
Panitia memutuskan untuk menunda pertandingan dikarenakan arena yang digunakan sebagian besar rusak karena pertandingan Rey dan Qiao Feng sebelumnya.
Beberapa orang dikerahkan oleh panitia untuk memperbaiki arena, dan hanya dalam waktu 10 menit saja arena yang sebelumnya rusak kini sudah kembali seperti sedia kala, dan akhirnya panitia memutuskan untuk melanjutkan kembali pertandingan antar peserta.
Singkat cerita 80 pertandingan pun berlalu, dan jumlah peserta yang awalnya 125 kini menjadi 45 peserta saja, grup A tersisa 13 peserta, grup C 9 peserta, grup D 12 peserta, dan grup E 11 peserta, sedangkan grup B sama sekali tidak ada yang tersisa sebab semua pesertanya mengalami kekalahan.
“Baiklah, pertandingan selajutnya adalah Guoming dari grup A melawan Zenith dari grup C.”
Feng Qiuyu tersentak, dengan wajah cantiknya dia memberikan semangat yang dibalas anggukan oleh Zenith. Dengan perasaan gugup, Zenith melangkahkan kakinya maju menuju ke tengah arena, terlihat di depannya peserta bernama Guoming berdiri tegap dengan pandangan tajam yang mengarah kepadanya.
Sang wasit menjelaskan kembali tentang aturan pertandingan, “Bagi siapapun yang keluar dari garis pembatas akan dinyatakan kalah, menyerah juga akan dianggap sebagai kekalahan.”
Guoming dan Zenith mengangguk tanda mereka paham, sang wasit memberikan intruksi kepada mereka berdua untuk mundur mencapai sudut arena.
“Baiklah mulai!”
Baru saja wasit meneriakan kata mulai, tiba-tiba saja Guoming menyerang Zenith dengan ganas. Awalnya Zenith kuwalahan yang membuat lawannya semakin beringas, namun seiring waktu akhirnya dia bisa mengimbangi lawannya karena pola serangan yang digunakan oleh lawannya selalu sama, bahkan sesekali dia menyerang balik dengan pedangnya.
[Ctangggg!]
Pedang Zenith dan Guoming saling berbenturan yang menimbulkan percikan api diantaranya, tanpa diduga, tiba-tiba saja kaki Guoming menendang perut Zenith dengan sangat keras hingga terpental ke sudut arena.
“Ukh.. sial, andai saja kekuatannya sama denganku pasti sudah kuhabisi dia, tapi dia seorang kultivator tingkat Emas tahap awal.” Gumam Zentih seraya memegang perutnya yang terasa sakit setelah terkena tendangan lawannya.
Kekuatannya yang bagaikan langit dan bumi dengan lawannya membuatnya kesusahan, karena bagaimanapun lawannya itu berada dua tingkat lebih tinggi darinya, menghadapi lawan satu tingkat di atasnya saja sangat susah, apalagi dua tingkat? itu sangatlah mustahil, tapi tentu saja dia tidak ingin menyerah begitu saja hanya karena perbedaan tersebut.
“Ayo bangun, aku masih belum puas bermain-main denganmu.”
Ucapan Guoming membuat Zenith terkejut, apa lawannya barusan mengatakan hanya bermain-main dengannya? Jadi bagaimana jika dia serius? Hal itu membuatnya kehilangan semangat untuk bertarung.
“Jadi selama ini dia hanya main-main denganku? Hah, kurasa memang mustahil untuk menang dari lawan yang berada dua tingkat di atasku.” Batin Zentih yang sudah kehilangan minat bertarung.
Namun, tiba-tiba saja dia teringat akan perkataan Rey sebelumnya, ‘Saat bertemu musuh tidak usah banyak berpikir, tinggal tebas saja mereka sampai serentelan’, begitulah perkataan kawan gilanya itu yang kini tergiang-giang di pikirannya.
