Legenda Sang Penghancur

Legenda Sang Penghancur
Ch. 10 - Keributan


__ADS_3

Flashback


Rey yang sedang memeriksa tubuh Zenith tersentak karena mendengar pembicaraan antara dua orang yang sedang membicarakan dirinya.


“Siapa yang berani membicarakan sang penghancur ini?” Batin Rey.


Rey mengingat-ngingat suara kedua orang yang sedang membicarkan dirinya itu, karena sepertinya dia sama sekali tidak asing dengan kedua suara tersebut.


Rey memang memiliki pendengaran yang sangat tajam, bahkan ia bisa memisahkan antara suara satu dengan suara lainnya. Rey bisa membedakan sebuah suara seseorang meskipun orang itu berada di tempat keramaian sekalipun.


Setelah berpikir agak lama akhirnya Rey menemukan ciri khas seseorang dengan suara tersebut, dengan segera dirinya keluar dari kamar untuk mencari asal sumber kedua suara tersebut.


Rey tidak peduli dengan dirinya yang tengah ditatap oleh seluruh orang yang dilewatinya, ia lebih memilih untuk fokus mencari kedua suara yang tengah membicarakan dirinya tersebut.


Namun hanya dalam beberapa saat saja Rey akhirnya menemukan asal sumber kedua suara itu, yang ternyata berada di sebuah bangunan yang ternyata tidak jauh dari kamarnya.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Rey segera masuk ke dalam bangunan tersebut. Setelah masuk, ia melihat Patriak Mo dan Tetua Fengyi yang ternyata memang sedang membicarakan dirinya.


“Apel?!” Rey tersentak kala melihat buah apel yang terlihat sangat segar di sebuah meja di depannya.


Rey dengan cepat langsung mengambil buah apel tersebut, sebelum memakannya ia terlebih dahulu duduk agar terlihat seperti orang sopan.


“Ahh, apel ini sungguh sangat manis…” Batin Rey.


Rey nampaknya sangat menyukai apel manis yang tengah dimakannya, sampai-sampai kini tinggal tersisa satu buah saja.


“Ck, dua orang tua udik ini ternyata berniat mencampuri urusanku, hm…”


Rey akhirnya memilih untuk membuka suara karena dirinya nampaknya penyebab masalah di Sekte Laut Biru.


“Tidak usah repot-repot membantuku, sang penghancur ini tidak suka jika orang lain mencampuri permasalahannya”


Flashback selesai


**


Yui yang baru saja pulang setelah menyelesaikan misi yang diberikan Sekte kepadanya sangat terkejut, karena saat ini Ayahnya dan Rey terlihat saling mencengkram masing-masing wajah diantara mereka, bahkan Tetua Fengyi yang terkenal dengan sifat dingin dan cueknya juga ikut-ikutan adu fisik bersama mereka.


“Ada apa ini?!”

__ADS_1


Mereka bertiga terkejut mendengar suara yang mereka kenal, secara serempak mereka bertiga menoleh kearah pintu, ternyata yang berbicara barusan adalah Yui yang kini sedang menatap tajam kearah mereka bertiga.


“Ayah apa yang kau sedang lakukan?!” Tanya Yui sambil menatap tajam Ayahnya Patriak Mo.


Mendengar itu Rey secara spontan mendorong wajah Patriak Mo dengan keras sampai terjungkal. Ia langsung mendekati Yui dengan ekspresi yang datar, tapi tidak dengan hatinya yang kini tengah berbunga-bunga.


“Yui, aku tidak tahu mengapa diriku ini sangat menyukaimu, kau membuat jantungku berdebar hanya karena melihatmu, dan itu sungguh menggangguku” Ucap Rey sambil membelai pelan pipi Yui.


Patriak Mo yang merupakan ayah dari Yui tak terima jika Putri cantiknya disentuh oleh bocah gila alias Rey. Dengan segera ia menempeleng kepala Rey sampai kepelanting menembus tembok kamar Yui.


[Plakkkkkkkk]


[Bummmmm]


“Bapak anak sama saja… Sama-sama jan*ok” Teriak Rey dari dalam kamar, yang dimana saat ini separuh tubuhnya nyangkut di dalam tembok.


Tentu saja Rey kesal dengan tingkah laku Ayah dan anak tersebut, dia sudah 2 kali ditampar sampai menembus tembok. Pertama, hanya karena memandang wajah Yui, dia sampai ditampar hingga terpelanting menembus tembok. Kedua, hanya karena membelai pelan pipi Yui, dia kembali ditampar lagi hingga menembus tembok.


