Legenda Sang Penghancur

Legenda Sang Penghancur
Ch. 25 - Hukuman I


__ADS_3

Dua hari berlalu, terlihat keadaan Sekte Laut Biru kini telah kembali normal. Di dalam sebuah ruangan terdapat seorang murid yang sedang berdebat dengan gurunya, siapa lagi jika bukan bocah gila pembuat rusuh alias Rey.


Setelah kerusuhan yang Rey perbuat, membuat dia dihukum dan tidak diperbolehkan menjalankan misi sampai masa hukumannya selesai yaitu selama 1 minggu penuh. Karena itulah dia dengan terpaksa menuruti kemauan Patriak Mo dan semua Tetua disana untuk belajar tentang hal-hal manusiawi meskipun hidup di dunia yang penuh dengan amarah.


Seperti saat ini, Rey diharuskan mengikuti pelajaran tata krama selama satu hari penuh. Awalnya Rey masih baik-baik saja, bahkan masih tersenyum seolah-olah dia adalah murid teladan yang mendengarkan ocehan gurunya dengan baik.


“Hais, buat apa sih harus memakai tata krama saat bertemu orang? Jika mereka gak terima dengan sikap kita tinggal tebas sampai serentelan, udah kelar kan?” Ucap Rey santai yang membuat semua murid di sana terkejut, bahkan guru pengajar saja sampai tersedak dibuatnya.


“Diam!” Teriak Feng Qiuyu dan Zenith secara serempak yang berada disamping kanan kirinya.


Rey sebenarnya sangat kesal sekaligus marah, dikehidupannya yang lalu tidak ada satupun orang yang berani membentaknya, jangankan membentak berpapasan dengannya saja langsung modar kocar-kacir ke segala arah, bahkan orang lumpuh saja langsung bisa lari ketika bertemu dengannya.


Setengah jam berlalu, senyuman Rey telah sirna digantikan ekspresi bosan yang membuat siapapun yang melihatnya kesal, bahkan guru yang mengajar saja sejak tadi menahan emosi untuk tidak melempar meja kearah wajahnya.


“Salam sana… salam sini, hormat sana… hormat sini, hadeh.” Gerutu Rey yang sudah kesal sekaligus bosan karena diharuskan mendengar ocehan rohani gurunya.


Rey sudah dilanda kebosanan tingkat maksimal, dia bahkan lebih memilih tawuran daripada harus mendengarkan ceramahan yang tidak ada ujungnya seperti sekarang. Namun, tiba-tiba saja bibirnya tersenyum, sebuah senyuman yang mempunyai maksud tersembunyi.


Benar, Rey sekarang sedang memikirkan sebuah ide gila agar dirinya terbebas dari rasa bosannya yaitu dengan membakar kelas dengan api abadinya, tapi sayangnya niatnya itu diketahui oleh Feng Qiuyu dan Zenith.


“Mau apa kau?!” Ucap pelan Zenith dan Feng Qiuyu secara serempak. Jika Rey tersenyum, itu memiliki arti bahwa dia sedang memiliki sebuah pemikiran atau ide yang sangat buruk, karena itulah mereka menghentikan Rey sebelum dia bertindak sesuatu hal gila.


Rey hanya bisa mendengus kesal. Ia sangat ingin membakar semua orang di sana untuk menghilangkan rasa bosannya, namun lagi-lagi rencananya digagalkan oleh kedua bocah tersebut. Akhirnya ia dengan sangat terpaksa harus mendengarkan kembali ocehan rohani yang membuat setan gila di dalam dirinya harus pasrah jika nantinya tobat menjadi setan waras.


Flashback


Setelah sadar dari pingsannya kemarin, Zenith diminta oleh Patriak Mo untuk bertemu di ruangannya setelah dirinya membaik. Namun, karena kondisi tubuhnya memang tidak apa-apa hanya sedikit sakit di bagian pipinya, jadi dia langsung menuju ke ruangan Patriak Mo.


Setelah sampai, di sana terlihat Patriak Mo, Tetua Fengyi dan Feng Qiuyu. Ia lantas langsung bertanya maksud dirinya dipanggil, tapi sebelum pertanyaannya dijawab ia terlebih dahulu disuruh duduk.

__ADS_1


“Jadi gini, kau ku panggil ke sini untuk memintamu bersama dia untuk mengawasi Rey si bocah gila itu.” Ucap Patriak Mo seraya menunjuk kearah Feng Qiuyu.


“Maksud Patriak saya harus mengawasi Rey bersama dengan Feng Qiuyu?”


Patriak Mo dan Tetua Fengyi tersentak karena Zenith yang mengetahui tentang Feng Qiuyu, karena memang Feng Qiuyu sama sekali belum menjalankan kegiatan di Sekte Laut Biru karena dia sedang sebelumnya sedang mengikuti kompetisi di dalam klannya.


“Jadi kau sudah mengenal Feng Qiuyu? Dia adalah anak dari Tetua Fengyi.” Ucap Patriak Mo


“Oh, itu karena sebelumnya aku pernah mendengar namanya di panggil saat test ujian sebelumnya.” Jelas Zenith.


“Benar Ayah, aku dan dia juga bertemu saat di bagian administrasi.” Ucap Feng Qiuyu.


Zenith yang belum mengetahui tujuan dari dirinya yang diminta mengawasi Rey akhirnya bertanya kepada Patriak Mo. “Jadi mengapa saya harus mengawasi Rey Patriak?”