“Benar, jangan ragu ataupun takut, jika Rey saja mampu melawan musuh yang kekuatannya berkali-kali lipat di atasnya, lantas mengapa aku harus takut dengan lawanku yang kekuatannya hanya berada dua tingkat di atasku?” Batin Zenith seraya tersenyum cerah, akhirnya dia menemukan alasan untuk bertarung kembali.
__ADS_1
Dengan pedang dan pandangan mata tajam yang diarahkan kepada lawannya, Zenith langsung menyerang lawannya dengan ganas, tanpa memberikan jeda kepada lawannya, dia menyerang di titik vital musuh, hal itu membuat lawannya Guoming terkejut, dia tidak menyangka jika lawan yang sebelumnya hanya bisa dia permainkan kini malah menyerang dirinya dengan beringas layaknya setan kesurupan.
[Slashhhh!]
Pedang Zenith berhasil menebas perut lawannya dengan dalam, Guoming sendiri kini sedang memegangi perutnya yang mengeluarkan darah sangat banyak karena tebasan Zenith yang ternyata cukup dalam, bahkan hampir mengenai organ dalamnya.
“Cukup sudah bermain-mainnya!” Teriak Guoming seraya mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
Zenith menjadi waspada sebab aura disekitarnya kini berubah menjadi mencekam, dan benar saja, kini pedang lawannya berubah menjadi hitam, pedang hitam itu mengeluarkan aura yang sangat mengerikan, dia merasakan bahwa pedang itu bukanlah pedang biasa karena tidak mungkin sebuah senjata bisa berubah warna seperti itu.
Tak hanya Zenith saja yang merasakan hawa mencekam, namun semua penonton juga merasakannya juga, bahkan beberapa penonton yang mempunyai penyakit asma sekarang malah selangapan karena merasakan sesak nafas.
“Pedang macam apa itu?!”
“Entahlah, tapi sepertinya aku pernah melihat pedang itu, jika tidak salah pedang itu..”
“Cepat katakan, jangan ngeggantung ceritanya sialan!”
“Ya sabar dong, jika tidak salah ingat, pedang itu adalah pedang Pembelah Cahaya yang digunakan Patriak Sekte Seribu Pedang.”
“Aku tidak menyangka jika anaknya ternyata dapat mengeluarkan kekuatan yang terdapat di pedang itu, tamat sudah bocah yang menjadi lawannya itu.”
“Kau benar, kekuatan pedang itu bukan main-main, sesuai dengan namanya pedang itu memang benar-benar dapat membelah cahaya.”
Di sisi lain, Zenith secara tidak sadar mengeluarkan aura gelapnya yang membuat Rey masih tak sadarkan diri tiba-tiba melototkan matanya. Namun, Rey tidak bertindak, sebab aura gelap yang dia rasakan ini masih samar-samar yang artinya Zenith masih memiliki kendali atas dirinya sendiri, tapi jika saja aura gelap itu semakin kental maka dia harus bertindak karena jika tidak maka akan ada korban jatuh, dia sih tidak peduli dengan semua orang itu, hanya saja dia tidak ingin sektenya didiskualifikasi atas kekacauan yang diperbuat Zenith.
Karena rasa penasaran yang begitu tinggi membuat Rey langsung pergi dari ruang penyembuhan tanpa peduli dengan tabib yang melotot ke arahnya. Setelah sampai di bangku penonton, dia melihat Zenith yang sedang bersiap-siap menghadapi serangan lawannya.
“Hoi bocah! Ingatlah, TETAPLAH BERADA DI JALAN SETAN!” Teriak Rey dengan keras sampai-sampai membuat semua penonton di arena terkejut bukan main, bahkan penonton yang tuli saja sampai ikutan terkejut karena mendengar teriakannya tersebut.
Zenith yang sedang bersiap-siap menerima serangan sampai terkejut mendengar teriakan Rey, dia tersenyum meskipun tidak tahu posisi kawannya itu dimana karena banyaknya penonton.
Tetua Fengyi yang kebetulan berada di dekat Rey langung menghampirinya, lalu memukul kepada bocah pembuat onar itu dan berkata, “Jangan berada di jalan setan bodoh!”
