
Semua murid di sana diam seribu bahasa, mereka malu pada diri sendiri karena Rey si bocah gila yang masih bau kencur ternyata lebih berani dari mereka semua, tapi itu semua tidak mengubah kenyataan bahwa diri mereka semua memang takut akan kematian.
Patriak Mo menghembuskan nafas pelan, bahkan terlihat jika semua Tetua yang ada di sana kecewa dengan murid-murid mereka, murid elit yang mereka banggakan ternyata tidak ada satu pun yang berani mengikuti turnamen tersebut alias pengecut.
Rey melihat semua murid di sana dengan tatapan menghina, dia yang masih bocil aja berani meskipun umur aslinya sudah melebihi batas tetapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa murid di Sektenya merupakan para pecundang yang sangat pengecut.
Rey merupakan murid termuda di Sekte Laut Biru karena umurnya yang masih 10 tahun, bahkan Zenith dan Feng Qiuyu sudah berumur 14 tahun.
Murid biasa umurnya berkisaran antara 12-15 tahun, sedangkan murid elit umurnya berkisaran antara 17-20 tahun. Rey, Zenith dan Feng Qiuyu adalah pengecualian karena mereka memiliki bakat tinggi, karena itulah mereka dimasukan ke dalam bagian murid elit.
Tiba-tiba saja di otak licik Rey terbesit sebuah ide gila.
“Kalian ini ternyata sangat pengecut ya? Pulang dan pakai popok lagi sana!” Rey berusaha memprovokasi semua murid di sana, tujuannya tak lain adalah agar dia memiliki anggota untuk mengikuti turnamen nantinya.
Patriak Mo ingin menghentikan Rey karena tidak ingin semangat murid Sektenya jadi luntur, tetapi dia dihentikan oleh Putranya Tetua Shen Xuan.
“Kenapa Shen?! Bocah gila itu bisa membuat putus asa semua murid nantinya.” Tanya Patriak Mo bingung.
“Biarkan saja, aku rasa bocah itu memiliki sebuah rencana.”
Akhirnya Patriak Mo dengan terpaksa menuruti perkataan Tetua Shen Xuan meskipun dia saat ini tengah dilanda kekhawatiran karena tidak ingin murid-muridnya menjadi putus asa akibat perkataan yang keluar dari mulut beracun Rey.
“Lihatlah diri kalian sendiri, sudah bongsor masih aja pengecut! Gak malu apa dengan umur kalian yang sudah tua itu?!”
“Apalagi kalian yang laki-laki, bagaimana kalian menyebut diri kalian sebagai seorang laki-laki? Apa kalian tidak malu? Jika aku jadi kalian pasti sudah kututupi wajahku dengan tembok, Jika perlu kalian pakai rok sana!”
Terlihat jika semua wajah murid di sana memerah, tentu saja mereka tak terima direndahkan oleh Rey.
Patriak Mo dan semua Tetua khawatir jika Rey akan menimbulkan keributan nantinya, kecuali Tetua Shen Xuan yang wajahnya sejak tadi masih tenang-tenang saja.
“Apa maksudmu para pria pengecut harus memakai rok?! Apa kau menyindir kami para murid perempuan?!” Teriak lantang salah satu murid elit perempuan, nampaknya dia tak terima dengan ucapan Rey yang menyindir perempuan.
Rey tersenyum sinis, “Oh tentu, kalian para wanita yang muda ataupun yang hampir mokad selalu menjadi beban bagi kami para pria! Dikit-dikit nangis, dikit-dikit ngambek, dikit-dikit marah, yang lebih parahnya lagi kalian itu lemah!”
Semua murid perempuan disana menundukan kepala, mereka semua membenarkan tentang ucapan Rey yang menganggap perempuan sebagai beban. Mereka memang mahluk cengeng, dan juga sangat lemah, tapi itu semua tidak menjadi patokan bahwa mereka tidak berguna.
__ADS_1
Semua murid laki-laki ataupun perempuan menatap Rey dengan tatapan tajam, nampaknya mereka semua memiliki pemikiran yang sama yaitu untuk membungkan mulut berbisa Rey.
“Kau tidak berhak berkata seperti itu kepada kami sialan! Aku ikut!”
“Benar, aku adalah pria, meskipun takut aku tidak akan melupakan tentang jati diriku sebagai seorang pria! Aku ikut!”
“Kami perempuan juga tidak selemah kalian para pria! Aku ikut!”
“Aku ikut!”
“Aku juga ikut!”
Semua murid yang awalnya tidak mau mengikuti kompetisi karena alasan takut tiba-tiba saja kini menyerukan kata ikut.
Rey melihat itu tersenyum puas, mulut beracunnya ini ternyata memang dapat diandalkan, tapi yang masih membuatnya bingung adalah bagaimana bisa Tetua Shen Xuan sama sekali tidak terpengaruh oleh mulut beracunnya? Itu masih menjadi pertanyaan baginya.
Menyingung tentang Tetua Shen Xuan, dia saat ini tengah tersenyum kecil hanya 0,1 milimeter saja, dia sungguh tidak menyangka bahwa pemikirannya tentang Rey yang akan memprovokasi semua murid ternyata benar.
Sedangkan Patriak Mo dan semua Tetua hanya bisa melototkan matanya saja, mereka tentu tidak menyangka bahwa mulut beracun Rey ternyata dapat mendorong mental semua murid.
Semua murid di sana menunjuk salah satu murid terbaik di kelasnya, terlihat ada sekitar 30 murid terbaik yang maju ke depan, lalu berdiri di samping Rey.
