.
__ADS_1