
Yui masih menangis tetapi tidak mengeluarkan suara sedikitpun, hanya air matanya saja yang keluar membasahi pipinya tersebut. Ibu Rey tidak tahu harus berbuat apa, karena baru saja dirinya tinggal sebentar untuk menyiapkan minuman, entah karena apa Yui tiba-tiba menangis.
“Rey… Kau apakan dia?” Ibu Rey bertanya pada putranya karena hanya putranya sajalah yang bersama Yui, dia tidak menuduh Rey karena bagaimanapun putranya itu masihlah seorang bocah yang tidak mungkin membuat seorang wanita dewasa menangis.
Rey nampaknya masih larut dalam pikirannya, ia kini sedang berkonsentrasi dengan keras, karena itulah ia tidak mendengar perkataan ibunya. Sedangkan Yui yang melihat Rey tidak peduli dengannya membuatnya menangis sejadi-jadinya, tangisan yang awalnya hening kini berubah menjadi isakan.
“Uhhh…hiks…hiks…”
Ibu Rey semakin bingung, kenapa tangisan Yui semakin keras setelah melihat kearah putranya? Dengan segera ia menepuk Pundak Rey karena putranya tersebut sejak tadi hanya diam, bahkan tidak menyahuti pertanyaannya.
Rey yang merasakan ada yang menyentuh pundaknya langsung kehilangan konsentrasinya, dengan segera dia melihat siapa yang telah berani menyentuh pundaknya.
“Fuhhh, ternyata ibu… Untung saja tidak langsung emosi…. Bagus Rey jangan sampai emosimu membuatmu buta” Batin Rey sambil menenangkan dirinya, dia sangat benci diganggu ketika dirinya sedang berpikir, untung saja tadi dia menoleh terlebih dahulu, jika tidak mungkin kepala ibunya kini sudah pecah.
“Ada apa bu?” Tanya Rey yang seakan tidak menyadari Yui yang sedang menangis di dalam pelukan ibunya.
“Ada apa kau bilang?! Ini anak orang kau buat apa sampai menangis begini?!” Ucap Ibu Rey penuh penekanan, ia tidak bisa berfikir mengapa putranya bisa setenang ini melihat perempuan secantik Yui menangis tepat di depan matanya. Meskipun putranya itu masih bocah seharusnya dia masihlah seorang pria normal yang akan tersentuh hatinya ketika melihat perempuan menangis, tidak peduli perempuan itu dewasa atau tidak.
Rey yang mendengar perkataan ibunya menjadi bingung, ia tidak menyakiti Yui sedikitpun, bahkan ia saja sejak tadi hanya diam tak melakukan apapun, lantas mengapa ibunya menuduh dirinya.
“Apa karena tampangku? Bukannya wajahku sekarang sudah berubah gak seseram dulu ya?” Batin Rey polos. Rey sepertinya tidak sadar jika mulut beracunnya telah menyakiti perasaan Yui.
“Ibu apa ada cermin?”
Ibu Rey bingung, mengapa putranya ini menanyakan cermin? Apa putranya itu ingin menenangkan Yui dengan memberikan sebuah cermin?.
“Ini” Ibu Rey menyerahkan cermin kecil yang ada di ruang tamu kepada putranya.
Rey dengan segera mengambil cermin itu, lalu segera berkaca.
“Lah, padahal wajahku tampan begini, memang wajah tampan bisa membuat orang menangis ya?” Ucap Rey pelan tetapi dapat terdengar jelas di telinga Yui dan ibunya.
Ibu Rey geram melihat putranya yang malah bercanda di saat Yui sedang menangis, ia tidak habis pikir, mengapa anaknya ini tiba-tiba bertingkah aneh sejak tangannya patah 2 hari yang lalu. Sedangkan Yui yang melihat Rey yang sepertinya memang tidak peduli dengannya segera berpamitan untuk pulang.
“Ibu, Yui pulang dulu, masih ada kepentingan soalnya” Ucap Yui yang langsung beranjak pergi, perasaannya saat ini antara marah, sedih dan kecewa melihat Rey yang tidak mempedulikannya.
Ibu Rey tidak tahu harus apa, jadi dia membiarkan Yui pergi, mungkin Yui ingin menenangkan diri. Sedangkan Rey menjadi kalang kabut, ia tidak bisa membiarkan Yui pulang ke Sektenya, bisa-bisa ia terkena tamparan lagi.
