Legenda Sang Penghancur

Legenda Sang Penghancur
Ch. 4 - Kesan Pertama (Revisi)


__ADS_3

Rey memeggani bokongnya yang lumayan sakit setelah dibanting, “Sial, sepertinya tulang di bokongku retak.” Dia lantas melihat ke sekelilingnya yang ternyata dirinya tengah dikelilingi oleh begitu banyak perempuan muda yang dia duga merupakan murid Sekte Biru Laut.


Tanpa sengaja tatapan Rey bertemu dengan Patriak Mo. Patriak Mo lantas berjalan mendekati bocah yang telah dia banting tersebut. Semua murid perempuan di sana memberi hormat dengan cara menundukan kepala mereka, tapi tidak dengan Rey karena memang dia masih memendam dendam kesumat setelah tubuh mungilnya dibanting dengan sangat brutal.


“Apa kau baik-baik saja, bocah?” Patriak Mo bertanya dengan nada datar, bahkan ekspresi wajahnya terlihat sangat malas tanda memang dirinya sama sekali tidak peduli dengan keadaan bocah di depannya.


Rey yang melihat wajah datar orang tua di depannya kesal bukan main, “Baik-baik saja kau bilang!? Sini kubakar janggutmu itu!” Rey beranjak berdiri, tapi seketika dia memegangi punggungnya yang mengeluarkan bunyi retakan tulang, “Khekkk... sepertinya pungguku keseleo.”


Rey memaksakan dirinya untuk berdiri walaupun rasa sakit di punggungnya cukup mengganggunya, ingin sekali dia membuat wajah orang tua yang telah membantingnya tersebut rata. “Wajah tuamu itu membuatku muak, orang tua!” Dengan gilanya Rey melayangkan pukulannya, tapi karena punggungnya yang sakit membuat pukulannya dapat dengan mudah ditangkap oleh Patriak Mo.


Rey menarik-narik tangannya berusaha melepaskan diri dari cengkraman Patriak Mo, tapi usahanya sia-sia karena perbedaan kekuatan yang begitu jauh bagaikan langit dan bumi. Patriak Mo yang melihat tingkah bocah di depannya kecil tersenyum, “Bocah ini….”


Rey yang melihat senyuman orang tua di depannya tersentak, dia merasa ada yang salah dengan senyuman tersebut.


Krekkkk….


Rey hanya bisa melebarkan matanya ketika tangannya di cengkram keras oleh Patriak Mo, dia anti berteriak karena baginya semua itu hanya akan membuatnya nampak lemah. “Hanya ini saja kemampuanmu, orang tua? Rasanya hanya seperti digigit macan, kekekeke...” Rey tersenyum kecil walaupun ekspresinya terlihat sangat jelas bahwa dia tengah menahan sakit.


Rey yang memang otaknya sudah gila mencoba melawan, dia melompat lalu mengarahkan tendangannya ke arah wajah Patriak Mo, tapi sialnya sekali lagi serangannya tersebut dapat dengan mudah diatasi, malah sekarang kakinya juga ikut dicengkram.


Patriak Mo lantas melepaskan tangan Rey tapi tidak dengan cengkraman tangannya yang ada di kaki bocah tersebut. Dengan posisi badan terbalik dengan kaki di atas dan kepala di bawah, Rey berusaha menyerang Patriak Mo dengan tangannya seperti kucing.


“Lepaskan sialan! Atau kumasukan kau ke dalam perut ibumu lagi!” Rey mengucapkan sumpah serapah sambil berontak-rontak seperti orang kesurupan.


Semua orang di sana hanya bisa menahan nafasnya ketika melihat seorang bocah yang entah dari mana asalnya berani menyerang langsung Patriak Mo yang dimana mempunyai kekuatan luar biasa dan juga temperamental.

__ADS_1


Patriak Mo menaikan satu alisnya, dia cukup terkejut dengan tingkah bocah yang tengah dicengkramannya saat ini, “Tidak hanya tahan banting, tapi juga sangat sinting, kurasa memang benar aku memilih bocah ini.” Meskipun kagum dengan kemampuan bocah tersebut, tapi dia tentu tidak bisa membuat seorang bocah saraf menjadi muridnya, setidaknya dirinya harus menaklukannya atau membuatnya sedikit patuh, karena jika tidak dilakukan mungkin saja akan merepotkannya di masa depan.