Patriak Mo tersentak, ia tidak tahu harus menjawab apa karena tidak mungkin baginya untuk menceritakan tentang Rey yang membuat kekacauan kemarin, karena sebelumya Rey sudah menjelaskan kepadanya tentang kondisi Zenith yang tidak akan mengingat apapun setelah sadar.


Perkataan Rey ternyata benar bahwa Zenith yang tidak akan mengingat apapun setelah sadar, terbukti jika dia yang tidak bertanya tentang kejadian sebelumnya, bahkan pipinya yang ditampar hingga giginya rontok saja tidak ingat.


“Baiklah, jika sudah mengerti maka kalian sudah boleh pergi.”


Mereka berdua berpamitan dan segera menuju ke kamar Rey dan Zenith. Setelah sampai di kamar, mereka berdua di kejutkan oleh Rey yang masih tidur, padahal sebentar lagi ada kelas tata krama. Tanpa mengucapkan apapun, mereka berdua langsung menyeret Rey menuju ke ruang kelas.


Dan disitulah mereka yang saat ini mengawasi Rey dengan ketat karena ternyata perkataan Patriak Mo tentang perilaku gila Rey memang benar, bahkan bocah yang sedang mereka awasi sejak tadi tidak henti-hentinya menggerutu sampai berdebat dengan guru pengajar.


Flashback selesai


12 jam sudah berlalu, kini ruangan tersebut hanya tersisa mereka bertiga, sedangkan para murid lainnya sudah pergi sejak 6 jam yang lalu. Feng Qiuyu dan Zenith sebenarnya sudah bisa keluar bersama para murid lainnya karena memang pelajaran tata krama selesai dalam waktu 6 jam saja, tapi karena mereka berdua saat ini sedang memiliki sebuah misi untuk mengawasi Rey, jadi mau tak mau mereka harus tetap di ruangan tersebut sampai pelajaran tambahan Rey selesai.


Rey memiliki perlakuan spesial yaitu mengharuskannya untuk mengikuti pembelajaran apapun dalam waktu 12 jam penuh, karena itu merupakan hukumannya akibat telah membuat kerusuhan di Sekte.

__ADS_1


Namun, nampaknya Rey sudah tidak kuat lagi mendengarkan ocehan guru di depannya yang sejak tadi membicarakan tentang hal-hal kebaikan, bahkan ia tadi diharuskan menghafal 200 peraturan Sekte Laut Biru, setelah itu dirinya harus menulis 200 peraturan tersebut di kertas.


Rey dapat dengan mudah menghafal semua itu, bahkan kedua kawannya dan guru tersebut sampai terkejut. Namun keterkejutan mereka segera bertambah ketika melihat tulisan Rey yang sangatlah buruk, bahkan bisa dibilang jika dibandingkan menulis dengan alis, maka tulisan menggunakan alis itu jauh lebih bagus dari pada hasil tulisan dari Rey.


“I-ini tulisan?!” Tanya guru tersebut yang nampak mengusap pelan matanya karena merasa bahwa tulisan di kertas yang sedang dipegangnya lebih mirip tulisan tangan setan daripada hasil tulisan tangan manusia.


“Ya tentu saja orang tua, kau tidak bisa membaca tulisan dari sang penghancur yang sangat agung ini?!” Ucap Rey lantang.


Feng Qiuyu dan Zenith sampai tertawa terpingkal-pingkal karena melihat tulisan Rey yang sangatlah bobrok, bahkan kata bobrok sendiri lebih baik daripada tulisan Rey yang bisa disebut sebagai tulisan yang sangat mengerikan karena sama sekali tidak bisa dibaca.


“I-ini, apa kau bisa membacanya?!" Guru tersebut menyerahkan kembali hasil tulisan Rey.


“Tentu saja bisa.” Rey terlihat sangat percaya diri mengenai tulisannya.


Hening… Ekspresi wajah Rey sangatlah buruk, dia sepertinya sangat malu karena ternyata tulisannya bahkan tidak bisa dibaca oleh dirinya sendiri.


“Ehm, tadi mataku kemasukan paku, karena itu aku tidak bisa membacanya sekarang.” Rey beralasan aneh yang tentunya untuk menyembunyikan rasa malunya.


Melihat Rey yang tidak bisa membaca tulisannya sendiri membuat mereka bertiga tertawa terpingkal-pingkal, bahkan penyakit asma Guru itu sampai kambuh.


“Aduh, hahaha!”


“Hahahaha!”


“Uhuk-uhuk, su-sudah, kalian berhe… hahaha.”


Mereka bertiga tidak berhentinya tertawa, sedangkan wajah Rey saat ini memerah karena malu sekaligus marah, dia ingin sekali menebas ketiga orang yang sedang menertawakannya. Namun, karena Rey saat ini sedang belajar mengendalikan emosi, jadi mau tak mau dia harus bisa menahan diri agar tidak membunuh siapapun.


Setelah puas tertawa, akhirnya Rey diperbolehkan untuk kembali ke kamarnya, karena hari sudah malam dan juga jam pelajaran telah selesai.

__ADS_1


Tanpa menunggu Zenith dan Feng Qiuyu, Rey langsung pergi dari ruangan tersebut tanpa berpamitan lebih dahulu kepada Gurunya.


__ADS_2