“Gawat, ibu aku menyusul Yui dulu..” Rey langsung bergegas menyusul Yui tanpa mempedulikan jawaban ibunya terlebih dahulu.
Ibu Rey tentu bingung mengenai Putranya dan Yui itu.
“Apa jangan-jangan mereka mempunyai hubungan?! Tapi bagaimana bisa Rey memiliki wanita secantik Yui? Apalagi Yui itu sangat dewasa… Ah, ibu bangga kepadamu nak, semoga saja kau tidak melepaskan wanita secantik itu” Gumam Ibu Rey sambil tersenyum, dia tentu sangat bangga melihat putranya yang bahkan belum bisa disebut dewasa ternyata mampu menarik perhatian wanita dewasa secantik Yui.
**
Yui ternyata kini sedang menangis di tempat sepi tidak jauh dari rumah Rey, ia tidak tahu mengapa hanya karena Rey berkata ketus kepadanya membuat hatinya sakit.
“Hiks…hiks”
__ADS_1
Rey mendengar suara isakan tangis Yui dari arah kanan, dia melihat ke kanannya yang ternyata hanyalah sebuah jalanan sepi yang hanya dipenuhi pepohonan dan bangunan-bangunan rusak tak berpenghuni, tanpa pikir panjang dia segera berlari ke arah jalanan sepi tersebut.
“Dimana dia?” Rey berhenti karena suara tangisan Yui. Ia menengok kesana-kemari namun nihil, tempat itu benar-benar sangat sepi.
“Ck, dimana dia?”
Saat Rey sedang berfikir, tiba-tiba saja ada sesuatu yang menetes di pipinya, dia menengok ke atas, dan betapa terkejutnya dirinya melihat Yui yang sedang menangis di atas pohon.
“Yui, bisa kau turun, ayolah jangan menangis di atas pohon, pahamu kelihatan dari bawah” Ucap Rey yang kini hidungnya mengeluarkan darah karena melihat sesuatu yang WOW.
Yui yang mendengar itu segera melompat ke bawah, tangannya dengan cepat menampar Rey karena berani melihat bagian bawahnya. Sedangkan Rey dengan sigap menangkis tamparan yang dilayangkan kearah wajahnya, namun…
[Plakkkk]
“Hiks…hiks… maaf…”
Rey tersentak karena Yui ternyata tidak menampar wajahnya melainkan memegang tangannya dengan erat sambil menangis. Dia tidak tahu entah mengapa ucapan maaf dari Yui membuat dirinya sedikit merasakan perasaan aneh yang berkebalikan dengan rasa sukanya.
“Perasaan apalagi ini?” Batin Rey yang kini merasakan sakit di dadanya, dia tidak tahu perasaan apa ini.
Rey tidak mengerti apa kesedihan karena memang dia hidup menyendiri selama hidupnya, tidak pernah memiliki hubungan apapun, bahkan kadang-kadang dia sampai berbicara dengan tangannya sendiri seperti orang gila.
Tangan Rey dengan pelan menggusap pelan kepala Yui walaupun sedikit berjinjit karena tinggi tubuhnya hanya sebahu dari Yui. Sedangkan Yui yang kepalanya diusap lembut oleh Rey tersentak, tapi entah mengapa usapan lembut tangan Rey di kepalanya membuat hatinya seketika tenang.
Rey yang melihat Yui berhenti menangis segera menarik tangannya kembali.
“Unn..” Yui hanya mengangguk pelan sambil menunduk, wajahnya memerah karena mendapat perlakuan romantis tadi, meskipun yang melakukan itu masihlah bocah.
Mereka sejenak saling pandang, Yui memandang Rey dengan lembut, Rey juga demikian, hanya saja Rey menatap Yui karena heran.
“Mengapa dia melihatku terus sih? Apa dia sudah tidak sayang dengan matanya?” Batin Rey.
“Apa kau memiliki sesuatu yang dapat memperkuat fisik dengan cepat?” Tanya Rey di tengah-tegah keheningan.
Yui yang masih memandangi Rey tersentak, untung saja dia tidak melakukan hal yang memalukan tadi.
“Ada, tapi kau harus menemaniku terlebih dahulu berjalan-jalan”
Rey tentu saja langsung menyetujuinya, hanya berjalan-jalan saja dapat sesuatu yang bagus? Hanya orang gila saja yang menolaknya.
“Tentu, kemana kau akan pergi? Gunung? Hutan atau lembah?” Tanya Rey dengan antusias.