“Ouh.. benarkah?” Rey menggaruk pipinya pelan karena bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
Tetua Fengyi hanya menggelengkan kepalanya pelan, tetapi setelah beberapa saat kemudian matanya melotot karena ternyata bocah yang tadi hampir mokad kini berdiri di sampingnya tanpa ada luka sedikit pun. Tetua Fengyi melihat-lihat penonton di sekitarnya barang kali ada yang menyadari jika yang teriak barusan adalah Rey, tetapi ternyata orang-orang itu tidak ada yang menyadarinya.
Di sisi lain, Guoming dengan tangan yang menggenggam pedang hitamnya melirik ke arah Zenith dengan sinis.
“Ini adalah jurus terkuatku yang diajari langsung oleh ayahku sendiri, sesuai dengan nama pedangnya, jurus ini bernama Pedang Pembelah Cahaya.”
“Matilah!” Teriak Guoming keras seraya menebaskan pedangnya dengan sangat kuat, tebasannya itu menghasilkan sebuah aura gelap yang melesat dengan cepat ke arah Zenith.
Zenith mengalirkan semua Qi ke pedangnya, lalu menancapkan pedangnya tersebut ke lantai arena untuk bertahan, dia tidak menghindar sebab serangan lawannya itu memiliki jangkauan yang sangat luas, bahkan hampir separuh arena dilahapnya.
[Blarrrrrrrrr]
Zenith terpental sangat keras hingga keluar dari garis pembatas, sedangkan pedangnya kini hanya tinggal gagangnya saja, tapi anehnya tidak ada satupun luka ditubuhnya, sebab tanpa dia sadari bahwa aura gelap di tubuhnya keluar dan melahap aura gelap yang berasal dari tebasan Guoming tadi sebelum berhasil menyentuh tubuhnya.
“Pemenangnya adalah Guoming dari grup A.” Teriak wasit dengan sangat lantang.
Semua penonton bersorak keras, mereka bukan bersorak untuk Guoming melainkan bersorak kepada Zenith yang mampu menerima serangan mengerikan seperti tadi tanpa terluka sedikitpun.
Zenith sendiri tidak merasa malu sedikit pun atas kekalahannya itu melainkan merasa puas, karena bagaimanapun dia tidak mungkin bisa mengalahkan lawannya itu, yang membuatnya puas adalah mengenai dirinya yang mampu menerima serangan mengerikan tadi tanpa terluka sedikitpun.
“Gila, bocah itu dan bocah berambut putih sebelumnya memberikan kita kejutan, pertandingan mereka sangat-sangat gila!”
“Kau benar, aku sendiri sampai terkejut sebab setelah menerima serangan mengerikan seperti itu, bocah bernama Zenith itu masih bisa berdiri tanpa luka sedikitpun, memang benar-benar gila.”
Tetua Fengyi memaklumi kekalahan Zenith karena bagaimanapun kekuatan lawannya barusan di atasnya jauh, tapi yang membuatnya bingung adalah mengapa Zenith bisa menerima serangan lawannyq tanpa terluka sedikitpun, bahkan pedangnya saja sampai tinggal gagangnya saja, lantas bagaimana bisa badannya masih utuh pikirnya.
Sedangkan Rey samar-samar tersenyum, ternyata kekuatan gelap di tubuh Zenith memang benar-benar mirip seperti miliknya karena bisa melahap kekuatan gelap lainnya.
“Bocah itu harus aku latih untuk mengendalikan kekuatan gelapnya.” Batin Rey seraya meninggalkan arena untuk memulihkan diri.
Sebenarnya tubuhnya masih merasakan sakit yang sangat luar biasa karena efek samping penggunaan kekuatan kegelapan yang belum hilang sepenuhnya.
Karena hari sudah sore, akhirnya panitia memutuskan untuk melanjutkan pertandingan besok.
Semua orang meninggalkan arena dengan senyuman, sebab mereka menantikan pertandingan yang sangat menarik esok hari.
__ADS_1