Patriak Mo sedikit mengendurkan cengkramannya, “Bocah, aku akan melepaskanmu, tapi kau akan menjadi murid di sekteku ini, bagaimana?”


Mendengar hal itu membuat Rey berhenti memberontak, dia lantas memandang wajah orang tua di depannya, “Sekteku? Berarti kau merupakan Patriak Sekte Biru Laut ini bukan?” Patriak Mo mengangguk dengan mantap seperti bangga akan posisinya tersebut.


Rey menutup matanya seakan-akan dirinya sedang berpikri keras padahal tinggal jawab ya dan tidak saja sudah beres. Beberapa detik berlalu, Rey membuka matanya lalu terbentuk seringai di wajahnya, “Ingin menjadikan sang penghancur yang sangat agung ini menjadi murid?” Rey mengarahkan jari tengahnya lalu melanjutkan perkatannya, “Persetan! Mimpi saja sana, hahaha!”


Mendapat penghinaan dari bocah bau kencur di depannya membuat Patriak Mo kesal bukan main. “Sepertinya kau belum jera ya bocah? Akan kubuat kau menarik kembali kata-katamu itu!” Dengan brutal Patriak Mo kembali membanting tubuh Rey yang membuat semua murid perempuan di sana menutup mulutnya.


Lantai sekte yang terbuat dari beton sampai retak, bunyi yang dihasilkan dari benturan tubuh Rey dengan lantai tersebut pun kerasnya bukan main hingga membuat seluruh penghuni Sekte Biru Laut berkerumun di sana.


“Aish… bocah itu sepertinya tidak tahu mengenai Patriak Mo.”


“Digantung? Bahkan aku pernah diseret hanya karena bersin ketika pelatihan meditasi beberapa hari yang lalu.”


Namun, mereka semua menyadari jika ada yang salah dengan bocah yang tengah dibanting oleh Patriak Mo. Bocah itu sama sekali tidak berteriak, bahkan dia sama sekali tidak menutup matanya ketika tubuhnya dibanting seperti itu, bahkan dia masih bisa tersenyum seakan-akan ingin tubuh dibanting lebih keras.


Hampir setengah jam berlalu, Patriak Mo akhirnya kelelahan begitu juga dengan orang-orang di sana. Namun yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana seorang bocah yang sudah dibanting selama itu sama sekali tidak berteriak, tapi saat dilihat ternyata bocah tersebut sudah tak sadarkan diri dengan senyuman yang masih terukir di bibirnya.


“Buset… bocah ini masih bisa tersenyum meskipun tidak sadarkan diri? Sifat keras kepalanya ternyata sangat mirip denganku.” Sudut bibirnya sedikit melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman kecil.


Sesaat cengkraman pada kakinya di lepas, Rey tiba-tiba membuka matanya, “Hahaha, kena kau!” Dengan gila, dia langsung melayangkan pukulannya ke wajah Patriak Mo.


Pukulan tersebut dengan mulus mendarat di wajah Patriak Mo. Semua orang menahan nafasnya ketika melihat urat di leher dan wajah Patriak Mo menonjol keluar tanda dia benar-benar marah. Mereka semua berlarian tak tentu arah, tentunya mereka tidak ingin menjadi terkena amukan Patriak Mo yang bisa saja membuat mereka semau sekarat.

__ADS_1


Tetua Feng Yi masih berdiri di sana, dia nampak ragu untuk menghentikan Patriak Mo atatu tidak. Dia terlihat ingin sekali menghentikan keduanya, tapi ekspresi Patriak Mo yang garang membuat dirinya mengurungkan niatannya tersebut dan lebih memilih melarikan diri bersama orang-orang.


“Bodo amat, kalah belakangan.” Rey memasang kuda-kudanya bersiap untuk bertarung, "Sini kau orang tua! Kuratakan wajamu!" Tangannya menunjuk-nunjuk ke depan dengan angkuh.