“Tidak, kau hanya perlu menemaniku jalan-jalan di sekitar sini saja”
Rey yang mendengar itu terkejut, ia berpikir bahwa Yui memiliki tujuan yang jauh seperti gunung atau lembah, tapi ternyata hanya di sekitar sini saja, betapa mudahnya pikirnya.
Yui mengajak Rey ke berbagai tempat, mulai dari toko baju, aksesoris, sampai ke toko perhiasan. Rey sepertinya menyesal menemani Yui, sudah capek dapat hinaan sampah pula dari orang-orang yang di temuinya.
[Kruyukkk]
__ADS_1
Bunyi perut Rey keras, karena terakhir dia makan sekitar 2 hari yang lalu, itupun hanya makan pagi di rumanya.
“Yui, aku lapar, bisa kau beli makanan itu?” Tunjuk Rey ke salah satu pedagang makanan di jalan.
Yui terentak, ia sampai lupa dengan Rey.
“Baiklah, ayo”
Setelah sampai ternyata pedagang tersebut menjual daging siluman kelinci tingkat 1 yang di tusuk seperti sate. Rey langsung membeli 5 sekaligus tanpa berpikir tentang dirinya yang tidak punya uang sama sekali.
“Yui, kau bayarlah cepat, anggap saja ini sedekah untukku” Ucap Rey tidak tahu malu.
Semua orang disana memandang Rey dengan tatapan menghina, meminta seorang perempuan untuk membayar makanan yang kau beli? Sangat tidak tahu malu pikir mereka, apalagi perempuan itu sangatlah cantik seperti Yui.
Yui nampaknya tidak mempermasalahkan hal itu, ia segera membayarnya, lalu segera menyusul Rey yang sedang makan di pojokan seperti orang sinting.
“Ah, ini sangat enak”
Saat Rey sedang makan tiba-tiba saja ada seseorang yang sengaja menyenggol dirinya hingga makanannya yang ia makan jatuh ke tanah. Rey yang melihat makanannya tumpah tidak bisa menyembunyikan amarahnya lagi.
“Mode senggol bacok… On!” Gumam Rey yang kini menyeringai seperti psikopat.
Rey melihat orang yang sengaja menyenggolnya ternyata kini sedang mendekati Yui, dengan segera ia berjalan menuju pedagang tadi untuk meminjam pisau yang digunakan untuk memotong daging oleh pedagang tersebut.
“Hei kau, bisa kau pinjamkan terlebih dahulu pisaumu itu?” Ucap Rey yang kini matanya menghitam.
Pedagang tersebut tentu ketakutan melihat mata Rey yang berubah menjadi hitam, bukan hanya pedagang itu saja yang ketakutan, bahkan semua orang disana kini lari karena merasakan aura mengerikan yang keluar dari tubuh Rey.
“Apa kau merasakannya juga?!”
“Iya, bocah itu memiliki aura yang sangat mengerikan, bahkan dari jarak sejauh ini saja aura mengerikan yang dikeluarkan bocah itu masih bisa kurasakan”
“Aku tadi melihat orang itu sengaja menyenggol bocah itu sampai makanannya tumpah, kurasa karena itu dia marah”
“Hanya karena marah dia sampai membawa pisau?! Apa dia berniat membunuh pemuda itu?!”
"Pisau? Itu golok idiot!"
Semua orang disana menyingkir sejauh mungkin karena tidak kuat menahan aura mengerikan yang keluar dari tubuh Rey. Mereka hanya bisa melihat apa yang akan di lakukan oleh bocah berwarna putih itu yang kini membawa sebuah pisau yang lumayan besar.
Rey dengan brutal langsung melemparkan pisau besar yang tengah digenggamnya kearah pemuda yang menyenggolnya tadi.
[Slebbbbb]
“Arrrrrrrrrrrrghhhhhhhhhhhh” Pemuda tersebut berteriak sangat keras sampai membuat semua orang disana terkejut, bahkan Yui sampai melompat kebelakang sangking terkejutnya.
“Ck, kok meleset sih, seharusnya kan tadi kena kepalanya, kenapa malah kena bokongnya” Gumam Rey sambil mendekat kearah Yui dan pemuda tersebut.
Tentu saja Rey tidak puas karena pisau yang ia lemparkan malah terkena bokong pemuda itu. ia sudah memastikan akan membelah kepala pemuda yang telah membuat makanannya jatuh, bukan hanya kepalanya saja tapi seluruh tubuhnya juga akan ia belah.
__ADS_1