“Woi, bantu aku sialan! Kepalaku nyangkut nih”


Patriak Mo dan Tetua Fengyi hanya diam saja, mereka berdua tentu tidak ingin membantu bocah gila yang sudah membuat kekacauan. Sedangkan Yui yang awalnya terbengong karena tingkah Rey yang membelai pipinya akhirnya masuk ke dalam kamarnya untuk membantu Rey.


“Em… Ini aku Yui” Ucap Yui dengan pelan.


Rey yang mendengar suara indah dan merdu itu langsung berhenti berteriak.


“Ehem, Yui bisa kau bantu diriku keluar dari sini?”


“Baiklah..”


Yui menarik kedua kaki Rey dengan keras, sampai-sampai celana Rey terlepas bersamaan dengan terbebasnya Rey.


Yui yang tidak bisa menjaga keseimbangannya akhirnya terjatuh dengan posisi Rey yang ada diatasnya. Sedangkan Rey yang berada di atas tubuh Yui tidak bisa untuk tidak gugup, kepalanya saat ini berada ditengah gunung kembar besar dan indah milik Yui.


“Kyaaaaaa!”


Yui berteriak sangat kencang sampai membuat Patriak Mo dan Tetua Fengyi masuk kedalam karena takut terjadi apa-apa pada Yui.


Namun betapa terkejutnya mereka melihat Rey yang kini tidak memakai celana dalam posisi menindihi tubuh Yui.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan dasar bocah setan?!”


“Berani sekali kau melecehkan Putriku!!!”


Patriak Mo tentu saja marah melihat putrinya di lecehkan oleh Rey, meskipun yang kejadian yang sebenarnya bukan seperti yang ia lihat.


“Tunggu Ayah, ini bukan seperti yang kau lihat!” Ucap Yui yang bermaksud menghentikan Ayahnya untuk tidak berbuat nekat kepada Rey.


“R-Rey bisa kau menyingkir dari atas tubuhku?!”


Rey sampai tak sadar jika dirinya ternyata masih diberada di atas tubuh Yui, dengan segera ia berdiri dari atas tubuh Yui.


“Ukhhhhh…” Putri Yui menutup matanya karena melihat Pilar Surgawi milik Rey yang ternyata cukup besar tidak sesuai dengan usianya yang masih 10 tahun, sampai-sampai ia tidak sadar bahwa yang dibuat menutup matanya adalah celana milik Rey.


“Mana celanamu bocah sialan?! Mau ku tebas benda busukmu itu?!” Teriak marah Patriak Mo.


“Apa kau buta orang tua? Kau tidak lihat celanaku yang dipegang oleh putrimu itu?!” Ucap Rey kesal.


Patriak Mo tersentak, ia melihat kearah Yui yang masih dalam posisi berbaring memegang celana Rey di wajahnya.


“Yui, apa yang kau lakukan?! Kenapa kau menutupi wajahmu dengan celana bobrok bocah gila ini?!”


Yui terkejut, ternyata kain yang tengah dipegangnya tak lain adalah celana milik Rey. Ia segera melempar celana tersebut kearah Rey dan segera pergi dari situ.


“Berani sekali kau menatap tubuh putriku, mau ku cabut matamu itu?!” Ucap Patriak Mo kesal.


“Matamu duluan yang kucabut sialan!” Sahut Rey. Tentu saja dirinya tak terima di tuduh menatap tubuh Yui, padahal dia hanya menatap lurus ke depan saja yang kebetulan juga Yui ada di depannya.


“Apa?!” Teriak Patriak Mo marah, bahkan kini terlihat jika wajahnya berwarna kemerahan karena sejak tadi emosinya meluap-luap.


Sedangkan Tetua Fengyi yang sejak tadi diam saja kini mulai ikut berbicara juga, ia tentu sangat jengah dengan kedua orang yang sejak tadi tak henti-hentinya ribut.


“Sudah-sudah, kalian ini sejak tadi ribut terus”


“Dan kau Rey, cepat pakai celanamu itu, setelah itu kita akan membahas tentang masalah yang kau buat” Ucap Tetua Fengyi.


Saat Rey sedang memakai celananya, tiba-tiba saja terdengar teriakan yang sangat keras dari luar.


“SIAPA YANG TELAH BERANI MELUKAI PUTRAKU!”

__ADS_1


__ADS_2