Tiba-tiba Patriak Mo menghilang dan muncul tepat di depan Rey. Rey yang memiliki reflek tubuh yang sangat luar biasa langsung bergerak menjauh, tapi sebuah hantaman sangat keras mengenai kepalanya dari atas.


Boommm…


Tanah merekah, semua orang hanya bisa melototkan matanya saat melihat kepala bocah tersebut masuk ke dalam tanah menembus tebalnya lantai yang tebuat dari beton. Tetua Feng Yi hanya diam mengamati, karena dia tahu bahwa semarah apapun Patriak Mo, beliau tidak akan pernah membunuh orang yang membuatnya marah, paling parah mungkin hanya membuat hidungnya pindah ke pantat.


Namun itu semua berubah ketika Patriak Mo mengangkat kakinya hendak menginjak kepala Rey. Tetua Feng Yi dengan cepat langsung memegangi Patriak Mo, “Sudah-sudah, anak ini sudah anda banting berulang kali, jadi jangan diinjak kepalanya karena bisa-bisa mati dia.”


Mendengar ucapan Tetua Feng Yi membuat amarah Patriak Mo sedikit mereda, “Bocah gila ini memang membuat orang emosi, ingin sekali kucekik dia.” Geram Patriak Mo sambil mengepalkan tinjunya.


Tetua Feng Yi hanya bisa tersenyum masam menanggapinya. Dia lantas membubarkan semua orang dari sana, tentunya hal ini dia lakukan agar image Patriak Mo tidak semakin buruk, sebutan temperamental saja sudah cukup membuat orang tidak berani berurusan dengan Patriak Mo, apalagi kekuatan yang bisa dikatakan cukup kuat untuk bersanding dengan orang terkuat di kota.


Setelah sadar dengan kelakuannya membuat Patriak Mo panik, “Astaga, apa yang telah kulakukan!?” Dengan kasar dia menarik kaki bocah dihajarnya hingga kepalanya terbebas dari lantai. Betapa terkejutnya dia ketika melihat bocah tersebut masih dalam keadaan sadar, bahkan bocah itu masih sempat-sempatnya menyeringai walaupun wajanya sudah babak belur.


“Bo-bocah ini?” Walaupun emosi, tapi Patriak Mo tentu sadar jika dirinya melanjutkan aksi brutalnya mungkin saja bocah tersebut akan benar-benar tewas. “Andaikan saja kau bukan bocah, pasti aku akan dengan senang hati kupreteli tubuhmu itu, hmph!” Dengan kesal Patriak Mo melemparkan bocah tersebut ke Tetua Feng Yi, “Bawa bocah itu, obati atau buang saja sekalian itu terserahmu, tapi intinya jauhkan saja dia dari pandanganku, karena aku benar-benar ingin meremukan wajah mungil bocah biadab ini.”


Setelah mengatakan hal tersebut, Patriak Mo segera melangkah pergi dari tempat tersebut. Entah mungkin karena masih kesal atau apa, dia memarahi semua orang yang dilihatnya, bahkan kodok yang sedang numpang lewat di depannya pun dia tending hingga terbang entah kemana.


Tetua Feng Yi hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan Patriak Mo, tapi tak lama kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah bocah gila yang tengah terbaring di depannya. Tetua Feng Yi lantas memeriksa keadaan bocah di depannya yang ternyata sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri, itu wajar mengingat dia yang sudah menjadi samsak hidup Patriak Mo.


Melihat tubuh bocah di depannya yang sangat kotor membuat Tetua Feng Yi mengernyitkan dahi, “Hais… kotornya….” Dia lantas memanggil beberapa murid laki-laki untuk membawa Rey ke ruang pengobatan, karena memang dirinya sangat gila kebersihan, dia tidak akan segan-segan membakar seisi rumah jika ada seekor tikus lewat, bahkan dia pernah membakar rambut Patriak Mo hanya karena seekor kutu, tentunya hal ini sudah menjadi rahasia umum di Sekte Biru Laut.

__ADS_1


__ADS_2