Rey menoleh ke samping kirinya yang ternyata adalah Zenith dan Feng Qiuyu, dia sudah menduga jika Zenith akan ditunjuk oleh murid di kelasnya, mungkin karena Zenith yang mengamuk sebelumnya jadi para siswa di kelasnya mengakui kekuatannya.
Namun, Rey tidak menyangka jika Feng Qiuyu adalah murid terbaik di kelasnya, tapi karena dia tidak tahu tentang Feng Qiuyu jadi dirinya hanya diam saja, karena bagaimanapun Feng Qiuyu berbeda kelas dengannya.
“Rey dan Zenith kalian tidak perlu dites lagi, karena kekuatan kalian berdua sudah kami ketahui.” Jelas Patriak Mo yang tentunya membuat semua orang di sana menelan ludah, mereka masih ingat bagaimana kedua bocah gila itu membuat Sekte mereka hampir musnah, apalagi si bocah gila alias Rey.
Sedangkan Tetua Shen Xuan merasa bingung, karena bagaimapun dia baru pulang dari misi kemarin sore, jadi dia tidak mengetahui tentang kekacauan yang ditimbulkan oleh Rey dan Zenith.
“Ayah, apa maksud kalian tentang mengetahui kekuatan kedua bocah itu?”
“Nanti Ayah ceritakan, tapi untuk sekarang kita fokus mengetes mereka.”
Akhirnya tes kelayakan pun dimulai, nampaknya tes tersebut hanya mengukur tingkat kekuatan dan juga pola pikir dengan cara memberikan beberapa pertanyaan yang tentunya berhubungan dengan bertahan hidup.
__ADS_1
1 jam berlalu, kini sudah terpilih 10 kandidat murid yang akan mengikuti kompetisi besok, diantara 10 kandidat terpilih itu terdapat Rey, Zenith, dan Feng Qiuyu.
Sebenarnya Yui termasuk murid terkuat, bahkan dia merupakan murid terkuat di Sekte Laut Biru. Namun, karena Patriak Mo tidak ingin anak perempuan satu-satunya itu terjadi apa-apa, jadi setiap kompetisi 5 tahunan ini akan diadakan dia selalu memberikan misi kepada Putrinya itu, tujuannya tak lain adalah agar Yui tidak mengetahui tentang turnamen tersebut.
“Untuk kalian murid-murid yang mengikuti turnamen harap segera menuju ke ruanganku. Baiklah, karena sudah selesai jadi kalian semua boleh bubar sekarang.”
Semua orang di sana segera bubar, sedangkan 10 murid yang terpilih tadi segera menuju ke ruangan Patriak Mo.
Setelah sampai mereka dibuat terkejut karena di depan mereka saat ini terjejer rapi bermacam-macam senjata tingkat tinggi.
“Kalian masing-masing ambilah salah satu senjata itu, pilihlah sesuai apa yang kalian kuasai.”
?!
“Ma-maksud Patriak senjata ini akan menjadi milik kami?!” Tanya Zenith tak percaya karena baru kali ini dirinya melihat senjata tingkat tinggi di depan matanya persis.
Tidak hanya Zenith bahkan semua murid itu terkejut, mereka semua tentu tidak menyangka jika hadiah yang diberikan Patriak Mo sangatlah mewah. Sedangkan ekspresi Rey sangatlah jelek, menurutnya senjata di depannya saat ini hanyalah sebuah rongsokan belaka.
“Benar, senjata ini memang dikhususkan bagi mereka yang akan mengikuti turnamen 5 tahunan ini, anggap saja ini adalah hadiah dari Sekte.” Ujar Patriak Mo yang membuat kesembilan murid tersebut girang bukan main.
Mereka semua segera mengambil masing-masing senjata tersebut. Zenith memilih tombak karena memang kemampuannya dalam menggunakan senjata tombak lebih baik daripada senjata pedang.
Patriak Mo melihat Rey yang ternyata belum bergerak dari tempatnya untuk mengambil senjata tersebut.
“Hoi bocah gila, apa kau tidak ingin senjata di depanmu?!”
Mendengar ucapan Patriak Mo mereka dengan serentak menoleh ke arah Rey.
“Senjata apanya? Ini adalah tumpukan rongsokan!” Ucap Rey kesal yang tentunya membuat semua orang di ruangan tersebut terkejut, bahkan cecak yang menempel di dinding terjatuh karena ikutan terkejut mendengar ucapan Rey.
“Rongsokan?! Kepalamu itu yang rongsokan! Bocah gila aku akan menghitung sampai 10, jika kau tidak segera mengambilnya maka akan aku akan menganggapmu tidak menginginkan senjata ini!” Wajah Patriak Mo terlihat memerah karena sejak tadi menahan emosi untuk tidak membuat Rey sekarat.
Rey dengan tidak tahu malunya langsung mengambil pedang di depannya. Menurut Rey lebih baik memiliki senjata bobrok daripada tidak mempunyai senjata sama sekali.
Tentu saja kelakuan Rey itu membuat semua orang di sana terkejut, bahkan Patriak Mo sendiri merasa bahwa seluruh tubuhnya lemas, dia sudah tidak tahu lagi bagaimana cara membuat agar kelakuan Rey menjadi normal seperti manusia pada umumnya.
__ADS_1
“Duhhhhh bocah setan! Semoga saja bocah ini dikejar siluman nantinya agar otaknya itu sadar!” Batin Patriak Mo geram.